Moderasi

Dalam beberapa waktu terakhir kata moderasi menjadi sedemikian karib dengan mata dan telinga saya. Entah melalui tulisan ataupun lisan-lisan. Moderasi menjadi sedemikian seksi…

Dari tinjauan kata [KBBI] : pengurangan kekerasan ; penghindaran keekstreman.

Berarti kalau ditinjau dari arti kata, moderasi adalah kata kerja. Suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, apa yang sering saya lihat dan dengar adalah kata moderasi disambungkan dengan kata beragama. Jadilah Moderasi Beragama.

Moderasi Beragama adalah…

Saya tidak akan menjabarkan artinya kata per kata. Tentu saja baru sampai disini, akan ada banyak penafsiran dan tentu saja benturan dalam mengartikannya.

Saya lebih tertarik untuk mengeluarkan sampah pikiran mengenai moderasi beragama, dari sudut pandang filologi, utamanya sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Tentu saja harus Indonesia, karena di Arab Saudi sana, atau Korea Utara, tidak ada moderasi beragama.

Pertama [menurut saya], setiap umat pemeluk suatu agama harus mengimani dan mengimplementasikan imannya secara ekstrem. Lhah lhah lhah, kok malah ekstrem.
Tentu saja, ekstrem untuk dirinya sendiri.
Ia harus beriman sedemikian rupa sampai jauh ke dalam tulang dan jaringan syaraf serta pikiran, bahwa imannya tak akan goyah oleh karena sebab apapun.

Ini penting. Jangan sampai seorang pemeluk agama tidak beriman terhadap agamanya sampai ke dalam tulang. Sebabnya nanti akan terjawab pada paragraf-paragraf setelahnya.

Kedua [masih menurut saya], kehidupan beragama di Indonesia sangat beragam. Beragam dari banyaknya agama dan aliran kepercayaan, sampai pada banyaknya jenis peribadatan. Jauh lebih banyak daripada varian soto yang ada dan dikenal di Indonesia. Coba anda cek kalau tidak percaya. Hitung ada berapa jumlah agama, aliran-alirannya, kepercayaan-kepercayaan, jenis peribadatan, dan kemudian hitung ada berapa varian soto di Indonesia. Silahkan hitung banyak yang mana.

Dengan banyak dan beragamnya agama dan kehidupan beragama tersebut, maka menjadi suatu keniscayaan akan adanya moderasi. Kenapa? Karena tidak ada satu orang pun yang sebenarnya menginginkan konflik dan peperangan. Tanpa moderasi, potensi konflik akan menjadi terbuka lebar. Apalagi konflik perihal agama, yang di seantero benua Asia menjadi sumber utama terjadinya konflik.

Ketiga [lagi-lagi menurut saya], Indonesia tidak dibangun hanya oleh umat satu agama tertentu. Indonesia merdeka dan dibangun oleh banyak umat dari berbagai pemeluk agama. Jika ada mayoritas pemeluk agama tertentu dalam proses tersebut, itu adalah kewajaran. Maka disitulah perlunya moderasi. Tentang bagaimana agar mayoritas tidak merasa paling berjasa, dan minoritas tidak kehilangan asa untuk tetap menjaga.

Potensi konflik akan muncul ketika mayoritas merasa paling berjasa dalam proses tersebut, dan minoritas mulai enggan untuk turut menjaga keberagaman serta juga kerukunan.

Kesemua poin diatas menjadi saling berkelindan, ketika dihadapkan pada kenyataan mengenai kerukunan. Cek dari suatu contoh kasus :

“Si A yang beragama Alpha, enggan bergaul dengan si B yang beragama Beta. Padahal keduanya tinggal dalam suatu lingkungan yang sama. Si A menganggap bahwa bergaul dengan B yang berbeda agama dengannya, akan membuat imannya luntur karena pengaruh dari si B. Ternyata, si B juga memiliki pemikiran dan perasaan serupa dengan si A. Si B enggan bergaul dengan si A karena takut imannya akan goyah jika banyak berinteraksi dengan si A.”

Apakah anda pernah menemui contoh kasus seperti diatas. Enggan saling bergaul dan berinteraksi antar pemeluk agama karena ketakutan bahwa iman dan akidahnya akan goyah? Jangankan antar agama. Antar pemeluk agama yang sama namun hanya berbeda aliran dan organisasi keagamaan saja sering menimbulkan prasangka dan kehawatiran perihal goyahnya keimanan. Padahal keberagaman dan kemajemukan adalah keniscayaan bagi warga masyarakat bangsa Indonesia.

Poin Kesatu yang saya tuliskan menjadi jawabannya.

Setiap orang sudahlah harus selesai dengan dirinya sendiri, perihal keimanan akan ajaran agamanya. Tak mudah goyah dan harusnya tak bisa goyah dan apalagi patah oleh sebab apapun. Ibarat pepatah ; Emas tetaplah emas meski berada dalam kubangan lumpur.

Emas takkan menjadi lumpur. Lumpur takkan bisa menodai emas.

Jika masing-masing umat pemeluk agama sudah selesai dengan keimanannya, maka tidak akan ada kekhawatiran perihal ia akan terpengaruh ketika bergaul dan berinteraksi dengan umat pemeluk agama yang lain. Apakah logis MISALNYA ketika saya mengantarkan seorang teman ke gereja untuk beribadah padahal saya seorang penganut Islam. Apakah lantas saya akan mudah berubah menjadi seorang Katolik atau Kristen hanya karena mengantarkan teman saya ke gereja.
Apakah lantas juga teman saya otomatis menjadi Islam karena dia sering mendengarkan kumandang adzan yang saya lantunkan?

Begitu rapuh dan ringkihnya keimanan kita jika mudah terpengaruh oleh hal dan kejadian semacam itu.

Maka seperti yang saya sampaikan, seseorang harus ekstrem dalam beragama, untuk dan kepada dirinya sendiri. Sehingga hatinya takkan goyah. Sehingga apa yang nampak dan ditampilkannya dalam pergaulan kemasyarakatan adalah tentang keindahan serta kebersamaan.

Ketika ia sudah kuat iman dalam dirinya, maka takkan ada kecurigaan terhadap umat pemeluk agama lain. Curiga terhadap sikap dan perbuatan umat agama lain. Curiga bahwa umat agama lain sedang melaksanakan misi penyebarluasan agama, bahwa sedang ada niatan ‘Gospel’ dalam tindakan umat agama lain.

Sini saya beri tahu :

“Ketika ada orang lain mengatakan bahwa seekor sapi adalah kambing, apakah anda akan langsung berpindah keyakinan bahwa seekor sapi itu memanglah kambing?”

Tidak kan?
Sesederhana itu sebenarnya dalam moderasi beragama. Biarkan orang lain dengan keyakinannya, kita dengan keyakinan kita sendiri. Setelah itu adalah duduk bercanda bersama, sembari menikmati teh atau kopi.

…bersambung….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *