Monitoring CPNS 2019

Rejeki nomplok. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan surat tugas untuk melakukan monitoring Pendidikan dan Pelatihan Dasar CPNS tahun 2019.

Rejeki nomplok karena dari area provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY], saya mendapatkan dua kali jadwal ke DIY. Tepatnya di Kabupaten Sleman, asal muasal saya [tempat kelahiran maksudnya].

Padahal saya juga tidak meminta untuk ditugaskan kesana. Untuk hal-hal semacam itu, saya tak pernah meminta. Manut saja terhadap atasan. Eeeee tapi kalau rejeki memang takkan kemana.

CPNS Kemenag Tahun 2019

Saya melakukan monitoring pada peserta Latsar yang menerima SK CPNS pada tahun 2019. Mereka adalah pendaftar yang diterima CPNS pada tahun 2018.

Sebagian dari mereka adalah kawan-kawan yang pernah saya tuliskan ketika mengikuti Diklatsar CPNS tahun 2019.

Kawan-kawan yang saya monitoring itu kesemuanya guru dan dosen. Lima dosen dan dua guru.

Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan guru MTsN 5 Sleman serta MTsN 4 Sleman.

Mereka anak-anak muda, dengan usia jauh dibawah saya, dan (sepertinya) masih bersemangat untuk bekerja dan berkarya. Entah kalau gelora semangatnya hanya ketika di depan saya saja, bwahahaha.

CPNS pulang kampung

Saya sendiri sebenarnya adalah CPNS dari Kementerian Agama Kabupaten Sleman, pada tahun 2005. Dan baru pada tahun 2019 ini saja pindah tugas ke Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Banyak yang kemudian berseliweran di dalam hati dan pikiran saya, ketika pada akhirnya harus ‘kembali’, dengan misi yang berbeda.

Jika dalam waktu terdahulu, berkunjung ke Kemenag Kabupaten Sleman adalah untuk berkoordinasi, atau menyampaikan laporan, maka tidak untuk kali ini [18/12/2019].

Saya datang untuk melakukan monitoring, dari kantor atau satuan kerja yang katakanlah ‘setara’. Setara dalam garis eselon, juga setara sebagai partner kerja.

Banyak hal kembali terngiang dalam ingatan, ketika menginjakkan kaki (kembali) di Kemenag Kabupaten Sleman.

Saya pernah menjadi bagian di dalamnya selama lebih kurang enam tahun. Setelah sebelumnya menjadi CPNS di madrasah, tujuh tahun mengabdi disana, dan pada tahun 2012 saya ditarik masuk ke kantor kabupaten.

Katakanlah, banyak suka dan duka. Banyak lukisan berwarna, namun juga ada lukisan abstrak monochrome.

Yang paling menyenangkan sebenarnya, bahwa saya masih mempunyai teman-teman yang baik. Teman-teman yang dulu dalam keseharian menjadi kawan dan partner kerja.

Tak ingin kembali

Jika ada pertanyaan apakah saya merindukan Sleman, tentu saja saya rindu. Tetapi jika pertanyaan kemudian lebih mengarah apakah saya merindukan kantor lama saya itu, untuk kembali menjadi bagian di dalamnya, jawaban saya saat ini adalah —tidak—.

Banyak hal sudah terjadi dalam kurun waktu ketika saya berada di dalamnya. Banyak dinamika yang sudah saya alami. Semenjak menjadi CPNS, dan bahkan ketika kemudian sudah menjadi PNS dan ikut mengabdi kepada negara disana.

Dinamika itu tentu saja ikut membangun segala pola pikir dan cara pandang saya terhadap birokrasi, secara keseluruhan.

Maka dalam keseluruhan itu, alam bawah sadar saya (halaahhhh…) menyarankan untuk jangan dulu kembali. Cara terbaik untuk mengenang adalah dengan media jarak. Jarak dalam ruang ataupun waktu. Percayalah.

Miniatur Kementerian

Ketika saya menyampaikan cara pandang terhadap birokrasi secara keseluruhan, itu karena tentu saja kantor di tingkat kabupaten adalah miniatur Kementerian.

Struktur paling bawah yang menjalankan tugas dan fungsi Kementerian Agama.

Dalam sisi positif dan negatif, pergaulan di kantor lama saya itu membangun segala cara pandang dan pola pikir secara keseluruhan terhadap birokrasi. Bagaimana harus bersikap terhadap atasan dan sesama pegawai, dan juga bagaimana seharusnya bekerja.

Segala apa yang ada di Kementerian Agama secara umum dan luas dalam lingkup nasional, saya rasa memang ada dan terjadi di tiap-tiap kantor kabupaten ataupun kota.

Tentu saja termasuk dinamika negatif yang ada di tingkat paling atas. Saya tak akan menyampaikannya disini, tentu anda sudah paham.

Meski tak dapat dipungkiri, lebih banyak hal positif yang saya dapat ketika bergaul dan bekerja di kantor ini.

Mengingat kembali ketika menjadi CPNS

Ingatan saya terus melayang dalam kurun waktu tahun 2004 sampai dengan 2005. Ketika saya mendaftar untuk menjadi CPNS, dan kemudian bisa bekerja karena diterima.

Lingkungan pertama saya dalam bekerja adalah Kementerian Agama Kabupaten Sleman. Masih banyak kawan dan teman saya berada disana. Maka serasa melankolia ketika saya melangkah masuk ke kantor itu, bukan sebagai bagian dari dalamnya.

Bahkan kepada salah satu kawan, ketika sempat kami berbincang, saya katakan bahwa jika dalam suasana semacam ini, saya masih merasa sebagai pegawai disini.

Tak berlebihan rasanya. Saya serasa berada di rumah ketika memasuki kantor itu.

Atau mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Tak ada yang pantas dilebih-lebihkan. Toh saya pindah juga dengan dan mempunyai alasan-alasan tertentu.

Alasan-alasan yang takkan pernah bisa saya kemukakan dalam media apapun, selain media hati dan perasaan.

Ah, mungkin saja memang saya ini terlalu berlebihan. Toh yang terpenting saat ini baik saya sendiri maupun Kemenag Sleman, sudah berjalan dalam koridor yang tepat.

Tepat dalam skala dan ukuran kami masing-masing.

Tentu suatu saat saya akan kembali (lagi). Dalam monitoring yang lain, dan tetap bukan sebagai bagian di dalamnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

29 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *