Milenial Yang Terbuang

Monitoring CPNS di Kabupaten Sleman

Eeeemmmmm….lanjutin ga yaahh…..

Lanjut..enggak..lanjut..enggak..lanjut..enggak..langgak…..

Jika dilanjutkan, ini hanya akan menyakiti diri saya sendiri.
Kurang kerjaan bener hari gini masih menyakiti diri sendiri.
Masokhis beud sih..nyet.

Tapi kalau ga dilanjut, kok ya ini akan terus menerus menjadi sampah dalam pikiran, hati, dan perbuatan.

Hhmmm….

Dulu, sekira sepuluh tahun lalu, ketika anak-anak kecil tak lagi mengenal mainan dan permainan yang biasa saya mainkan sewaktu kecil, rasanya saya seperti menjadi manusia paling beruntung di dunia.

Mungkin juga anda? Yang seusia saya? Yang mulai beranjak tua, yang tak asing dengan adu kelereng, tos gambar, congklak, jamuran (ketika malam bulan purnama dan manusia serigala mulai keluar dari sarangnya), petak umpet, mencari ikan di sungai menggunakan kaos, mandi di sungai-sungai yang masih bersih dan ketika pulang mendapati ibu yang berwajah menyeramkan, bermain layang-layang di petak sawah yang baru saja dipanen, dan banyak, banyak, banyak lagi lainnya.

Rasanya saya beruntung pernah mengalami itu semua. Dan kemudian sedikit terbersit rasa kasihan pada generasi setelah saya (yang lahir tahun 2000an lah). Rasanya kok kasihan ketika melihat mereka tak lagi karib dengan sungai-sungai, atau tak lagi mendapati sawah yang bisa digunakan untuk bermain layang-layang.

Hingga kemudian saya merasa semakin beruntung terlahir pada era 80an, yang kemudian banyak disebut sebagai generasi milenial. Awalnya saya juga tidak paham dengan apa itu generasi milenial. Tetapi setelah beberapa kali membaca artikel koran media daring, saya menjadi sedikit paham dengan apa itu generasi milenial. Sejauh yang saya pahami dari minimalnya pemahaman saya itu, generasi milenial adalah generasi yang lahir di rentang waktu 80an sampai dengan 90an. Udah, segitu saja yang dapat saya pahami.

Selanjutnya, banyak artikel mengemukakan suatu pendapat bahwa generasi milenial adalah penyangga peradaban dalam beberapa tahun ke depan. Anggap saja ketika generasi Luhut tua saat ini sudah semakin menuju senja untuk tenggelam, maka generasi milenial ini yang akan menggantikan. Yaa semacam Belva Devara atau Andi Taufan.

Inilah yang pada paragraf awal saya nyatakan : ini akan menyakiti diri saya sendiri.

Begitulah, ketika melihat Belva atau Andi yang dalam usia mereka sudah bisa duduk sebagai staf khusus (stafsus) presiden, sebagai stafsus milenial, saya kok merasa minder. Mereka adalah milenial kuadrat. Dengan rentang usia sekaligus jabatan mereka. Bukan main. Sementara kesampingkan polemik proyek dana kartu pra kerja yang berafiliasi dengan perusahaan Belva yang berpusat di Singapura, juga kesampingkan surat cinta untuk starla Andi untuk sebagian camat-camat di Indonesia (tidak semua camat beruntung mendapat surat cinta dari Andi). Kesampingkan itu, dan kita berbicara mengenai pencapaian-pencapaian. Melihat pencapaian mereka, saya kemudian semakin merasa hanya setara dengan klepretan bumbu lotek.

Sebagai orang yang pada awalnya merasa beruntung terlahir sebagai generasi milenial, saya kemudian harus rela melakukan revisi terhadap rasa ‘keberuntungan’ itu. Benarkah saya beruntung?

Jika acuan yang digunakan adalah sejarah, peristiwa masa lalu, maka mungkin saya memang masuk dalam kategori beruntung. Namun jika kemudian acuan yang digunakan adalah masa mendatang, apakah saya masih masuk dalam kategori beruntung?

Sebagai bagian generasi muda menjelang tua yang digadang-gadang akan menerima estafet kepemimpinan peradaban ini, rasa-rasanya kok saya ini tak ada pantas-pantasnya. Jangankan pantas, saya rasa generasi tua yang kelak harus menyerahkan tongkat estafet itu, juga takkan sudi memberikannya pada saya. Beuh…

Mau bagaimana lagi, tak ada modal ‘milenial’ yang melekat dalam diri saya. Katanya, milenial itu menguasai teknologi. Katanya lagi, milenial itu berwirausaha menciptakan lapangan kerja. Katanya lagi, milenial itu pintar nggambleh melakukan lobi-lobi….

Dari hanya tiga yang katanya itu saja, saya tak masuk dalam satu diantaranya. Padahal, masih banyak lagi ‘katanya’ yang mendefinisikan mengenai ciri-ciri generasi milenial. Jangan-jangan, saya ini adalah stok generasi pasca perang dunia pertama, yang kemudian dilahirkan pada tahun 80an karena saat itu sedang menunggu antrian. Saya kalah antrian dengan Pramoedya Ananta Toer, Sayuti Melik, Jenderal Soedirman, Jenderal MT Haryono, dan bahkan harus mengalah antri lahir belakangan daripada Pak Tuwo kakek saya.

Karena apa?

Karena saya sama sekali tidak menguasai teknologi.
Jangankan teknologi, selama lima belas tahun mengenal komputer, saya hanya bisa sebatas mengetik. Tak lebih.

Saya juga sama sekali tidak bisa berwirausaha.
Jualan baju secara online atau daring sudah kandas ditengah jalan bahkan sebelum satu kancing baju pun laku. Usaha rental PS bahkan harus gulung tikar sebelum genap enam bulan. Berjualan mie ayam baru sebatas rencana dan angan-angan. Jangankan kemudian membuka lapangan kerja, bahkan saya tak bisa mempertahankan atau memulai usaha dalam skala amat sangat mikro yang dikelola sendiri tanpa karyawan.

Apalagi yang ini, saya tak bisa melakukan lobi-lobi.
Jangankan melobi camat-camat untuk melakukan kerjasama dengan usaha dalam bentuk perseroan terbatas yang dimiliki, bahkan melobi ketua RT untuk sementara meniadakan kerja bakti demi mencegah kerumunan banyak orang pun saya tak mampu.

Begitulah, baru sampai disini, sudah terasa menyakitkan.

Terasa ada jarak yang nyata dan gamblang, antara usia saya sebagai milenial, dan pencapaian yang sudah saya lakukan. Terasa bahwa saya hanya menjadi milenial, tak lebih karena usia dan tahun lahir saja. Lebih dari itu, tak ada.

Terkadang, terbersit rasa iri ketika banyak kawan atau teman yang sudah banyak melakukan pencapaian-pencapaian. Banyak kawan yang menjadi PNS seperti saya, sudah mencapai atau menduduki jabatan tertentu. Kalau tidak jabatan struktural, ya jabatan fungsional. Keren lah pokoknya. Belum lagi kawan-kawan yang mempunyai usaha, membuka lapangan kerja, dan atau kawan dengan beragam macam profesi keren lainnya. Lha saya….

Selama lima belas tahun terakhir, tak ada lain yang saya lakukan sebatas hanya menyuntuki komputer atau laptop, untuk mengetik, mengetik, dan terus mengetik sampai detik ini.

Rasa-rasanya kok, sebenarnya saya ini memang bukan milenial. Jangan-jangan harusnya saya ini lahir sejaman dengan Hitler, Stalin, atau bahkan Pangeran Diponegoro.

Tak ada andil saya sebagai generasi milenial, selain hanya pada bagian dari bonus demografi. Dinggo kebak-kebak thok. Untuk banyak-banyak penggenap saja.

Maka tak berlebihan jika pada banyak waktu dan kesempatan, saya selalu merasa sebagai milenial yang terbuang.

Ok, fix. Saya saja yang merasa begitu, jangan juga dengan anda. Jangan.
Kenapa?

Karena tempat pembuangan akhir sampah sudah hampir penuh dimana-mana. Kalau cuma tambah untuk membuang saya rasanya masih muat, tetapi kalau membuang yang terbuang secara berjamaah, nanti kan repot….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *