Musik Pada Lagu Anak-anak Kurang Menarik

Akhirnya saya menjadi sedikit mengerti, —sedikit saja—, kenapa anak-anak kecil begitu banyak yang hafal lagu ‘Bojo Galak’, salah satu striker atau penyerang lubang dari kesebelasan musik koplo.

//Yo wis ben nduwe bojo sing galak, yo wis ben sing suarane sengak//

Kira-kira begitu penggalan liriknya, mohon maaf kalau salah. Saya sendiri tidak begitu hafal lirik lagu Bojo Galak.

Nah, lirik lagu itu, oleh anak-anak sering diplesetkan dengan mengganti beberapa kata :

//Yo wis ben nduwe ibu sing galak, yo wis ben sing suarane sengak//

Kata ‘bojo’ diganti kata ‘ibu’.

Jika yang menyanyikan anak-anak, biasanya langsung membuat suasana sekitar menjadi, geerrrrrr….penuh tawa.

Dulu, duluuuu…saya masih sering keheranan kenapa anak-anak begitu fasih menyanyikan lagu itu, serta hafal detail liriknya. Bahkan lebih fasih dan hafal daripada ketika menyanyikan lagu Garuda Pancasila, yang biasanya mlengse pada bagian :

//pribang-pribangsaku…//

Hash ya ngaku saja, bisa jadi anda juga termasuk yang dulu mlengse ketika menyanyikan Garuda Pancasila.

Pribadi Bangsaku kok bisa menjadi pribang-pribangsaku….

Padahal dulu ketika saya SD, Garuda Pancasila atau lagu-lagu wajib belum mendapatkan saingan dari lagu dan musik koplo. Begitupun sudah amburadul pelafalan lirik dan katanya. Tapi ya tak mengapa, bisa menjadi cerita sejarah untuk generasi muda seratus lima puluh empat tahun mendatang.

Ah ya, musik koplo…fenomenal.

Saya kira pada awalnya karena anak-anak sering mendengarnya, terlepas dari suka atau tidak suka dengan musik koplo. Tetapi karena banyak orang dewasa di sekitar mereka memutarnya, maka mereka menjadi hafal. Begitu awalnya yang sempat saya kira.

Tetapi perlahan asumsi pribadi tersebut mulai tereduksi, gegara sering bergaul dengan anak-anak [ah bergaulnya kok sama anak-anak?].

Pertama adalah Faiz, member pertama FBOA [Fans Berat Om Anang], yang membuat saya tersadar kenapa anak-anak tak begitu menyukai lagu dan musik anak-anak, serta lebih tertarik genre musik lain.

Suatu waktu Faiz menghampiri saya, dan meminta diputarkan sebuah lagu, di Youtube. Ketika saya tanya apa yang ingin di dengar atau dilihatnya, di menjawab : Blackpink!!!

*&^%$)@#!

“Apa Dek?” saya mengulang pertanyaan.

“Blackpink Om. Sik tret tet tet tet tretet tretet tretet..Blackpink!” Fasih dan lancar dia menjawab.

Saya tentu saja ngowoh. Sampai ketika Faiz meminta untuk diputarkan lagu itu, saya sendiri belum pernah mendengar lagu dan musik dari Blackpink. Kalau sekilas melihat pemberitaannya pernah, itu pun dari tulisan-tulisan di media sosial.

Akhirnya saya ketik Blackpink di Youtube, dan melihat salah satu videoclip-nya. Daaannnn….waduwh.

Musiknya memang rancak, menyenangkan, dan memicu anak-anak untuk bisa bergoyang. Bergoyang dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya menggoyangkan tangan. Tetapi demi melihat kilauan surga dari video itu, saya kemudian mencari musik yang hanya menyertakan liriknya saja. Faiz belum saatnya melihat surga yang demikian itu.

Setelah musik mengalun, anak TK nol besar itu mulai berjoget-joget mengikuti nada dan irama. Semangat betul. Saya juga kemudian terpingkal-pingkal melihat tingkah polahnya.

Kemudian yang membuat saya menjadi memicingkan mata dan sedikit berpikir : ‘musik pada lagu anak-anak memang tidak bisa untuk berjoget dan bergoyang seperti itu’.

Kedua adalah Kandra yang merupakan calon member militan FBOA. Usianya baru satu tahun lebih sekian hari. Tetapi perihal selera musik, dia sudah bisa memilih. Setiap kali saya putarkan lagu anak-anak, wajahnya akan datar saja, dan tubuhnya tidak akan merespon dengan gembira.

Beragam lagu anak-anak sudah saya putarkan, lewat Youtube tentu saja. Mulai dari ‘Naik Delman Istimewa’, ‘Aku Seorang Kapiten’, ‘Burung Kutilang’, ‘Bintang Kecil’, dan lagu-lagu lainnya sampai kuota data internet menangis tersedu-sedu. Namun anak itu tetap menampakkan ekspresi muka yang datar.

Sampai beberapa lagu, Kandra akhirnya menunjuk layar hape, sembari berusaha mengajak berbicara. Berkali-kali dia mengulangi menunjuk layar hape, dan menoleh ke arah saya sembari bibirnya monyong-monyong seakan ingin berbicara sesuatu.

Akhirnya saya bertanya padanya :

“Ganti lagu Dek?” saya bertanya.

“Uuhhh…ta taa tatatata.” Kandra menjawab.

Saya mengerti, jangankan bahasa bayi, bahasa alien pun saya bisa memahami asalkan ketika berbicara bersua muka.

Saya ganti lagu di Youtube dengan lagu ‘Jaran Goyang’ yang dinyanyikan Nella Kharisma. Apa yang kemudian terjadi?

Anak itu melengeh, tersenyum dengan membuka lebar bibirnya, menampakkan deret gigi yang baru tumbuh, dan mulai menganggukkan kepala.

Kandra bergoyang, berjoget, bahkan dengan susah payah anak itu mencoba berdiri dengan merambat pada tembok, untuk kemudian berjoget dengan lebih asyik lagi. Saya melongo saja, dan tertawa setelahnya.

Haa kok ya sudah bisa milih. Padahal sebelumnya, saya juga belum pernah sekalipun memutarkan musik koplo untuknya. Entah kalau di rumah bersama orangtuanya, tetapi sepertinya juga tidak. Orangtuanya bahkan heran kok Kandra sudah mulai berjoget-joget sembari tertawa.

Jangan-jangan default musik untuk penciptaan anak-anak jaman sekarang, adalah musik koplo?

Atau karena sebenarnya anak-anak memang menyukai musik yang rancak?

Terbukti bahwa setelahnya Kandra saya putarkan lagu ‘Sunset Di Tanah Anarki’ milik Superman Is Dead [SID], dan dia kembali berjoget sembari kepalanya manggut-manggut.
Namun ketika kembali saya putarkan lagu anak-anak, dia langsung ‘protes’ dengan memegang jari telunjuk saya, dan mengarahkannya pada layar hape. Minta ganti lagu.

Wah, sebenarnya saya kemudian merasa takut. Takut disangka mengajarkan pada anak-anak sesuatu yang belum semestinya mereka dapatkan. Tetapi perihal musik, adakah batasan waktu untuk seseorang mengenalnya? Semisal naik roller coaster yang harus memiliki tinggi tubuh minimal sekian senti meter?
Sedang katanya ketika di dalam kandungan, janin akan berkembang dengan baik ketika diperdengarkan musik-musik klasik yang rumit itu?

Mungkin ini menjadi PR bagi para pencipta lagu dan komposer musik untuk anak-anak. Ciptakan lagu dengan musik yang rancak dan cukup merespon syaraf motorik anak-anak untuk bergoyang.

Yaa kan bagus kalau syaraf motorik mereka banyak mendapatkan rangsangan untuk bergerak, bukan?

Karena kodrat manusia adalah banyak bergerak. Bukan hanya duduk, diam, dan mengelus dada.

Kandra sedang asyik menikmati musik bersama idolanya.
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

20 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.