Obrolan Dikaki Langit

Andai kamu ingat, kita pernah berbincang, mengobrol santai tepat dikaki langit. Saat itu belum ada alat untuk merekam (atau kita yang tidak punya?), sehingga obrolan kita dikaki langit tak terdokumentasi dengan baik. Hanya saja dengan ingatanku yang lemah, bolehlah kembali kutuliskan disini. Sekadar sebagai monumentasi, agar kita tidak lupa bahwa pernah terjadi obrolan dikaki langit, diantara kita.

Mari kita mulai dengan mengingat tempat. Bukankah tempatnya ada ditepi laut? Bukan? Oooh ya aku ingat, tempatnya ditepi senja, tepat sebelum gelap melingkupi alam pikir dan kesadaran kita. Tepat pada cakrawala terakhir ketika masih sempat kita melihat helai rambut masing-masing.

Tempat tak penting, yang lebih penting adalah apa dan bagaimana isi dari obrolan kita. Ah, sebenarnya itu juga tak penting. Tetapi ini sebagai pengingat saja, karena ingatan kita sebagai manusia, tak lebih awet dari ember plastik anti pecah.

*****

“Kenapa kita duduk disini?”

“Takdir.”

“Ah jawabanmu. Tak adakah yang lebih tepat merepresentasikan dirimu sebagai manusia?”

“Justru karena itu, jawabanku sangat manusiawi.”

“Kemukakan alasanmu!”

“Takdir adalah nama tengah manusia. Ia selalu lekat, dalam sadar ataupun tidak sadar.”

“Tetapi Tuhan memberikan sekian persen saham kepada manusia untuk dapat menentukan jalan takdirnya. Termasuk kenapa kita duduk ditempat ini, adalah karena kita memilih.”

“Tepat, tetapi pilihan kita pun tak lepas dari takdir itu sendiri.”

“Ah, terserah padamu saja. Sekarang, apa yang akan kita perbincangkan?”

“Terserah saja, apapun itu.”

“Jauh-jauh aku kemari, dan hanya ada kata terserah?”

“Seberapa jauh? Toh kita hanya dipisahkan oleh timur dan barat?”

“Setidaknya, katakan sesuatu selain kata terserah.”

“Baiklah, apa yang akan kamu lakukan dengan segelas air yang tersisa didunia?”

“Maksudnya?”

“Jika kamu mempunyai segelas air, yang itu adalah segelas air yang tersisa diseluruh dunia, apa yang akan kamu lakukan?”

“Jawabannya tidak sederhana bagiku.”

“Kemukakan!”

“Masihkah ada orang selain aku yang hidup? Itu juga variabel yang penting untuk menjawab. Sebab jika memang hanya tersisa segelas air, dan itu ditanganku, ada beberapa kemungkinan.”

“Jelaskan.”

Pertama aku adalah orang paling beruntung didunia, karena mempunyai segelas air terakhir. Kedua aku adalah orang paling kuat sekaligus kejam, karena memiliki segelas air terakhir.”

“Sebagai yang pertama, apa yang akan kamu lakukan?”

“Jawab dulu apakah masih ada orang yang hidup selain aku?”

“Jika aku memberikan jawaban itu, bukankah kamu akan bertanya hal lain lagi, variabel yang kamu cari-cari? Semata agar kamu menghindar untuk menjawab pertanyaanku?”

“Hahahaha….”

“Benar kan?”

“Bisa jadi.”

“Nah.”

“Tetapi bukankah menjawab memang bukan perkara yang sederhana? Bukankah lebih rumit menjawab daripada bertanya?”

“Lebih kurang semacam itu.”

“Nah.”

“Apa?”

“Bukankah tidak salah ketika aku menghindar dari menjawab pertanyaanmu?”

“Kamu memang lebih senang menghindar.”

“Bukan senang menghindar, hanya saja aku tak ingin dijebak. Pertanyaanmu adalah jebakan semata.”

“Hahaha…”

“Nah kan kamu hanya ingin menjebakku.”

“Jawab saja, apa yang akan kamu lakukan dengan segelas air itu?”

“Kamu juga belum menjawab apakah masih ada orang lain yang hidup selain aku?”

“Andai masih ada orang lain yang hidup?”

“Berapa jarak tempat tinggal dan keberadaannya dari tempatku berada?”

“Nah kan, kamu mengejar dengan pertanyaan, dan bukan menjawabnya.”

“Tak jelas juga pertanyaanmu itu. Bukankah sudah kukatakan, penting untuk mengetahui apakah ada orang lain yang masih hidup selain aku, agar aku bisa melakukan sesuatu yang tepat dengan segelas air itu.”

“Aku sudah menjawab bahwa masih ada orang lain.”

“Apakah dekat atau jauh dari tempatku berada?”

“Jauh!”

“Apakah aku bisa mengetahui keberadaannya meski jauh? Masihkah tertempuh perjalanan atau tidak?”

“Kamu memang tak mau menjawab perihal segelas air itu.”

“Karena meski hanya segelas air, itu bukan hal yang sederhana. Apalagi jika itu menjadi satu-satunya yang tersisa didunia.”

“Jawab saja, toh itu hanya pengandaian.”

“Baiklah, bagaimana andaikata kamu tak pernah bertanya tentang segelas air itu? Bagaimana andaikata kita berbicara tentang hal lain yang lebih nyata?”

“Ah, bukannya kita memang tidak nyata, untuk apa dan bagaimana menyatakan keberadaan kita?”

*****

Senyu, senyap, dan matahari sudah berselimut cakrawala. Kita tak lagi bisa melihat satu sama lain pekat.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

52 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *