Momen Langka

Hari ini sebenarnya saya tak ingin menulis. Bukannya tak ingin, tapi tidak mempunyai bahan. Sebenarnya saya ingin setiap hari menulis dan mengunggahnya di blog ini [seperti dulu]. Tetapi apa daya, ternyata energi menulis saya memang sangat terbatas.

Tetapi pagi ini, sembari memilah dan memilih foto kegiatan rakor kediklatan tempo hari, saya teringat satu hal, bahwa ada momen langka hari ini. Momen yang hanya dalam jangka waktu tertentu dapat terulang kembali. Itupun jika mempunyai umur panjang. Yaa, tanggal 29 Februari yang tersemat di kalender hari ini, adalah salah satu momen langka. Hanya terjadi setiap empat tahun sekali. Hari ini kita masih bisa menghirup udara pada tanggal 29 Februari 2020, tetapi entah empat tahun lagi. Benar apa betul? Kebenaran atau kebetulan?

Banyak momen langka yang sebenarnya terjadi, kita alami, tetapi kita —saya saja—, tidak menyadarinya. Kita baru akan menyadarinya setelah sekian waktu berlalu, dan tersadar bahwa itu adalah momen langka. Teramat langka karena kita takkan mampu mengulangnya lagi sampai kapanpun. Mungkin kita bisa mengulang pola dan caranya, tetapi momen, waktu, kita harus menyerah padanya karena tidak dapat mengulangnya.

Seperti foto yang saya jadikan gambar utama diatas. Itu adalah momen yang terjadi ketika adik bungsu saya belum genap berusia empat tahun. Mungkin saya bisa mengulang berfoto berdua semacam itu dengannya. Tetapi tentu saja dia sudah tak sekecil itu. Adik bungsu saya sudah jauh lebih besar dari saya saat ini. Pun sudah tak lagi anak-anak yang terkadang bisa saya jewer ketika membandel. Momen itu dalam sekian tahun belakangan ini, begitu mengganggu saya. Bahwa ternyata banyak kejadian yang terjadi dalam waktu-waktu lampau, takkan bisa terulang lagi dalam waktu sekarang apalagi di masa mendatang.

Mungkin bukan hanya saya yang menyadari dan mengalaminya, namun juga anda, kita semua. Kita baru tersadar bahwa banyak momen langka terjadi dalam setiap jengkal kehidupan kita. Dalam setiap helai tarikan nafas kita, dan kita seringkali tidak menyadarinya.

Kita baru tersadar setelah tersadar oleh momentum-momentum lain yang hampir terlihat serupa. Seperti saya yang baru saja tersadar dan terbentur, ketika menyadari bahwa adik bungsu saya itu kini berusia enam belas tahun. Enam belas tahun, dan saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Tersadar oleh kenyataan bahwa saya kurang bisa memanfaatkan momentum tersebut. Saya kurang bisa menemani dan menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya.

Itu adalah adik bungsu saya. Belum lagi adik pertama saya yang kini ada di Kalimantan Timur. Kini, sekadar untuk mengobrol dengannya saja sangat sulit. Padahal, dulu hampir setiap hari saya menghabiskan waktu hanya berdua dengan adik pertama saya itu, ketika adik bungsu saya belum lahir. Hampir setiap hari saya bermain dan menghabiskan waktu dengannya. Entah dengan bermain Play Station, atau pergi selema beberapa hari ke Semarang tanpa berpamitan pada Mamak dan Bapak, hahaha…

Ternyata bahkan sekadar duduk dan mengobrol atau bermain Play Station saja bisa menjadi momen langka. Momen yang takkan bisa terulang lagi. Kini kami sudah terpisah bukan lagi oleh sekadar jarak dan waktu, tetapi juga ruang dan dimensi kompleks yang tak mampu kami lompati. Dalam beberapa bulan, kami hanya bisa bertemu sesekali saja.

Ah ya, ini bukan melankolia atau melodrama.

Saya hanya menyampaikan, mungkin ada diantara anda yang merasakan hal sama seperti saya?

Lantas, apa yang kemudian akan kita lakukan agar mulai saat ini, berbagai kejadian dan momentum itu bisa terbingkai dengan lebih baik?
Bisa menjadi semacam momen yang terlewati tanpa harus disesali?
Bisa kita jalani dengan kesadaran penuh sampai pada detail tiap kejadian?

Mungkin memang kita akan dan sudah menyadari, bahwa setiap kejadian yang kita lewati adalah momen langka yang takkan bisa terulang. Tetapi kita bingung dengan bagaimana cara agar momen itu tak hanya terlewat begitu saja dan menimbulkan percik penyesalan dalam waktu mendatang.

Ah ya, entahlah. Sudah saja.

Saya kan sebenarnya tak berniat menulis pagi ini. Saya hanya ingin blog ini mempunyai arsip tulisan pada tanggal 29 Februari. Itu saja.

Sudah, selamat pagi, selamat berakhir pekan, selamat beraktifitas, selamat….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *