Nikmatnya Ketidaktahuan

Andai kita tahu esok hari akan mati, apa yang akan kita lakukan hari ini?

Andai kita tahu persis waktu kita akan mati, apa yang akan kita lakukan tepat satu jam, satu menit, atau bahkan satu detik sebelumnya?

Membicarakan harta warisan dengan anak cucu dan semua yang berhak mendapatkan warisan kita? Menyampaikan tata cara pembagian dan besar kecilnya jumlah yang akan dibagikan, dengan harapan mereka tak akan bertengkar?

Atau khusyuk beribadah secara personal, menutup diri dan terus menerus mensucikan diri agar Yang Maha Kuasa mengampuni segala kesalahan kita?

Ah, itu kan kalau orang beragama yang percaya Tuhan.
Kalau orang yang tidak percaya Tuhan? Apa yang akan dilakukan?
Melakukan semua hal yang belum pernah dilakukan? Sebagai sebuah ‘bekal’ agar setelah mati ‘tak menyesal’?

Teknis detailnya seperti apa, baik yang percaya Tuhan ataupun tidak percaya ketika menghadapi kenyataan bahwa esok hari akan mati?

Kalau saya baru membayangkannya, kok sudah repot. Pikiran saya terbiasa untuk menikmati segala sesuatu yang tidak saya ketahui.

Jangankan perihal mati yang kata sebagian besar orang, ‘menakutkan’. Untuk masalah sepele misalnya pagi ini saya akan mandi jam berapa, saya juga tidak tahu.

Jangankan esok, nanti sore saja saya tidak bisa memastikan akan berbuat atau melakukan apa.
Lantas, apakah yang semacam itu tidak nikmat?
Apakah tidak bisa memastikan sesuatu adalah kerugian?

Kalau menurut saya sih, tetap nikmat. Bahkan sangat-sangat nikmat.

Saya membayangkan seandainya selalu mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi dimasa mendatang. Ribetnya minta ampun.
Misalnya saja jika saya tahu sebentar lagi suka ada anak kecil yang sedang belajar sepeda terjatuh di depan saya. Apa yang akan saya lakukan? Menasihatinya agar jangan dulu bersepeda? Atau menyiapkan kasur ditempat si anak akan terjatuh? Atau bagaimana? Ribet toh?

Maka saya kok cenderung menyukai ketidaktahuan semacam itu. Jangankan perihal masa depan atau sesuatu yang akan terjadi. Dalam banyak hal, tahu akan sesuatu bisa jadi adalah beban moral.

Seorang dokter yang tahu kondisi kesehatan tubuh pasiennya, akan dilanda dilema dan beban moral. Si pasien ia ketahui dari rekam medis akan segera ‘mati’, apa yang akan ia lakukan?
Jujur? Mengatakan yang sebenarnya? Atau cukup memberitahu keluarganya? Atau bagaimana?
Tentu saya membicarakan dokter yang mempunyai kepekaan moral. Bukan dokter yang membicarakan kesehatan sebatas angka-angka statistik.

Bukan hanya dokter. Masih banyak orang dalam profesi lain yang terkungkung dalam dilema dan beban moral karena ia mengetahui lebih banyak daripada orang lain.
Mengetahui baik buruk sesuatu jauh lebih banyak dan mendalam daripada orang lain, dikarenakan kadar keilmuannya.

Misalnya saja seorang ilmuwan tahu bahwa rokok ataupun kopi tidaklah seburuk yang disampaikan oleh arus mainstream. Ia ingin memberikan klarifikasi, karena merasa informasi yang selama ini beredar banyak kesalahan. Tetapi ia takut, karena jika ia mengklarifikasi hal itu, hajat hidupnya akan terancam.

Sampai disini, mengetahui banyak hal ternyata bukanlah sesuatu yang menyenangkan bukan?

Namun bukan berarti kemudian saya setuju bahwa akan lebih baik jika manusia tidak belajar, dan dengan itu tidak akan mengetahui ilmu. Bukan!
Manusia tetap harus belajar selamanya, dengan sedikit disertai misuh.

Yang ingin saya sampaikan adalah :

“Bahwa tidak mengetahui sesuatu itu, tidak selamanya buruk.”

Manusia mempunyai keterbatasan dalam manajemen akal atau hatinya, untuk mengolah banyak informasi. Ada batas yang membuat manusia, haruslah tetap menjadi manusia dengan segala keterbatasannya.

Bahkan jika anda menganggap Albert Einstein adalah manusia paling jenius di dunia, tanyakan padanya apakah ia bisa misalnya : menanam padi, dan berprofesi sebagai petani?

Mungkin anda akan menjawab, bisa.
Membuat bom nuklir yang rumit saja bisa, apalagi hanya menanam padi? Menjadi ahli nuklir saja bisa, apalagi menjadi petani?

Benarkah sesederhana itu?

Jika sesederhana itu, lantas mengapa banyak orang bersedia hanya menjadi wakil? Bukankah menjadi wakil berarti hanya menjadi ‘orang kedua’ dari yang diwakili?
Sudah enak-enak menjadi rakyat, malah memilih hanya menjadi wakil rakyat?

Analogi lain, andai Einstein mampu menanam padi dan menjadi petani : mampukah ia mencangkul?

Anda mungkin akan memberi argumen : kalau Einstein menjadi petani, ia tak perlu mengangkat cangkul. Ia akan gunakan otaknya untuk membuat sistem pertanian modern yang tak perlu menggunakan cangkul. Ia akan membuat alat-alat otomatis yang memudahkan pekerjaannya sebagai petani.

Begitu kan?

Hanya saja anda lupa, menjadi petani apalagi petani di desa, adalah profesi yang termarjinalkan. Dengan apa Einstein akan membuat semua alat itu, sedangkan sekadar modal untuk membeli pupuk saja kesulitan.

Kalau misal Einstein adalah petani, adakah pemilik modal yang begitu saja percaya bahwa ia adalah jenius yang akan membuat dunia pertanian berkembang pesat, mendatangkan banyak keuntungan, dan dengan itu pemilik modal bersedia memberikan modal pinjaman?

Tidak usah dipikirkan, itulah nikmatnya ketidaktahuan kita.
Kita tidak pernah tahu apakah Einstein mampu menanam padi dan kemudian mampu menjadi petani ataukah tidak.

Coba kalau kita tahu, akan banyak urusan yang sebenarnya bukan proporsi kita, akan membebani hidup kita.

Maka tidak usah risau andaikan dalam hidup ini, banyak yang tidak kita ketahui.

Dalam skala paling sederhana, itu adalah cara paling gampang mensyukuri hidup, dan dengan itu kita bisa berbahagia dengan segala keterbatasan kita.

Contohnya : karena kita tidak tahu bagaimana indahnya pantai di Hawai secara langsung, maka kita sudah berbahagia bisa melihat dan menikmati pantai Parangtritis.

Karena kita tidak tahu bagaimana enaknya cokelat buatan Belgia, kita sudah berbahagia bisa menikmati cokelat Cap Jago.

Karena kita tidak tahu enaknya sarapan sembari melihat pantai di Maldives, kita sudah berbahagia menikmati sarapan di rumah kita.

Coba kalau kita tahu itu semua, tetapi tidak bisa menikmatinya?
Sebagai manusia, pasti akan ada penyesalan-penyesalan, dan dengan itu akan mengurangi kadar kebahagiaan.

Bagaimana, bukankah semacam itu nikmatnya ketidaktahuan?

Kecuali jika anda mempunyai pemikiran lain, bahwa mengetahui semua hal adalah kenikmatan. Termasuk mengetahui bahwa nanti sore bumi akan terbelah karena ditabrak asteroid raksasa. Misalnyaaa…..

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

117 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *