Olahraga Mematikan

Serem bener judulnya, apalagi gambarnya….bwahahaha….

Memangnya ada olahraga yang mematikan?
BANYAK!!!!

Contohnya?

Tawuran, tembak-tembakan sama tentara, tarung bebas lawan Mike Tyson….dan banyak lagi…..

Bercanda ah, bercanda mulu kapan seriusnya.
Serius terus, kapan warasnya…..

Prihatin saja ketika ada beberapa kasus kematian, yang ternyata menimpa penggemar olahraga. Suaminya Bunga Citra itu konon —menurut informasi media massa—, adalah penggemar olahraga. Dia penggemar olahraga crossfit. Yaitu olahraga yang menggabungkan beberapa gerakan senam calisthenics.

Lari sprint, angkat beban, push up, pull up, dan gerakan semacam itu lainnya. Mudahnya, olahraga angkat beban yang tak terlalu berat, namun ditambah banyak gerakan lain.

Crossfit adalah gabungan kardio, bodyworkout, senam, calisthenics, dan juga berbagai macam gerakan lain yang menyasar seluruh otot untuk bergerak.

Saya sendiri pernah melakukan crossfit itu, meski tidak dalam intensitas yang tinggi. Hasilnya? Saya merasa tubuh saya sangat bugar, sangat sehat, dan sangat sulit untuk sakit.

Semua yang serba ‘sangat’ akibat melakukan crossfit itu membuat saya kemudian ‘mendewakan’ olahraga. Dalam artian, saya akan tetap memaksakan diri untuk berolahraga, meski sebelumnya saya sudah melakukan aktifitas fisik yang melelahkan. Jadi, dalam kondisi yang lelah pun, saya akan tetap berolahraga.

Hingga pada akhirnya, akumulasi rasa lelah yang tak bisa saya kendalikan itu membuat saya jatuh sakit. Meski hanya sakit ringan dan memang cukup istirahat kemudian membuat saya sehat kembali.

Tetapi momentum mendapatkan sakit itu kemudian membuat saya menjadi sadar, bahwa memang segala sesuatu yang berlebihan tidak baik adanya. Jika tubuh sudah lelah karena aktifitas fisik, entah karena bekerja atau hal lainnya, maka sebaiknya pada hari yang sama tidak memaksakan untuk berolahraga yang terlampau berat dan menguras tenaga.

Sebelum sakit itu, saya terbiasa melakukan crossfit paling tidak selama tiga puluh menit setiap dua hari sekali. Saya kombinasikan lari sprint, lari ditempat, squat, push up, sit up, pull up, dan juga plank.
Untuk squat sampai dengan plank saya biasa melakukannya sebanyak tiga seri dalam satu sesi.

Tetapi memang ternyata saya sedikit berlebihan.

Mungkin begitu juga yang dialami oleh suami Bunga Citra Lestari. Mungkin almarhum seringkali memaksakan dirinya untuk tetap berolahraga meski fisik sudah sampai pada batas lelah. Hingga, jantungnya yang tidak kuat.

Jauh lebih lama sebelumnya, ada artis Adjie Massaid yang juga meninggal karena serangan jantung setelah bermain sepakbola.

Sehingga, pun pada akhirnya olahraga ibarat pisau. Ketika kita mengunakannya sesuai kebutuhan dan keperluan, maka ia sangat membantu. Tetapi ketika kita tidak menggunakannya sesuai kebutuhan dan keperluan, cum kita malah kurang menguasai kegunaan pisau tersebut, maka kita akan terluka.

Contoh lain, ketika seorang pesepeda meinggal dunia di area downhill, di daerah Klaten. Pesepeda itu meninggal karena mengalami insiden ketika melibas trek downhill. Kurangnya alat keselamatan yang digunakan menjadi salah satu pemicu.

Berolahraga tentu saja harus sesuai dengan kondisi tubuh dan kemampuan kita dalam menjalaninya. Kalau tidak kuat lari, maka jangan memilih sepakbola atau futsal sebagai rutinitas olahraga. Kalau tangan sudah tak terlampau kuat dipakai berkatifitas, maka jangan memilih tenis, badminton, angkat beban, atau olahraga apapun yang banyak menggunakan tangan sebagai media utama.

Intinya, mengenali diri sendiri. Mengenali kondisi tubuh, kemampuan fisik, dan durabilitas keseluruhan badan kita ketika menjalani olahraga.

Ingat, olahraga hanya salah satu faktor penunjang agar hidup kita bahagia. Terpaksa saya katakan itu. Olahraga hanya faktor penunjang, bukan faktor utama. Banyak faktor yang melandasi kehidupan bahagia kita, dan olahraga HANYA salah satunya.

Tentu kita banyak temui orang-orang yang jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga, namun ia selalu sehat dan bahagia menjalani hidupnya, bahkan sampai usia tua.

Jangan pernah memperlakukan olahraga sebagai suatu kewajiban. Dalam artian harus dilakukan apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisi kita saat itu. Jangan pernah.

Lakukan olahraga dengan enjoy, nyaman, tanpa rasa keterpaksaan dan apalagi kebiasaan. Seringkali olahraga dilakukan hanya karena sebatas kebiasaan. Bahwa karena sudah terbiasa melakukannya maka harus tetap dilakukan bagaimanapun kondisi dan situasinya. Tubuh sudah terasa lelah pun masih memaksakan untuk berolahraga. Itu tidak baik, Portisio….

Jika dilakukan dengan baik, dengan benar, dengan tepat sesuai kebutuhan tubuh dan kondisi fisik kita, maka olahraga akan menunjang kehidupan kita dengan sangat baik. Banyak manfaat yang akan kita dapatkan dengan berolahraga secara tepat dan sesuai kebutuhan. Salah satunya, menjadi salah satu faktor penunjang kebahagiaan seperti yang tadi saya sampaikan.

Namun jika dilakukan dengan serampangan, tanpa mengetahui batasan tubuh dan kemampuan fisik kita, maka berolahraga akan menjadi sangat mematikan.

Jadi, kesimpulannya?

Eeeeemmmmm……

Tetaplah berolahraga, tetapi sebelumnya kenali dulu bagaimana kebutuhan tubuh dan ketahanan fisik anda.

Selamat pagi, salam sehat selamanya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *