Miskin Atau Kaya, Soal Nasib

Miskin atau kaya, itu perkara nasib. Bukan perkara ulet, mental pengusaha, tak mudah menyerah, gigih, maju terus pantang mundur, atau apapun itu terserah.

Miskin atau kaya yang dimaksud, tentu saja miskin dan kaya harta. Kalau perkara hati, miskin atau kaya, pada jaman sekarang ini hanya sekadar menjadi utopia.

Percaya saja, toh ketika ditanya apakah lebih memilih banyak uang atau banyak teman, akan lebih banyak manusia menjawab memilih banyak uang.
Akui saja, ndak usah malu-malu.

Dengan banyak uang, nantinya akan banyak teman dengan sendirinya.
Kalau banyak uang, dalam bayangan, akan sudah sakit kepala nantinya apakah akan berlanjut dengan banyak uang atau tidak.

Tetapi sekali lagi, kaya atau miskin itu, perkara nasib.

Co-founder Gojek, lebih banyak karena ia bernasib baik, kalau sampai sekarang pada akhirnya dia kaya raya.
Tak percaya?
Sampai saat ini, kendaraan roda dua secara aturan tidak boleh digunakan sebagai angkutan umum. Tetapi nyatanya, Go Ride masih tetap beroperasi, dan mendatangkan banyak modal serta keuntungan.

Itu adalah nasib.

Seberapapun Nadiem berusaha, kalau nasib tak berpihak, ya pasti Gojek takkan sebesar seperti saat ini.

Pun banyak orang, dengan usaha dan kegigihan maksimal serta optimal untuk menjadi pengusaha. Tetapi karena nasib tak berpihak, mereka tak kunjung kaya, bahkan beberapa meninggalkan jejak hutang yang tak sedikit jumlahnya.

Ingin menjadi kaya, bukan suatu bentuk keserakahan. Wajar saja.
Begitu juga ketika tetap menjadi miskin, bukan lantas itu adalah perkara memalukan.

Senyatanya, bahwa keduanya berkelindan dalam rumus nasib yang takkan bisa diketahui asal muasalnya.

Menjadi anak keturunan Bakrie, sudah tentu nasibnya adalah menjadi kaya. Tanpa perlu banyak bergerak dan berusaha. Terima jadi, teruskan, kembangkan.

Berbeda dengan banyak orang lain yang harus berdarah-darah ingin mempunyai usaha, tetapi hasilnya justru utang yang menumpuk dimana-mana.

Mengejar kekayaan hampir seperti mengejar ujung pelangi. Kalau tak bernasib baik, ya hanya menjadi mimpi yang tak terbeli.

Menempatkan perihal kaya atau miskin semata adalah perkara nasib, adalah hal paling menenangkan sekaligus tak menimbulkan gejolak kejiwaan dalam proses jatuh bangun menempuhnya. Tak selalu usaha keras dan pantang menyerah harus bertemu dengan keberhasilan seperti apa yang diharapkan.

Perkara hasil takkan mengkhianati usaha, itu tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Kadang hasil yang didapat, tak harus sesuai harap.
Perihal takkan adanya pengkhinatan atas usaha yang sudah dilakukan itu, terkadang mewujud dalam hal lain.
Pengalaman, misalnya.

Tetapi pengalaman bukanlah tujuan bagi orang-orang yang mengejar kekayaan. Terkadang bahwa mereka menutup mata, bahwa pengalaman tersebut, adalah kekayaan dalam bentuk lain yang tak mesti harta.

Tetapi sekali lagi, kekayaan yang mewujud dalam harta benda adalah tujuan utama.
Maka mendapat pengalaman bukan suatu hal yang sepatutnya dirayakan, atau disyukuri.

Jika kaya adalah perkara yang bisa diusahakan, tentu takkan ada orang miskin.

Tunggu dulu bung, miskin adalah mentalitas, dan ketiadaan usaha untuk mencapai dan menuju target-target dalam hidupnya.

Iya po?
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sepanjang hidupnya sudah berusaha untuk kaya, berangkat dari nol, dari bawah garis umum kemiskinan, tetapi nasib tak juga mengangkat atau mengantarnya menjadi kaya?

Mana ada orang yang terus menerus ingin miskin, meski terlahir dari keluarga miskin?
Ya tidak ada.

Mentalitas manusia adalah ingin menjadi kaya raya, banyak harta, bergelimang uang.

Perkara nasib bawaan atau nasib secara struktural adalah hal-hal yang membatasi. Biasanya, orang dengan nasib bawaan miskin, maka nasib strukturalnya juga membatasi untuk bisa merengkuh kejayaan serta kekayaan.

Celakanya, jaman bergerak dan berkembang untuk semakin meneguhkan hal tersebut.

Maka ada anekdot :
“Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.”

Itu bukan isapan jempol belaka. Tetapi kenyataan yang ada pada kehidupan saat ini.

Kekayaan berupa uang dan harta hanya bisa diakses oleh segelintir orang, yang secara nasib struktural sudah berada di atas. Mudah dalam menjangkau peluang-peluang untuk menjadi kaya raya.

Menjangkau puncak gunung akan lebih mudah dicapai oleh orang-orang yang tinggal di sekitar kaki gunung, dan bukan oleh orang-orang di tepi pantai. Begitu sebaliknya, menuju tengah laut akan mudah dicapai oleh orang-orang yang hidup di tepinya, bukan oleh orang-orang yang hidup jauh di pegunungan.
Seperti itu perumpamaannya, semisalnya.

Ketika menjadi kaya ataukah miskin adalah perkara nasib, maka yang kemudian harus dilakukan adalah, meluaskan pikiran dan sudut pandang :
“Kekayaan atau kemiskinan bukan suatu hal yang pantas dirayakan atau diratapi secara berlebihan.”

Mengubah sudut pandang bahwa tak selamanya kekayaan atau kemiskinan itu berkait erat dengan uang serta harta benda, juga harus segera dilakukan.

Semata agar tak muncul gegar jiwa ketika si miskin tak pernah beranjak kaya meski sudah banyak berusaha.
Atau ketika si kaya tiba-tiba jatuh miskin gegara suatu sebab yang tak dimengertinya.

Karena kaya atau miskin dalam harta benda memang sulit di mengerti. Perkaranya adalah nasib. Dan nasib bukan perkara yang 100% persen saham keberhasilan atau penentuan hasilnya berada dalam genggaman manusia.

Menjadi miskin harta tak selamanya memalukan,
sebagaimana kaya harta juga tak selamanya membanggakan.

Menerima adalah sikap paling terhormat, tentu menerima dengan penuh tanggungjawab serta kesadaran, atas hidup yang sudah Tuhan berikan.

Oh iya, perkara nasib adalah kehendak Tuhan.
Silahkan kirim kritik atau saran melalui kartu pos ke alamat : PO BOX Tuhan
Untuk bertanya atau menyampaikan uneg-uneg perihal kaya atau miskinnya kita, dalam perkara harta benda.

Kalau sudah dijawab, jangan lupa syukurannya….

Latest posts by Gareng (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.