MTQ PELAJAR ; CATATAN PENGINGAT AKAN KETIDAKMAMPUAN DAN KETERBATASAN

Dalam urusan pekerjaan, saya tidak pernah meminta, apalagi menuntut untuk diberi tanggung jawab perihal pekerjaan A, B, atau C. Tak pernah pula meminta untuk ditempatkan pada instansi X, Y, maupun Z. Saya hanya selalu manut saja. Mungkin karena sikap dan mental saya memang terbentuk hanya sebagai jongos, pesuruh, dan oleh karena itu sekaligus harus menjadi penurut.

Kalaulah saya tak bermental jongos, pesuruh, dan manutan, maka tentu saya tak bersedia ditempatkan di dunia oleh Tuhan Pencipta diri saya. Sudah enak-enak mengetahui segala rahasia alam semesta, berpeluk berdekatan, bersinggungan terus menerus tanpa terhalang dimensi ruang dan waktu dengan Sang Maha, kok mau-maunya diturunkan ke dunia dengan segala resiko dan beban pertanggungjawabannya.
Maka, bisa saya simpulkan bahwa dari asal penciptaan, saya ini sudah manutan. Tak bisa membantah apalagi beradu argumentasi untuk tak usah saja diturunkan ke dunia.

Oleh karena itu ketika sudah berada di dunia, disuruh ini itu oleh-Nya, saya juga manut saja. Meski dengan saham sekian persen kemudian saya diberikan keleluasaan untuk berpikir, tetapi kerangka luas pemikiran saya tetaplah berada dalam koridor bahwa saya ini jongos saja di dunia.

Termasuk beberapa waktu yang lalu, ketika seorang kawan mengirim pesan bahwa saya mendapat undangan rapat untuk ikut berada dalam acara MTQ pelajar tingkat kabupaten, saya juga manut. Saya anggap, bahwa sedikit banyak juga ada campur tangan-Nya dalam kejadian tersebut.
Tak salah, bahwa kemudian saya yakin Dia memang kembali ‘ikut campur‘.

Saya mendapat undangan bukan karena memang sedari awal sudah ter-plot di dalam susunan panitia ataupun dewan hakim (juri). Saya dihubungi untuk menggantikan salah satu anggota dewan hakim dalam cabang lomba Cerdas Cermat Agama (CCA) tingkat Sekolah Dasar (SD) yang ‘kebetulan‘ sedang cuti pada hari H pelaksanaan.

Sebenarnya, seketika itu juga saya menolak. Bukan karena merasa bahwa saya hanya serupa pemain cadangan. Tetapi memang saya merasa tidak mampu untuk ikut berandil dalam acara tersebut sebagai dewan hakim. Apalagi dalam cabang lomba CCA. Saya tahu diri, dan merasa malu untuk menerima ‘pemaksaan‘ tersebut.
Tetapi beberapa kawan yang menjadi panitia, memaksa. Dan selalu, ketika kawan, teman yang meminta, saya selalu sulit untuk menolak dan mengabaikan.
Akhirnya saya terima, dengan rasa gamang yang luar biasa.

Sampai kemarin, saya terus terngiang kalimat seorang teman lain, yang menyangsikan kemampuan saya untuk menjadi juri atau dewan hakim CCA.
“Kamu jadi juri CCA mas? Memangnya bisa? Kayak ga ada orang lain saja.”

Kemudian saya meraih hape, dan menghubungi kawan yang menjadi panitia. Saya sampaikan tentang perasaan gamang, dan merasa tak pantas jika harus tetap berangkat menjadi juri. Seragam akan saya kembalikan. Teman saya menolak, dan tetap menyuruh untuk berangkat dan menjadi juri.
Saya kembali menyerah.
Ketika berangkat tidur, saya kembali terngiang perihal ketidakpantasan menjadi juri. Akhirnya saya tidur dengan penuh keraguan, dan berharap pagi tak segera datang.

Pagi tadi, saya terbangun dengan rasa enggan dan malas yang sangat. Ingin untuk melarikan diri saja, dan tak muncul datang pada tempat perhelatan acara.

Ketika pada akhirnya tetap berangkat, sepeda motor saya pacu dengan pelan dan perlahan. Dalam perjalanan, saya masih mengutuki keputusan bodoh untuk menerima pekerjaan tersebut.

Apakah kebodohan semacam ini ada campur tangan dariNya, atau murni kebodohan dalam sekian persen keputusan saya, entah saja.

Seperti kereta yang meluncur cepat, waktu akhirnya membawa saya berada dalam ruang CCA, tanpa terasa, tanpa lagi kemampuan untuk mengelak, bersama para peserta dan tiga rekan dewan hakim yang lain. Saya mulai berkeringat.

Dua puluh lima menit waktu untuk para peserta mengerjakan soal babak penyisihan, sebelum akan diambil tiga kelompok peserta untuk masuk pada babak final. Ketika para peserta mengerjakan soal, saya memilih untuk keluar dari ruangan, menuju ruang yang akan dipakai untuk babak final setelah sebelumnya mengatur alarm waktu bagi para peserta.
Saya memilih menenangkan diri dengan membuat form nilai untuk perhelatan babak final. Saya menenggelamkan diri pada baris dan kolom Microsoft Excel, sekadar agar tak semakin larut dalam kegelisahan yang terasa kejam. Terima kasih Pak Bill Gates.

Dua puluh lima menit terasa tak lebih lama dari sepenggorengan telur dadar. Para peserta selesai mengerjakan soal babak penyisihan, alarm penanda waktu pada hape saya sudah berbunyi.

Lembar soal dan jawaban mulai dikumpulkan. Saya kira, rekan-rekan saya yang akan melakukan koreksi dan penilaian. Tetapi dari tujuh belas lembar jawaban, dibagi rata pada empat juri termasuk saya. Rekan saya masing-masing menghadapi empat lembar jawaban, saya lima.
Tuhan, harus sebegitukah melindas saya dari satu kegelisahan menuju kegelisahan berikutnya. Saya hampir menangis.

Ketika akhirnya selesai, berkali-kali saya panjatkan rasa syukur di dalam hati. Saya kembali ke ruang babak final, dan kembali menyelesaikan form penilaian yang tadi sempat tertunda. Saya tunggu rekan yang lain, dan sampai beberapa waktu, tak ada satu pun yang mulai menyusul. Saya kembali lagi ke ruang penilaian babak penyisihan. Ternyata ada beberapa guru atau pendamping peserta dan juga para peserta itu sendiri yang sedang melakukan semacam ‘banding‘, untuk hasil yang sudah ditetapkan. Dari tujuh belas peserta, memang hanya diambil tiga untuk babak final.

Terlihat raut-raut wajah gusar menunjukkan rasa ketidakpuasan atas hasil yang sudah ditetapkan oleh juri. Saya beranjak masuk, nampak salah satu guru yang masih berusia muda ‘memprotes‘ beberapa jawaban dari anak didiknya, dengan mengedepankan argumen serta pembelaan. Saya bergidik.
Saya tak mempunyai kompetensi apapun di dalam bidang tersebut, dan merasa sangat bodoh karena tak bisa berkontribusi apa-apa.

Sampai beberapa waktu lamanya, tak terlihat diskusi serta proses banding akan segera selesai dan menemui jalan keluar. Rekan juri bertahan pada keputusan, dan si guru tetap memajukan argumen serta alasan. Saya mengintip serta menguping proses diskusi, sejenak, saya mencoba memahami permasalahan yang sedang terjadi.
Kembali saya memilih keluar. Lembar penilaian yang dipermasalahkan, saya lihat sekilas seperti lembar jawaban peserta yang tadi berada dalam tanggung jawab saya untuk dikoreksi.

Di luar ruang, saya rasa ada sesuatu yang bergerak di punggung, seperti beberapa serangga. Spontan tangan saya bergerak dan meraba punggung, dan bukan hewan seperti pertama diduga. Ternyata keringat, dan keringat saya keluar dalam bulir-bulir besar pada punggung yang terasa dingin.
Kembali saya menengok ke dalam ruang, belum selesai. Saya berjanji esok lain kesempatan, tak akan saya terima pekerjaan di luar kesanggupan serta kemampuan.

Tetapi karena tak juga ada tanda-tanda proses diskusi segera selesai, saya putuskan untuk harakiri, bunuh diri dihadapan rekan juri dan peserta juga pendamping yang sedang melakukan banding. Sebelum melakukan harakiri, saya lafalkan secara lembut Ya Rohman, Ya Rohim, Ya Latif, berulang sembari masih berkeringat dan dengan bibir bergetar menahan rasa kalut yang tak tertahankan. Terakhir, sebelum langkah kaki pertama kembali memasuki ruang, saya sebut dan panggil nama Muhammad untuk berkenan hadir menemani.

“Gimana Bu, masih ada masalah?” tanya saya dengan suara pelan tertahan.

“Ini Pak, bukannya tarbiyah berarti pendidikan? Ini jawaban anak-anak saya sudah benar pendidikan, kenapa disalahkan? Bukannya sama saja jawaban pendidikan dan penuh pendidikan untuk pertanyaan arti kata tarbiyah?”

Saya melihat lembar jawaban yang ditunjukkan, dan mengambil satu lembar soal yang tadi dipergunakan. Jawaban beberapa peserta lain, dan juga yang tertera dalam kunci jawaban, memang mencantumkan arti ‘penuh pendidikan’, dan bukan hanya sekadar pendidikan.
Tarbiyah yang dimaksud, ditanyakan artinya dalam pertanyaan mengenai bulan Ramadhan.
“Bulan Ramadhan sering juga disebut sebagai bulan Tarbiyah, yang dimaksud tarbiyah adalah….”

Saya menghela napas panjang, tak lekas menjawab, dan memilih untuk kembali menghela napas panjang. Saya membatin :
“Aku sampai disini, karena hanya menurut saja dengan ketentuanMu. Maka, beri aku satu jawaban, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawabanMu menyuruhku sampai pada masalah ini.”

“Begini, Bu…” saya ragu.
“Tarbiyah yang dimaksud berada dalam konteks bulan Ramadhan, bukan hanya diminta arti kata secara harfiah saja.”

Saya membaca istighfar, berkali-kali meminta maaf andai jawaban saya nantinya banyak termuat kesalahan.
“Ramadhan adalah bulan dengan banyak kelebihan dan keutamaan, mulai dari pengampunan sampai dengan pendidikan. Maka, tidak mungkin Ramadhan hanya sekadar bulan pendidikan. Ia pasti adalah bulan penuh pendidikan, dalam banyak hal. Dalam konteks ini, Ramadhan menampung begitu banyak hal yang memuat pembelajaran serta pendidikan, dalam setiap proses yang dijalani mulai dari sahur, berbuka, dan dalam setiap gerak serta perbuatan yang dilakukan manusia di dalamnya. Oleh karena itu, ia penuh, sekaligus memenuhi.”

Saya kembali ragu,
“Contoh lain untuk arti kata dalam suatu konteks tertentu, misalnya saja bensin. Bensin dalam konteks suatu kejadian kebakaran, ia bisa berarti adalah pemicu serta penyebab, dan bukan hanya sebanyak satu atau dua tetes saja.”

Ya Allah, Engkau yang bertanggungjawab atas hal ini. Saya membatin sebelum melanjutkan.

“Bensin, dalam konteks lain, misalnya saja pada warung penjual bensin eceran, bisa berarti bahan baku atau modal. Dan tentu saja juga tak hanya satu atau dua tetes. Seperti itu juga dalam kami tadi memutuskan bahwa jawaban dari arti kata tarbiyah adalah penuh pendidikan, dan bukan hanya pendidikan.”

Guru pendamping terdiam, dan menatap saya tajam. Saya sendiri, tak merasa bahwa jawaban itu datang dari hati dan pemikiran saya sendiri, maka saya balas tatapan tajam itu dengan sebentuk senyuman. Guru pendamping mengangguk, menerima, dan menyatakan permasalahan telah selesai.
Saya mengucapkan terima kasih, dan kembali tersenyum sembari mengantar si guru berpamitan.

Saya kembali merasa punggung penuh dengan keringat berukuran besar. Sak jagungjagung.

Saya membatin lafal hamdalah berkali-kali, dan tak henti bersyukur bahwa tak harus pingsan.

Sembari membereskan berkas dan lembar jawaban, saya kembali berjanji di dalam hati, bahwa ini terakhir kali saya menerima pekerjaan di luar kesanggupan serta kemampuan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *