Pada Akhirnya, Sepi Adalah Tepian Akhir

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Aku pernah benar-benar sampai di tengah, pada pusat hingar bingar, dengan segala senyum serta salam sapa bahkan dari yang tak dikenal. Semua hampir terasa istimewa, kecuali bayang-bayang perihal esok hari jika tak berjalan semestinya.

Dan esok hari yang ditakutkan itu, jika tak berjalan semestinya, terjadi juga. Padaku, dengan kehendak semesta melalui kalian semua.

Ah ya….kalian semua.

Siapa?

Siapa saja yang menghendaki ku pergi dan berjalan sendiri.

Di tengah perasaan bahwa semuanya baik-baik saja. Dalam keadaan bahwa semua hal tak ada yang perlu dirisaukan, aku harus pergi.

Mungkin pada awalnya memang ada perasaan terpaksa, untuk melangkahkan kaki menjauhi hingar bingar, kemudian pergi.
Pada awalnya memang semua terasa menyakitkan, dan semua terasa bagaikan pengkhianatan.

Jauh, jauh kaki kulangkahkan untuk terus menjauh. Tak terhitung depa, tombak, meter, atau langkah yang sudah kulalui. Pada awalnya semua hanya karena untuk menjauhkan dendam, agar tak terbalaskan. Semua untuk menjaga agar aku, tak melampiaskan semua dendam.

Aku selalu berpendapat —mulanya—, bahwa semua perasaan kecewa harus dilampiaskan. Bahwa semua pengkhianatan, harus terbalaskan.

Mungkin aku memang tak cukup dewasa, untuk mengakui kekalahan, pada langkah kaki pertama. Aku tak merasa kalah. Aku selalu merasa ada yang tak benar, dan oleh karena itu ‘kekalahanku’ adalah kesalahan.

Dan aku menimpakan kesalahan itu pada kalian, yang menghendaki aku untuk pergi.

Tetapi, tak mengapa juga bukan aku menimpakan hal itu pada kalian?
Bukannya aku mencari pembenaran, tetapi…kalian memang mempunyai andil.

Diam-diam, kalian menikamku dari belakang.
Diam-diam, kalian menginginkan aku pergi, meski selalu mengulas senyum serta renyah ucapan ketika berhadapan.

Ku kira, kita takkan pernah impas.
Kalian akan selalu menang, karena kalian tak pernah berani menghadapiku sendirian.

Pada sekian ribu langkahku yang semakin menjauh, perlahan aku mulai sadar, bahwa sudah saatnya mengakui kekalahan.

Bukan mengakui kekalahan dihadapan kalian. Tetapi menegaskan perasaan kalah itu, pada diriku sendiri. Meyakinkan hati serta pikiranku sendiri, bahwa aku telah kalah dalam satu permainan.

Selanjutnya, aku tak berbuat apapun selain melapangkan perasaan, untuk menerima kekalahan. Satu hal yang terus aku lakukan, adalah terus melangkahkan kaki, untuk menjauh pergi. Aku takpernah bosan membisikkan kata penyemangat, pada kaki ku sendiri, untuk terus melangkah sejauh mungkin.

Melangkahkan kaki bagiku, adalah obat mujarab sekaligus satu-satunya hal yang bisa aku lakukan, untuk tak terus menerus larut menyuntuki kekalahan.

Sekian ribu langkah setelah pengakuan kekalahan itu, aku baru memutuskan untuk membuka permainan baru. Menjadi pemain tunggal, dan memainkan permainan yang mungkin juga takkan pernah aku menangkan.
Meski begitu, setidaknya kali ini jika kalian kembali masuk dalam permainan, aku adalah pemilik permainannya. Jadi, kalian juga takkan bisa seenaknya lagi menendangku dari belakang, dan memaksaku kalah dengan cara yang tidak benar.

Permainan baru dengan menjadi satu-satunya pemain tunggal, membuatku mempunyai jeda untuk sejenak menengok kebelakang. Bahwa aku sudah cukupjauh meninggalkan kalian, dan bahwa tak ada lagi peluang untuk ku kembali berada di tengah kalian.
Bukannya aku enggan, namun aku merasa bahwa pada sepanjang jalan yang kulalui, aku melihat banyak tempat yang lebih baik untuk dikunjungi, daripada tempat awal dan kembali.

Bukankah juga kalian seharusnya bersyukur? Jika aku tak pernah kembali.
Bukankah itu yang kalian inginkan?

Namun jika boleh bertanya, pernahkah aku menyakiti kalian?

Tak perlu juga kalian jawab, aku sudah tahu keinginan kalian. Dan aku mengabulkannya, tanpa perlu menjadi Tuhan.

Seharusnya memang kalian bersyukur, bahwa aku sudah bersumpah takkan pernah kembali. Dengan begitu, takkan perlu ada yang dirisaukan dengan keberadaanku.
Lagipula, aku sudah takkan pernah bisa lagi menjabat erat tangan kalian.

Ada sela dan ganjalan yang takkan pernah hilang, yang menjadi pembatas untuk tangan kita berjabat erat.

Kalian tahu? Takkan ada lagi kehangatan.

Dan aku sebenarnya bersyukur, mampu mengabulkan keinginan kalian itu. Sungguh.

Kita….takkan pernah impas.

Ini bukan suara kekecewaan, bukan ungkapan kemarahan. Sungguh. Aku sudah tak lagi merasa kecewa terhadap kalian.

Hanya saja, aku sudah menganggap tak lagi mengenal kalian, secara dekat dan personal.

Banyak luka sepanjang perjalanan itu, kalian tahu?
Dan luka itu mengalihkan segala ingatanku perihal pengenalan terhadap kalian.
Aku fokus menyembuhkan luka, karena duri dan semak belukar tajam, agar terus bisa melangkah menjauhi segala hingar bingar.

Aku pun juga menyadari, bahwa tempatku tak seharusnya bersama kalian.

Kalian adalah balutan kehormatan tanpa sepantasnya bercampur dengan sampah semacam diriku. Maka aku menyadarinya, dan memilih untuk terus melangkah menjauh pergi.

Meski perjalananku penuh luka, namun tak sekalipun aku menangis. Aku bahkan selalu tertawa melihat satu lubang dari kaki ku mengeluarkan darah, dan terus bertambah. Aku tertawa melihatnya, dan kugunakan sebagai cara untuk melupakan hal-hal terdahulu.

Harusnya kalian bangga dengan keberhasilan mengusirku. Seharusnya semakin bangga karena aku juga memutuskan takkan pernah kembali lagi.

Perihal jabat tangan yang takkan lagi bisa erat menyatukan, toh itu yang kalian inginkan. Bukankah menikamku dari belakang adalah cara kalian untuk merenggangkan jabat tangan yang pernah erat itu?

Sungguh, aku tak pernah menaruh dendam.

Aku bahkan berterima kasih kepada kalian, karena mendorongku untuk jauh melangkah pergi. Dengan melangkah pergi, aku tahu bahwa dunia tak sempit dan menakutkan seperti yang sebelumnya aku takutkan.
Dunia demikian luas, dan berjalan adalah cara mengenalnya.

Jelas juga bahwa memang banyak luka dalam mengenal jalan-jalan asing yang harus kulalui, dalam kesendirian. Tetapi, aku juga menjadi semakin berani.

Aku takkan pernah lagi merasakan kesepian, karena sepi sudah menyublim menyatu dengan langkahku, menyatu dengan tiap helaan nafas dan masuk dalam peredaran darahku. Tak ada lagi sepi yang menakutkan. Kini yang ada adalah sepi yang menguatkan.

Maka terima kasihku untuk kalian semua, yang sudah memaksaku untuk pergi, dan mengusirku dari tengah hingar bingar.

Semoga kalian juga merasa semakin menyenangkan dalam menjalani kehidupan. Sama sepertiku, yang merasa hidup semakin menyenangkan, setelah jauh dari kalian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.