Ontorejo

“Nek umpama nggon wayang, kowe ki Ontorejo.” [Seumpama di dalam dunia pewayangan, kamu itu Ontorejo] , kata Pak Tuwo sekali waktu ketika kami sedang berbincang ringan sembari minum teh.

Itu terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Jauh sebelum saya menyukai kopi, dan jauh sebelum Pak Tuwo menjadi pikun karena usia dan akhirnya tak lagi mengenali saya. Percakapan itu terjadi ketika kakek saya yang selalu tersenyum itu, masih kuat dan sehat untuk bekerja seharian di sawah.

Saya mengelak, dan sekaligus menolak.

“Kok ora Gatotkaca Pak?” [Kok bukan Gatotkaca Pak?] Saya bertanya, sedikit gusar.

Tentu saja saya gusar, semenjak kecil saya mengidolakan Gatotkaca. Lagipula, nama saya Guritna yang juga adalah nama lain dari Gatotkaca.

“Embuh. Ning kok kowe ki tetep luwih wangun nek dadi Ontorejo.” [Tidak tahu juga. Tetapi kok kamu sepertinya tetap lebih pantas menjadi Ontorejo.] Pak Tuwo memberi penjelasan, yang bagi saya tetap saja belum memuaskan.

Terlebih waktu itu saya baru pertama kali mendengar nama Ontorejo yang dimaksudkan Pak Tuwo.
Kalau Gatotkaca jelas saya sudah tahu. Kesatria otot kawat balung wesi. Sakti mandraguna. Tak mempan senjata apapun, bahkan jika itu senjata para dewa.

Bagi pikiran saya waktu itu, kebal adalah kesaktian paripurna. Maka saya harus mendapatkan ‘legitimasi’ dari Pak Tuwo, untuk mengubah pendapatnya bahwa saya lebih pantas menjadi Gatotkaca, dan bukan Ontorejo.

“Ontorejo ki ampuh ora?” [Ontorejo itu sakti atau tidak?] Saya meminta penjelasan.

“Welah, ampuh banget.” [Sangat sakti] Pak Tuwo menjawab.

Saya masih tetap penasaran, dan belum percaya. Paling tidak menurut saya, minimal sama atau lebih sakti dari Gatotkaca.

“Karo Gatotkaca ampuh sopo?” [Dibanding Gatotkaca lebih sakti siapa?] Saya terus mengejar penjelasan.

“Yo unda-undi.” [Kurang lebih sama]

“Iso mabur?” [Bisa terbang?] Tetap harus minimal sama dengan Gatotkaca, baru saya akan menerima andai harus ‘menjadi’ Ontorejo.

“Iso. Bahkan iso ambles bumi.” [Bisa. Bahkan bisa masuk ke dalam tanah.] Pak Tuwo menjawab dengan nada antusias.

Whaini, saya pun mulai antusias.

Pak Tuwo kemudian bercerita, kalau Ontorejo masih bersaudara dengan Gatotkaca. Satu ayah lain ibu. Saya menganggukkan kepala, tanpa paham maksudnya. Saya belum mengenal konsep poligami, apalagi poligini, poliandri, atau poliklinik.

Satu yang saya pahami, berarti mereka sama-sama anak dari Werkudoro, itu saja.

Pak Tuwo melanjutkan cerita sekaligus penjelasannya, bahwa selain bisa terbang dan ambles bumi, Ontorejo itu kesaktiannya unik. Ludahnya adalah racun.

“Nduwe upas, seko cangkem e.” [Punya racun, dari mulutnya.] Kata Pak Tuwo.

“Trus carane le ngalahke musuhe piye?” [Terus caranya mengalahkan musuh bagaimana?]

Pak Tuwo melanjutkan cerita, bahwa Ontorejo bisa mengalahkan musuhnya, hanya dengan menjilat jejak langkahnya saja. Jejak langkah dari musuhnya, jika dijilat oleh Ontorejo, maka seketika bisa mati empunya jejak langkah itu.

Bweh, sakti bener. Tapi kok ya menjijikkan caranya. Mosok menjilat jejak langkah musuhnya. Lha kalau satu-satunya jejak langkah si musuh ada diantara kotoran sapi? Hiyeekkk….

“Ontorejo, ora ono sik iso mateni.” [Ontorejo, tidak ada yang bisa membunuh atau mengalahkannya] kata Pak Tuwo lagi.

“Lhoh, ra melu perang Bharatayudha?” [Lhoh, tidak ikut perang Bharatayudha?] saya bertanya penasaran. Selain sebab bahwa semua anak-anak Pandawa mati di perang Bharatayudha, informasi tentang Ontorejo yang tak bisa dibunuh membuat saya sedikit bingung.

“Ora, Ontorejo mati sak durunge perang.” [Tidak, Ontorejo mati sebelum perang] Pak Tuwo melanjutkan.

Weladhalah, kesatria kok sudah mati sebelum perang.

“Lha gene mati?”

“Nglalu, bunuh diri.”

Whooaaatttt?????

Pak Tuwo kemudian melanjutkan ceritanya.

Bahwa sebelum perang, dia dan saudaranya yang lain lagi, Ontoseno, berniat akan menghabisi seluruh Kurawa hanya berdua saja.

Kedua kesatria muda itu merasa sudah sangat sakti dan tangguh, sehingga akan bisa mengalahkan seluruh musuh terutama Kurawa dengan hanya berdua saja. Mereka bermaksud ingin menyelematkan seluruh saudaranya agar tak terlibat perang, dan dengan itu tidak beresiko kehilangan nyawa.

Tetapi niat mereka ditangguhkan oleh perintah paman mereka, Prabu Kresna.
Kresna berpendapat bahwa nanti seluruh tatanan dunia akan kacau balau kalau sampai Ontorejo dan Ontoseno maju berdua menghabisi seluruh Kurawa. Maka kemudian Kresna memerintahkan keduanya untuk menghadap eyangnya, Sang Hyang Wenang.

Ontoseno dan Ontorejo kemudian bergegas menghadap Sang Hyang Wenang, eyang mereka, dewa dari segala dewa.

Niat mereka adalah meminta ijin untuk menghabisi trah Kurawa dengan hanya berdua saja. Namun ternyata Sang Hyang Wenang berkehendak lain, mereka diminta untuk tidak turun gelanggang. Bahkan, mereka diminta untuk moksa, mengakhiri kehidupan mereka sendiri. Sebelum perang Bharatayudha.

Dus, Ontorejo dan Ontoseno mengindahkan perintah dari eyang mereka. Keduanya moksa, tepat sehari sebelum perang Bharatayudha.


Apa hikmah yang bisa diambil?

Ah, saya tak biasa mengambil hikmah. Anda silahkan menyimpulkan sendiri cerita singkat mengenai Ontorejo tersebut.

Yang jelas setelah percakapan dengan Pak Tuwo tersebut, pikiran saya mulai teralihkan dari Gatotkaca. Meski saya membawa nama Guritna, yang juga adalah nama lain Gatotkaca, kini pikiran saya selalu terngiang dengan kalimat Pak Tuwo.

Ontorejo, tak ada yang bisa membunuh atau mengalahkannya, selain dirinya sendiri.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *