Nasionalisme Kerupuk

Selama dua puluh tiga tahun terakhir dalam kehidupan saya, rasa-rasanya tak ada lagi kesadaran nasionalisme dalam diri saya.

Setelah lulus sekolah dasar, sejauh saya mengingat, hidup saya hanya berisi cita-cita. Cita-cita pribadi dan personal, untuk dapat menjadi ini itu, untuk mencapai apa dan bagaimana.

Padahal dulu, saya begitu nasionalis. Apalagi menjelang tanggal 17 Agustus, menjelang perayaan hari kemerdekaan KITA.  Secara komunal, saya dan teman-teman akan dengan gembira merayakannya. Dengan makan kerupuk, lari kelereng, balap karung, sembari mendengarkan lagu-lagu kebangsaan, mengepalkan tangan meninjukannya ke udara, membayangkan betapa patriotiknya kami andai dulu ikut perang kemerdekaan. Akan kami hajar tentara Dai Nippon yang cebol-cebol, akan kami gunduli tentara Belanda dan tentara NICA yang mencoba kembali menguasai Indonesia pasca proklamasi.

Meski hanya sebagai peserta, kami akan dengan semangat datang ke lapangan. Entah pagi atau sore hari, menunggu kakak-kakak kami mempersiapkan lomba, melihat mereka dengan antusias, dan mengikuti lomba dengan lebih antusias lagi.
Akan kami sikat kerupuk dengan cara saksama. Akan kami libas jalur balap karung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kami membayangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman melihat sembari mengacungkan jempol tanda kebanggaan, bahwa kami generasi muda dengan penuh semangat mensyukuri kemerdekaan, menikmatinya, dan merintis jalan untuk melanjutkan perjuangan mereka.

Betapa terasa sesak dada kami oleh semangat, oleh gemuruh perjuangan, paling tidak gemuruh perjuangan untuk dapat naik di panggung pentas seni menerima hadiah lomba makan kerupuk atau balap karung itu.

Sejauh saya mengingat, nasionalisme bisa diresapi dan dilaksanakan dengan cara yang sederhana. Tidak dengan banyak jargon dan kata. Tidak dengan banyak retorika dan propaganda. Tidak dengan banyak kepentingan dan kepalsuan.

Nasionalisme bisa dengan mudah masuk dan meresap dalam hati sanubari. Dengan hanya berbekal kerupuk dan karung, kelereng dan sendok, dalam lapangan rumput yang baru saja bersih dari ilalang.

Sebuah kerupuk bisa dengan mudah membuat anak bangsa bangga dengan negaranya, seketika menggelorakan cita-cita komunal bahwa kelak bersama-sama menghalau segala hal yang mengancam bangsa dan negara.

Perkara menang atau kalah, adalah perkara mudah. Tak naik panggung menerima hadiah juga bukan masalah. Makan kerupuk sembari bersorak-sorak sudah lebih dari cukup untuk memantik romansa perjuangan membela tanah air tercinta.

Beda cerita setelahnya.

Ketika makan kerupuk tak lagi bisa memantik rasa apapun selain nggrantes. Tak lagi bersorak karena makan kerupuk tanpa nasi dan sayur akan membuat perih lambung, dan terutama perasaan.

Nasionalisme sudah kalah oleh tuntutan kebutuhan, dan terutama kenyataan. Ketika pada lapis jelata bersusah payah membela bangsa dan negara dengan cara paling terhormat, sedangkan para petinggi negara menghancurkannya seketika dengan korupsi dan membelenggu kebebasan berpendapat.

Seketika romantika mengenai anak bangsa yang berjuang mempertahankan negara, diruntuhkan oleh saudaranya dengan tindakan yang tercela.

Seketika idealisme membangun negara melalui birokrasi yang bermartabat, harus luntur oleh karena mereka yang berbuat seenaknya demi bisa menjabat. Menjabat jabatan, menjabat kepentingan, menjabat keuntungan, kemudian berkhotbah seolah baik buruk negara ini adalah tanggung jawab bersama.

Bukankah, mental akan menjadi runtuh seketika…?

Dalam dua puluh tiga tahun terakhir, kerupuk bertransformasi sedemikian rupa dalam benak dan pemikiran. Dari semula ia serupa bambu runcing yang bermartabat dalam baju sederhana, menjadi tak lebih dari sekadar pengingat mengenai ketidakadilan dan kesenjangan.

Dua pelaku korupsi besar, mantan menteri, mengiba meminta dibebaskan dari segala tuntutan hukum dalam persidangan. Sedangkan masyarakat tak bisa lepas dari jerat aturan, bahkan jika sekadar sertifikat vaksin ketika melakukan perjalanan.

Saya tidak tahu apakah dalam dua puluh tiga tahun kedepan, kerupuk akan mendapatkan lagi tempatnya yang terhormat dalam benak generasi bangsa. Apakah kerupuk akan kembali sejajar dengan bambu runcing dalam masa gelora perang kemerdekaan. Menggelorakan semangat untuk bersama-sama menjaga bangsa dan negara.  Menjaga dari ancaman eksternal, dan terlebih dari internal tubuhnya sendiri.

Bukankah ikhtiar menjaga diri adalah terutama mempersiapkan diri sendiri terlebih dahulu? Menguatkannya, menyehatkannya, mereduksinya dari berbagai perang kepentingan yang tak berguna bagi maslahat luas masyarakat?

Ataukah memang negara sedang bergerak menuju satu retorika kepada retorika yang lain? Retorika yang menipu dan mengelabuhi.
Dari satu khotbah menuju khotbah lain. Dari para pengkhotbah yang sudah banyak memakan harta negara, banyak merugikan negara dengan tindakannya, kemudian mengajak mereka yang tak sekalipun pernah merugikan negara untuk bertobat dan bersama-sama menjaga.

Saya tidak tahu, toh negara ini sudah bertahan selama tujuh puluh enam tahun. Dalam lindungan dan naungan Tuhan. Ke depan, juga terserah saja bagaimana kehendak Tuhan.

Selamat panjang umur negaraku, kalau sakit bilang saja. Kalau ternyata aku adalah penyakitnya, maka libas saja.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *