Niaga Pahala

Mungkin saya adalah salah satu contoh dari gagalnya model pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan generasinya ; bukan hanya dalam pendidikan formal, bahkan juga pendidikan non formal.

Dalam garis jenjang pendidikan formal, bahkan saya tak bisa mengingat apakah selama dua belas tahun memakai seragam sekolah, ada ilmu yang saya pakai dalam bidang pekerjaan. Pun ditambah kuliah beberapa tahun, hanya ilmu mengetik saja yang benar-benar saya pakai secara rutin. Ironisnya, ilmu mengetik itu tidak saya dapatkan dengan kesengajaan, dalam artian bahwa memang ada pelajaran mengetik sewaktu sekolah dan kuliah.

Dalam pendidikan non formal, bahkan saya lebih ‘kurangajar’. Lembaga pendidikan yang harusnya bisa menjadi alternatif pendidikan selain lembaga pendidikan formal itu pun, nyatanya tak mampu membantu saya mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna. Tentu saja ilmu dan pengetahuan yang secara langsung memang diajarkan. Beberapa, bahkan saya menentang ilmu dan pengetahuan itu.

Lembaga pendidikan non formal yang pernah saya ikuti diantaranya adalah : TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).

Oh iya, tentu saja pada akhirnya saya memang bisa membaca kitab suci tersebut. Maafkan, bukan bermaksud menghilangkan dan tidak mengakui betapa bergunanya lembaga pendidikan non formal itu di dalam hidup saya.

Tetapi andai memang boleh berkilah, saya bisa membaca Al-Qur’an adalah karena bimbingan Mamak dan Bapak, kedua orangtua saya. Ketika saya masuk TPA di kampung sebelah, saya sudah dalam posisi mampu membaca Al-Qur’an. Namun sebagai murid baru, saya harus mengikuti kelas penjenjangan, mulai dari dasar, dan tak boleh langsung lompat pada taraf lanjutan. Jadi, meski sudah bisa membaca Al-Qur’an, saya terlebih dahulu harus memulai dengan membaca Iqra’. Dari jilid satu sampai dengan enam.

Tetapi seperti anda tahu, TPA tak hanya mengajarkan baca tulis huruf hijaiyah. Pada beberapa pertemuan, lembaga pendidikan non formal itu juga mengajarkan kajian-kajian kecil mengenai kehidupan beragama. Mulai dari fiqih sampai dengan sedikit tasawuf. Pada bagian sedikit tasawuf itu, saya bisa mengingat pelajaran ini : jangan pernah menaruh dendam terhadap orang lain. Keren bukan?

Untuk fiqih, tentu saja pelajarannya tak jauh-jauh dari tata cara bersuci, sholat, dan aneka ibadah lainnya baik itu wajib dan bahkan beberapa yang sunnah.

Nah, pemberontakan pemikiran saya (dan dengan itu saya mulai menafikan sejarah keberadaan TPA dalam hidup saya), adalah tentang perhitungan pahala.

Betapa sholat berjamaah mendapat pahala yang lebih banyak sekian derajat daripada sholat munfarid, dan juga berbagai keutamaan ibadah yang akan mendapatkan ganjaran pahala untuk mengantar menuju surga.

Bagi saya sampai saat ini ; mengingat pahala dan dosa akan setiap perbuatan yang dilakukan, sama saja dengan meniagakan kehidupan.

Dan bagi saya ; tak ada rumus untuk meniagakan kehidupan.

Hidup ya hidup saja, setelah itu mati.

Namun tentu saja, hidup ya hidup saja dalam garis kebaikan dan kebajikan, tidak merugikan orang lain.

Begini. Entah mengapa bagi saya pribadi, perihal pahala dan dosa, surga dan neraka itu tak lebih dari umpan pancingan saja dari Tuhan, untuk manusia. Apakah manusia semata hidup untuk dan bagi Tuhannya, ataukah bagi kepentingan pahala dosanya, dan cita-cita surganya.

Mungkin saja Tuhan sedang membuat pengalihan, agar Ia mengetahui dengan gamblang, siapa sajakah hambaNya yang benar-benar hidup dan ada hanya untukNya, atau ada dan hidup sekadar untuk mencari pahala dan juga surga.

Menurut saya, sekali lagi ini menurut saya : ketika kelak manusia diberikan dua buah catatan pada tangan kanan dan kirinya, itu bukan berisi pahala dan dosa, bukan pula catatan kebaikan atau keburukan, melainkan catatan rekaman sejarah hidup manusia yang berisi neraca perbandingan sejauh mana manusia hidup untuk dirinya sendiri, atau untuk Tuhannya.

Bisa jadi kelak catatan di tangan kirinya akan tertulis banyak pahala dan kebaikan, tetapi sebatas pahala dan kebaikan untuk dirinya sendiri agar bisa mendapatkan surga, bukan kebaikan karena manusia mempertimbangkan Tuhan sebagai alasan utamanya hidup di dunia.

Bingung?
Sudah kuduga…..

Begini contoh mudahnya, dan ini sudah berkali-kali saya jadikan contoh pada tulisan-tulisan terdahulu :

“Jika anda berniat sholat berjamaah karena mengejar pahala yang dua puluh tujuh derajat itu, berarti anda sedang menyelingkuhi Tuhan.”

Karena sholat bukanlah untuk mendapatkan pahala, melainkan adalah media bagi manusia untuk terus melekat pada Tuhannya.

Jika anda sudah melekat pada Tuhan, untuk apa anda membutuhkan pahala?

Jika anda sudah melekat pada Tuhan, untuk apa anda menginginkan surga dan takut akan neraka?

Pemahaman saya diatas tentu saja bisa seratus persen salah, namun bisa juga sekian persen benar. Tetapi benar salah dalam memahami hakekat ketuhanan dan perhubungan denganNya adalah sesuatu yang memang tak pernah selesai untuk diperdebatkan, bahkan sampai kelak ketika Indonesia bisa mengalahkan India dalam permainan Kriket.

Tentu saja juga pemahaman saya itu tak sejalan dengan pelajaran yang didapatkan dari TPA. Bahwa suatu ibadah dan juga perbuatan dapat diniagakan dengan pahala.

Bagi saya, keberadaan teori mengenai pahala hanya akan membuat hidup manusia menjadi semakin rumit. Misalnya saja ketika seorang koruptor hampir tertangkap, tiba-tiba saja ia berangkat umroh dan berdoa di tanah suci. Berharap bahwa perbuatan umrohnya mendatangkan banyak pahala, yang dengan itu akan memberikan neraca perimbangan terhadap dosa korupsinya. Lucu, kan?

Atau, ketika seseorang tak pernah lepas dari sholat berjamaah di masjid dan dengan itu mempunyai banyak tabungan pahala, maka ia mempunyai pikiran bahwa dalam hidupnya boleh berbuat tidka baik kepada manusia lain, karena sudah mempunyai banyak tabungan pahala yang lebih banyak daripada dosanya.

Tentu saja contoh terakhir tidak bisa kemudian digeneralisasikan untuk menilai orang per orang, hanya saja saya mengenal beberapa orang yang demikian itu. Orang-orang yang tak lepas dari sholat berjamaah, sekaligus banyak sekali sikapnya yang menyakiti manusia lain.

Sampai disini, saya bukannya tidak suka terhadap orang yang berniaga dengan pahala, sama sekali tidak. Tidak ada hak pada diri saya untuk suka atau tidak suka terhadap sikap dan prinsip hidup manusia lain. Toh semua mempunyai dasar pemahaman dan keyakinan masing-masing.

Hanya saja jika boleh memberikan sedikit konklusi dalam bentuk kalimat tanya : anda lebih memilih memeluk Tuhan, atau memeluk pahala?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)