Nikmatnya Tidak Puasa Ketika Yang Lain Puasa, Dan Sebaliknya

Sebentar lagi sudah akan menjelang bulan Ramadhan, bulan puasa, meski belum ada iklan sirup dan sarung yang bergerilya. Tinggal sekira sebulan lebih sekian hari lagi. Saatnya diet, bagi yang lemaknya berlebih. Saatnya beribadah, bagi yang selama ini ibadahnya kurang. Saatnya berburu makanan, bagi yang puasa hanya menunggu waktu untuk berbuka.

Ayolah, jujur saja….masing-masing dari kita, mempunyai alasan-alasan tertentu di balik datangnya bulan Ramadhan, dan sekaligus untuk berpuasa. Ada yang ingin memangkas lemak pinggang, ada yang ingin irit rokok, ada yang ingin mengurangi konsumsi gula, ada yang ingin irit masak dan tiap hari buka puasa di masjid, ada yang menunggu pasar sore dan berburu kuliner, bahkan ada yang hanya ikut-ikutan saja.

No problemo, terserah saja, itu urusanmu dengan Tuhan.

Bahkan yang tidak puasa pun, juga tak apa. Resiko dan urusan belakang, tanggung sendiri nanti dengan Tuhan. Seperti saya….

Sementara di lain sisi, tinggal menyisakan sedikit orang yang berpuasa, karena kesadaran penuhnya akan hakikat puasa, dan bukan hanya karena takut dosa dan tergiur pahala.
Eh tapi yang takut dosa dan tergiur pahala karena puasa pun, masih lebih mendingan daripada yang hanya menunggu kuliner khas buka puasa.

Terus yang puasa karena kesadaran itu, yang bagaimana?
Ya jangan tanya saya, memangnya saya guru agama.

Tapi kalau boleh saya kasih kisi-kisi dengan sedikit berfilsafat, puasa yang ber-kesadaran itu kalau puasanya bukan karena takut dosa, atau karena tergiur pahala. Semata puasanya karena Allah, karena Tuhan.
Dah, gitu….gampang toh…..Kalau anda berpuasa bukan karena takut dosa atau sekadar ingin pahala, dan semata karena perintah Allah, berarti anda mulai sadar tentang hakikat puasa, yang sebenar-benarnya…..

Kalau perihal yang tak berpuasa itu….seperti saya ini…?

Ah ya mari sebentar lagi kita ulas hal yang meyenangkan tersebut.

Orang lain berpuasa, sedangkan kita enak-enak makan dan minum, sepuasnya….

Puasa anak TK

Puasa bersama-sama, rombongan, masih pula minta dihormati, warung-warung disuruh tutup, penjual makanan disuruh libur….kalau seperti itu, adik-adik saya sudah melakukannya semenjak TK….

Justru puasa paling nikmat itu kalau orang lain tidak tahu kita sedang berpuasa, bebas makan dan minum disekitar kita, sedangkan kita tetap menikmati puasa tanpa merasa tergoda atau digoda.

Haa ya mosok sudah niat berpuasa, ada orang lain makan dan minum di depan kita, lantas kita marah-marah.

Marah-marah itu setidaknya sudah melunturkan dua hal.

Pertama, melunturkan niat kita berpuasa. Puasa ya puasa saja. Ada orang lain makan dan minum ya kita tetap biasa saja. Lha wong niat puasa, ada anak-anak minum es Marimas kok kita clegukan.

Kedua, melunturkan hakikat puasa, perihal menahan. Kalau kita marah-marah, apalagi yang didapat dari nikmat puasa itu? Sedang menahan marah saja, sekadar melihat orang makan dan minum, kita tak bisa.

Apalagi yang tersisa dari puasa kita, kalau sudah marah-marah dan merasa terhina ketika orang lain makan dan minum di depan kita. Belum lagi kalau kita merasa tiba-tiba ingin minum melihat penjual es degan, dan menahan tangis melihat anak kecil membawa es teh plastikan.

Sebenarnya, kita ini puasa atau hanya menahan untuk tidak makan dan tidak minum?

Saya kok tidak pernah merasa setuju kalau orang yang sedang berpuasa, harus ‘dihormati’ secara berlebihan.
Menghormati antar manusia, dalam pergaulan sosial, ya memang sudah sewajarnya dan semestinya, lepas dari puasa atau tidak. Itu pun berlaku dua arah, dialektis. Kalau yang tidak berpuasa menghormati yang puasa, maka sebaliknya yang berpuasa juga harus menghormati yang tidak puasa. Begitu, bukan?

Penghormatan tertinggi

Apalagi kalau dalam konteks puasa Ramadhan, puasa yang wajib. Manusia, lebih spesifik lagi yang beriman, sudah mendapatkan penghormatan langsung dari Tuhan.
Tidakkah cukup penghormatan dari Tuhan itu?
Tuhan lho….
Kok ya masih berharap penghormatan dari manusia, itu serakah atau agak kurang gimana begitu…???

Kalau Tuhan sudah menghormati, tentu makhluk pun akan ikut menghormati. Begitu kan ya?
Dapatkan respect dari Sang Alpha, maka Beta, Charlie, Delta dan seterusnya juga akan ikut memberikan penghormatan.

Itu kalau menurut saya, kalau anda mempunyai rumusan lain, ya terserah.

Tetapi mosok sudah mendapatkan penghormatan tertinggi dari Tuhan, anda malah menuntut dan meminta hormat dari penjual es degan?
Kalau Tuhan malah tak jadi bersimpati atas puasa anda, karena pemaksaan penghormatan yang anda lakukan pada si penjual es degan gimana?
Repot kan….?

Atau apakah sebenarnya manusia itu cenderung selalu ingin dihormati, dan kurang ingin menghormati?
Sehingga keinginan untuk selalu dihormati itu, menjalar dalam berbagai segi dan lini kehidupan. Sekaligus juga memantik keserakahan. Menjadi gila hormat, dan selalu merasa kurang terhadap rasa hormat itu. Sudah dapat penghormatan dari yang paling baik pun, masih ingin semua macam penghormatan, dari level yang lebih rendah.

Sudah mendapat yang terbaik, masih juga ingin yang lain.

Padahal, tentu saja tak ada penghormatan yang lebih baik daripada dari Tuhan.
Dalam konteks puasa, apalagi puasa Ramadhan, Tuhan sampai ‘merendahkan’ diriNya untuk menghormat pada manusia. Seolah Ia membutuhkan puasa untuk diriNya. Padahal, sebenarnya Tuhan tak butuh apa-apa, apalagi hanya dari manusia.
Tetapi dialektika perihal puasa yang oleh Tuhan coba diketengahkan itu, memancing untuk seberapa jauh manusia memahami tujuan puasa.

Apakah mengharapkan cinta dan penghormatan dariNya?

Ataukah hanya kembali lagi sebagai ajang pembuktian eksistensi diri pribadi? Bahwa saya berpuasa, beriman, maka hormatilah saya….

Tidak puasa ketika yang lain puasa

Maka selama beberapa tahun terakhir, dimulai tahun 2013, saya selalu menyempatkan untuk tidak berpuasa beberapa hari, selama bulan Ramadhan. Paling lama pernah delapan hari, tahun berapa saya lupa. Tahun kemarin, saya tidak berpuasa empat hari. Dua tahun lalu saya tidak berpuasa selama enam hari.

Biar apa?

Ya biar saya bisa menggoda teman-teman atau keluarga saya yang berpuasa. Dah, gitu aja.

Nikmatnya, tiada terkira….

Ini pun sebenarnya ajang pembuktian eksistensi pribadi, dengan cara dan jalan lain, untuk menunjukkan kemungkinan lain. Bahwa puasa itu tak sebatas menahan makan, minum, atau merokok dan berbagai hal artifisial lainnya.
Kalau orang lain berlomba-lomba ingin berpuasa penuh [laki-laki terutama, perempuan sulit untuk berpuasa penuh], saya justru sebaliknya tidak ingin berpuasa penuh. Dan berpuasa untuk membayar utang itu, di hari serta momen lain. Paling sering, saya membayarnya ketika ada hajatan atau perhelatan yang menyediakan banyak makanan.

Sementara orang lain makan-makan, saya senyum-senyum melihatnya.

Sebaliknya pernah, dalam suatu momen buka puasa bersama, saya sudah menikmati es buah dan mencicipi segala makanan yang ada, sembari menemani teman-teman menunggu waktu berbuka.
Entah apa yang ada di pikiran mereka, terserah saja. Toh kalau mereka menduga dengan prasangka yang kurang baik, sudah berkurang pula pahala yang mereka harap-harapkan….bwehehehe.

Dalam kondisi yang paling permukaan saya hanya ingin menunjukkan, bahwa puasa itu bukan siksaan, dan lebih dari sekadar kewajiban. Puasa adalah kebutuhan manusia itu sendiri, sebagai upaya untuk melatih ‘rem’, karena dalam banyak waktu yang lain terbiasa ngegas.

Dan ngerem atau ngegas sendirian pun, tak masalah. Tak harus menuntut untuk dihormati, toh apalagi meminta disediakan segala keistimewaan, termasuk kemungkinan istimewa bisa menutup warung makan sumber penghidupan orang lain.

Tidak begitu, Portisio….

Puasa itu intim, perhubungan sublim antara kita dengan Tuhan. Tak ada hubungannya dengan warung makan, penjual es degan, atau es teh plastikan. Tidak ada.
Kalau memang sudah niat dan kuat berpuasa, maka apalah artinya segala makanan dan minuman. Ah yaa….

Jangan meniru

Tetapi saya ingatkan, jangan meniru apa yang saya lakukan. Tidak baik, sungguh.
Apa yang saya lakukan adalah untuk diri saya sendiri, dan niat saya menuliskannya disini adalah agar anda jangan menirunya. Begitu.

Karena makan dan minum bukan perkara utama dalam keseluruhan hidup saya. Maka saya tak terlalu masalah berpuasa sendirian, ditengah banyaknya makanan atau minuman. Begitu pula ketika bulan Ramadhan, bahkan saya tak tergiur oleh aneka makanan dan jajanan khas berbuka puasa. Lebih sering ketika tidak berpuasa saya hanya makan mie instan, atau kurma. Ketika berpuasa pun saya hanya tertarik dengan segelas teh panas dan juga bayam rebus atau buah pepaya ketika berbuka.

Maka karena makan dan minum bukanlah persoalan utama bagi saya, akan menjadi masalah bagi anda yang suka makan dan minum, serta berpuasa untuk menahan keduanya. Sudah barang tentu anda akan tersiksa berada di tengah acara kondangan, dan anda sedang membayar utang puasa, kan?

Lagipula saya juga berpuasa bukan untuk mengejar pahala, apalagi surga. Bukan pula untuk menghindari dosa, dan membuat ancang-ancang agar tak masuk neraka. Bukan, sama sekali bukan itu.

Lantas?

Ya karena demikian saya berusaha menjawab dialektika cinta Tuhan terhadap manusia melalui puasa.

Saya berpuasa hanya karena Gusti Allah, dah itu aja. Bukan karena ingin pahala, apalagi takut dosa.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *