ORANG-ORANG BAIK YANG SEDERHANA

Di dalam arus perubahan dunia yang semakin mengarah menuju egosentrisme pribadi, individual, dan lunturnya kepekaan sosial, ternyata masih ada sebentuk anomali yang menurut saya gagah melawan arus. Meski bentuk perlawanan yang dilakukan hanya berkutat pada seputar diri mereka sendiri, dalam lingkup sempit, tetapi setidaknya mereka melawan, dan bukannya ikut terseret arus deras yang mengerikan.
Ya, melawan arus adalah upaya untuk tetap kuat, waras, dan tak sekadar ikut larut teromabng-ambing dalam kebingungan.

Sementara banyak orang berbondong-bondong melakukan penipuan baik melalui cara korupsi maupun sekadar obral janji, di celah sempit dan hampir tak terlihat dari mata pandang tingkatan sosial manapun, masih ada orang-orang baik yang seakan bukan berasal dari penggal waktu dan jaman saat ini. Jangankan melakukan penipuan atau kebohongan melalui janji-janji, sedang dalam pergaulan sosial sehari-hari, mereka tak nampak dan seakan tenggelam.
Tetapi bukan berarti mereka tak mampu melakukan perbuatan anomali dari semakin runyam dan rumitnya gerak jaman. Melakukan kebaikan-kebaikan sederhana yang hampir mustahil dilakukan kebanyakan orang saat ini. Kebaikan sederhana namun dengan dampak yang tidak sederhana. Dampaknya demikian besar, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Salah satu orang sederhana yang melakukan kebaikan-kebaikan sederhana tersebut adalah petugas keamanan SDN Lempuyangan. Seorang laki-laki dengan usia saat itu belum lebih dari tiga puluh lima tahun. Saya tak pernah mengenal namanya, tak juga pernah bertanya, suatu hal yang sedikit saya sesali saat ini. Saya mengenal perbuatan baiknya karena waktu itu adik bungsu saya bersekolah disana. Karena sering menjemput adik saya sepulang sekolah, maka saya juga sering kemudian berinteraksi dengannya.

Petugas jaga itu masih berstatus sebagai pegawai honorer. Maka dari itu sekaligus bisa dipastikan bahwa penghasilannya sebagai petugas jaga, jauh lebih kecil daripada koleganya yang sudah berstatus sebagai pegawai tetap, atau bahkan PNS. Tetapi apa yang dilakukannya hampir setiap hari, membuat saya tercengang, sekaligus tercenung.

Setiap hari, pada pagi dan siang, selain mengatur lalu lintas di depan SDN Lempuyangan tempatnya bekerja, menjaga anak-anak agar tak mendapat insiden kecelakaan lalu-lintas, sekaligus ia adalah ‘mesin komunikasi portable’.

Menjadi semacam telepon umum serbaguna, bagi anak-anak yang bersekolah disana.

Pernah suatu kali saya melihat salah seorang murid menghampirinya, dan dengan jelas saya dapat mendengar bahwa murid tersebut meminjam telepon seluler miliknya. Anak tersebut meminjam telepon untuk menghubungi orang tuanya, memberitahu bahwa ia sudah selesai dengan jam sekolah, dan meminta untuk dijemput saat itu juga.
Petugas keamanan itu tanpa ragu mengulurkan teleponnya, dan membiarkan si anak berbicara sekian menit lamanya.

Tak hanya satu, setelahnya saya melihat ada beberapa anak lain yang melakukan hal serupa. Lagi-lagi, petugas jaga keamanan itu tanpa ragu memberikannya. Bahkan, beberapa anak lain dibantunya untuk menelepon pada orang tua mereka.

Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan panggilan telepon dari petugas keamanan tersebut. Ia menelepon untuk memberitahu bahwa pada hari itu anak-anak pulang dari jam belajar mengajar lebih awal. Saya mengucapkan banyak terima kasih ketika akhirnya hari itu bertemu untuk menjemput adik saya yang sudah menunggu.

Petugas keamanan itu, sama sekali tak memikirkan berapa nominal uang yang harus ia keluarkan untuk membeli pulsa. Sama sekali tidak.
Bagaimana saya tahu tentang hal itu?

Suatu kali Mamak, ibu saya, pernah bertanya pada si petugas keamanan perihal kebiasaan anak-anak meminjam hape untuk menghubungi orang tua mereka. Mamak bertanya apakah ia tidak rugi, atau paling tidak menjadikan hal itu sebagai sebab pengeluaran yang lebih banyak. Tentu saja, menelepon dengan hape membutuhkan pulsa, bukan kemampuan telepati.

Jawaban petugas keamanan itu seketika membuat saya tercenung, ketika suatu waktu Mamak bercerita kepada saya. Ia menjawab :
“Mboten nunopo Bu, mboten sepiro. Sik penting lare-lare mboten kapiran.”
(Tidak apa-apa Bu, tidak seberapa. Yang penting anak-anak tidak kelamaan menunggu jemputan)

Jawaban sederhana, yang bagi saya memuat nilai sosial serta kemanusiaan yang tak sesederhana. Bagaimana bisa ia tak terpikir tentang untung-rugi, menepikan dirinya sendiri, demi agar anak-anak pada tempatnya bekerja tak mengalami kesulitan perihal komunikasi dengan orang tua mereka. Harus saya akui, petugas keamanan pada SDN Lempuyangan itu merupakan salah satu inspirasi bagi saya untuk tak hanya memikirkan diri sendiri di dalam kehidupan. Meski juga tak kemudian saya bisa serta merta menirunya.

Berselang sekian tahun kemudian, saya kembali menemui hal serupa. Kali ini pada tempat saya bekerja, MTsN 8 Sleman. Tokohnya juga hampir sama, yaitu petugas keamanan. Hanya saja kali ada dua orang lain yang melakukan hal serupa, dua orang petugas kebersihan. Bertiga, mereka menjadi langganan bagi anak-anak untuk menghubungi orang tua masing-masing, untuk berbagai keperluan. Paling sering, menghubungi untuk segera menjemput ketika jam belajar mengajar telah selesai.

Sering saya menyaksikan sendiri ketika anak-anak meminjam hape mereka, dan kemudian melakukan panggilan telepon atau mengirim pesan singkat. Dan ya, ketiga kawan saya itu tak pernah sekalipun menunjukkan rasa sungkan ketika anak-anak meminta bantuan mereka.

Ketiga kawan saya itu hanya orang-orang sederhana, dengan profesi sederhana, dengan gaji dan honor kerja yang juga tak seberapa. Tetapi mereka mampu berlaku dan bertindak layaknya orang-orang istimewa. Bagi saya, mereka memang istimewa.

Mungkin memang jauh lebih banyak orang-orang yang berbuat baik dalam skala besar dan mampu menciptakan efek perubahan yang luas. Tetapi melihat lingkup pergaulan sosial (pekerjaan) mereka yang hanya berkutat pada sebuah madrasah kecil, apa yang mereka lakukan jauh melampaui apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, termasuk saya. Ya, sekali lagi saya mendapat tamparan keras dari orang-orang disekitar saya perihal perbuatan-perbuatan baik yang sederhana.

Semestinya, berbuat baik memang seharusnya selalu sederhana. Tanpa tambahan syarat untuk mendapat imbal balik dan balasan. Tanpa keinginan untuk dicatat sebagai suatu kebaikan.
Mereka hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan.

Pada orang-orang seperti mereka, saya akan selalu memberikan penghormatan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

25 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.