Mudik Lebaran, Memulangkan Segala Beban

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Hidup harus tetap disuntuki, betapapun pahitnya, betapapun gelapnya, dan betapapun terlampau terangnya. Hidup harus tetap disesapi, dengan segenap helai nafas yang menghidupi keping-keping darah. Hidup harus tetap berjalan, sekalipun kita sudah enggan.

Betapapun kita ingin tak lagi terbangun selepas tidur, senyatanya kokok ayam jantan masih terdengar pada gendang telinga, tepat sebelum fajar menyingsingkan lengannya. Fajar jingga yang terkadang sudah terlampau enggan kita temui, dan kita sebenarnya lebih memilih untuk tetap terlelap dalam tidur panjang sampai kelak terbangun di padang mahsyar.

Manusia adalah pejuang, demikian kodratnya. Sendirian mengepalkan tangan melawan kehidupan yang semakin waktu berlalu, semakin keras dan meruncing tajam. Oleh berbagai masalah, oleh berbagai persoalan.

Tak ada manusia yang tak melawan. Hanya memang dengan kadar kesanggupan yang tak tentu sama, antara satu dengan lainnya.

Manusia memang juga tak mesti sama, dalam kesanggupannya melewati dan menghadapi kehidupan, dengan berbagai masalah dan persoalan. Ada yang sanggup menghadapinya sendirian, berkontemplasi dengan dirinya sendiri, untuk menyelesaikan persoalan, meringankan beban. Ada juga yang harus berkolaborasi dengan pihak lain, diluar dirinya, untuk membantu mengurai persoalan, melabuhkan segala beban.

Bersyukurlah bagi mereka yang sanggup menyelesaikan suatu persoalan, hanya dengan melibatkan dirinya sendiri, tanpa melibatkan orang lain disekitarnya. Ia tak harus bersusah payah mencari orang lain untuk membantu, tak usah mendatangi pihak lain untuk ia mintai tolong mengangkat beban. Bersyukurlah manusia mandiri semacam itu, yang dirinya sendiri juga adalah partner untuk berbincang, kaca untuk berkontemplasi, dan sekaligus adalah solusi dari berbagai masalah dan persoalan.

Namun melibatkan orang lain pun bukan suatu persoalan yang memalukan, yang menambah kadar beban. Manusia adalah makhluk sosial, yang tentu saja membutuhkan orang lain. Berbicara, bercanda, atau bersama menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Tak ada salahnya mendatangi orang lain untuk meminta tolong, membantu melepas segala keruwetan yang sudah tak mampu diurai sendirian. Tak ada yang perlu diperdebatkan dari orang yang harus membutuhkan orang lain untuk membantunya menyelesaikan masalah. Bukan suatu hal yang memalukan, dan tak harus menjadi bahan perbincangan.

Kelindan persoalan hidup manusia membutuhkan penyelesaian, segera, dan tuntas tanpa menyisakan ganjalan. Jangan sampai menumpuk masalah, dan menjadikan masalah menjadi tumpukan persoalan.

Manusia memang lah pejuang, tapi bukan pedagang persoalan.

Pejuang segera menyelesaikan masalahnya, tanpa bertele-tele menunda. Pejuang menyelesaikan satu pertempuran, untuk segera berpindah pada pertempuran yang lainnya. Satu pertempuran yang tak usai, akan mengakibatkan masalah dalam keseluruhan perang yang dihadapinya.

Mudik pada momen lebaran adalah suatu momentum untuk memulangkan masalah, menyelesaikannya, mengendapkannya, tanpa membutuhkan banyak tenaga dan usaha. Mudik, kembali pada kampung halaman, mengulang menyegarkan segala ingatan, melabuhkan lelah dan persoalan. Tak perlu usaha lebih untuk menyelesaikan persoalan, ketika sudah tiba pada kampung halaman. Kampung tempat segala asal dan kejadian dirinya, akar sejarah kehidupannya.

Bukankah orang bijak pernah berkata : “Pelajari masa lalumu, untuk menghadapi masa depanmu!”

Tak ada yang berlebihan dengan pernyataan itu. Begitu adanya kodrat manusia, perihal asal muasalnya. Bahwa siapapun akan merasa tenang dan tenteram, ketika mendekat pada asal muasal kehidupannya.

Mendekat pada akar sejarahnya, akan membuat manusia mampu mengurai segala ranting persoalan yang berbuah dalam kehidupannya.

Mudik, akan mengantarkan pada segala yang tak bisa ditawarkan oleh berbagai solusi lain.

Mudik, menghadap pada sangkan paran manusia, tentang asal muasalnya, tentang awal kesanggupannya hidup di dunia.

Mengetahui dan pulang pada sangkan parannya, pada asal muasalnya, sadar diri terhadap kesanggupan awalnya, akan membuat manusia ringan menghadapi segala persoalan.

Yang rumit dari kehidupan bukanlah apa yang datang pada manusia, tetapi yang belum datang dan masih menjadi angan.

Terlalu banyak harapan dan angan, yang terkadang tak sesuai dengan kenyataan, akan membuat manusia merasakan penuh menjalar dalam setiap sudut dan sendi kehidupannya.

Kembali pada asal muasal, akan meringankannya. Tak mesti secara fisik. Bahkan, seharusnya yang kembali adalah ruhnya, jiwa dan segala apa yang menopang jasmaninya.

Bukankah mudik terbaik adalah mengembalikan segalanya kepada Yang Maha Asal?

Bahwa manusia hanya meminjam, dan kelak harus mengembalikan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

31 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.