Obsesi

Ada dua pertanyaan (sekaligus pengalaman) dalam hidup saya, yang terus berulang selama sekian tahun, dan seolah menjadi misteri yang sulit terjawab juga terpecahkan.

Pertama, kenapa tiap kali habis mencuci kendaraan dan menyemprot serta mengelapnya menggunakan lemon pledge, setelah itu pasti turun hujan, kalau tidak ya ada angin besar yang membawa banyak debu. Otomatis, sia-sia saya mencuci dan mengelapnya sampai kinclong.

Kedua, kenapa tiap kali menginginkan sesuatu, saya tak pernah berhasil mendapatkannya. Tetapi nanti setelah suatu periode waktu berselang, ketika bahkan saya tak lagi menginginkannya (meski sebenarnya masih membutuhkan), saya akan mendapatkannya tanpa banyak usaha dan pengorbanan, dan terlebih tak terlalu banyak mengeluarkan pikiran.

Untuk yang pertama, biarlah kelak saya selesaikan secara adat dengan Dewa Angin maupun Dewa Hujan. Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan terhadap kendaraan-kendaraan saya setelah dicuci dan dilap sampai kinclong.

Untuk yang kedua, saya tidak tahu harus menyelesaikannya dengan siapa, atau dengan Dewa apa. Hanya saja memang, pertanyaan dan atau misteri kedua itu seringkali terulang didalam kehidupan saya. Termutakhir, sekira dua bulan yang lalu, hape saya tiba-tiba tak bisa digunakan. Masih hidup, tetapi layar sentuhnya tak lagi merespon sentuhan jari jemari saya. Oke, mungkin dia sudah bosan dengan sentuhan personal dari saya.

Tanpa pikir panjang, dan tanpa harus berputar-putar ke banyak toko, tiba-tiba saya sudah berada dalam situasi menandatangani sebentuk kuitansi pembelian hape di sebuah toko kecil didekat kos-kosan saya di Semarang. Hape yang sekarang saya gunakan untuk menulis tulisan ini, adalah sebuah hape dengan lima kamera, satu di depan dan empat di belakang.

Kapasitas penyimpanan internalnya bisa untuk menampung ratusan video dengan ekstensi 3gp. Ram atau memori bacanya cukup untuk membuka banyak aplikasi sekaligus. Sudah juga ada fitur NFC yang sampai sekarang saya tak tahu fungsi maksimalnya, selain hanya untuk cek dan update saldo kartu tol eletronik. Dan yang terpenting, saya bisa kembali masuk dalam sekira tiga puluh sampai empat puluh grup WA dalam sekali waktu. Cukup canggih, kan?

Hal terakhir itulah yang membuat saya tanpa banyak pikir panjang kemudian membeli hape itu. Hape lama saya mendadak tak bisa digunakan ketika banyak informasi dari puluhan grup WA berkait dengan pekerjaan sedang ramai dan penting. Puja Dewa Kesengsaraan.

Saya menginginkan hape yang cukup canggih semacam itu semenjak bertahun lalu. Saya begitu menginginkannya sehingga lantas kemudian seperti yang sudah saya tuliskan, saya tak bisa mendapatkannya. Hingga kemudian selang waktu, saya tak lagi menginginkan hape yang cukup canggih itu, namun lantas tiba-tiba saya sudah mendapatkannya. Tanpa banyak usaha, pengorbanan, dan juga tak perlu banyak berpikir karena mau tidak mau, suka tidak suka, kontan ataupun utang, saya harus membelinya daripada semakin ketinggalan informasi pekerjaan.

Masalah hape itu hanya satu contoh saja dari sekian obsesi atau keinginan, yang tak pernah saya dapatkan atau saya capai ketika benar-benar masih berada dalam puncak keinginan.

Lain contoh, dari kehidupan saya sebagai seorang pegawai golongan rendah. Dulu ketika awal mulai bekerja, saya sedikit mempunyai angan dan keinginan untuk bisa dekat dengan pejabat atau pimpinan dari tempat saya bekerja. Hasilnya, bukannya dekat, saya malah jauh secara personal maupun profesional dengan atasan-atasan atau pimpinan. Hingga kemudian saya mempunyai suatu kesimpulan, bahwa saya memang ditakdirkan untuk tidak pernah bisa dekat dengan atasan-atasan.

Sampai kemudian ketika lebih dari seratus lima puluh kali bulan purnama, ketika saya sudah tak mempunyai keinginan lagi untuk dekat dengan atasan-atasan atau pimpinan, justru saya didekatkan dengan mereka. Dekat secara personal maupun profesional, tanpa harus banyak melakukan usaha dan atau juga pengorbanan, dan apalagi melakukan penjilatan-penjilatan.

Ketika banyak kolega disekitar saya melakukan berbagai cara untuk bisa mendekat kepada pimpinan, secara ajaib pimpinan justru mendekat kepada saya. Hampir selalu interaksi diantara kami dimulai dari pimpinan. Dalam arti, mereka yang menghubungi saya terlebih dahulu, entah melalui percakapan tulisan atau percakapan suara. Hampir tidak pernah saya menghubungi terlebih dahulu. Hal itu terjadi ketika saya sudah tidak mempunyai keinginan dan tendensi untuk bisa dekat dengan atasan atau pimpinan.

Dari dua contoh hal diatas, saya kemudian berkontemplasi secara intensif di berbagai warteg sembari merokok dan menikmati es teh atau kopi, kemudian mendapati sebentuk kesimpulan : mungkin saya ditakdirkan untuk tidak mempunyai atau tidak boleh mengungkapkan keinginan. Meskipun keinginan itu hanya terlontar secara pribadi dan personal kepada Tuhan.

Mungkin Tuhan memang tidak menghendaki saya untuk terlalu banyak menuntut, untuk tidak mempunyai banyak keinginan, dan hanya diperbolehkan menerima secara pasrah dan ikhlas apapun yang diberikan.

Dalam gambaran imajinatif saya, sembari mengacungkan jarinya, Tuhan berkata kepada saya : jadi manusia itu jangan sok-sokan meminta ini itu, kayak kamu itu tahu baik buruknya sesuatu yang kamu inginkan. Manut saja, nurut saja ga usah terlalu banyak nuntut. Diberi kesempatan untuk hidup di dunia saja seharusnya kamu sudah bersyukur.

Dan masih dalam satu bingkai imajinasi itu, saya raih jemari Tuhan, menciumnya, sembari membalas kata : besok lagi kalau nyuruh saya beli hape, kasih uang dulu, jangan suruh beli pakai uang tabungan. Itu kan tabungan, cadangan devisa saya. Kalau cadangan devisa saya habis, otomatis saya harus utang. Dan kalau saya utang, Anda juga harus ikut membantu membayarnya. Setidaknya membantu saya untuk tetap hidup sampai utang itu lunas. Sebab jika belum lunas dan saya sudah dimatikan, maka Anda juga yang akan disalahkan.

Dan tiba-tiba saja tergambar dengan jelas berbagai macam tabel angsuran.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *