Pada Akhirnya Tetap Tinggal Atau Pergi, Adalah Pilihan Diri Sendiri

Gambar Ilustrasi. Pixabay

Tidak semua hal atau kejadian yang menimpa diri di dalam hidup harus dibiarkan saja memang, atau diterima dengan lapang dada. Tak mesti seperti itu. Ada juga yang harus mendapatkan respon berupa tindakan-tindakan, untuk mengakomodir segala perasaan yang timbul sebagai akibat dari kejadian tersebut.

Tak ada yang pernah salah dengan orang-orang yang ‘protes’, atau berbuat sesuatu, atas segala kejadian yang menimpa dirinya di dalam kehidupan. Tak ada yang salah dengan hal itu.

Seperti juga halnya tak ada yang salah dengan orang-orang yang diam serta menerima segala hal atau kejadian yang menimpa dirinya di dalam kehidupan. Tak ada yang salah juga dengan diamnya seseorang dalam menyikapi suatu kejadian.

Semuanya benar, dan tak ada yang salah. Jika ada yang salah, adalah teriakan yang dipaksakan, atau diam yang terpaksa. Tak pernah ada kebaikan dalam keterpaksaan. Meski dalih dalam tiap keterpaksaan adalah pembiasaan, tetap takkan bisa dibenarkan.

Lebih baik memilih salah satunya, bergerak untuk mencari kenyamanan atas suatu kejadian yang menimpa tanpa pernah disangka-sangka, atau diam dan menerima semuanya. Sekali lagi, semua harus dengan kesadaran.

Boleh saja seketika kita berteriak karena terkejut atas sesuatu yang tanpa disangka menimpa kita.
Boleh saja seketika kita diam membisu, karena sesuatu yang datang tanpa disangka-sangka, kejadian yang datang menimpa tanpa ada kesiapan dalam diri kita, akan memberi kejutan yang bagi beberapa orang akan melahirkan diam.

Tak ada yang salah….

Protes lah kalau memang harus protes, bergerak kalau memang harus bergerak. Keinginan untuk bergerak dan merespon kejadian tidak mengenakkan di dalam hidup bersifat alamiah. Tak ada yang berlebihan dengan hal itu. Itu adalah perasaan yang alami saja, dan terkadang mengalir sebegitu rupa.

Hanya saja perlu disematkan sebuah catatan. Setelah berteriak, lantas apalagi?

Apakah hanya cukup dengan berteriak dan melancarkan protes terus menerus? Tentu saja tidak. Ada hal-hal yang harus dipikirkan secara matang, perihal langkah selanjutnya, setelah melakukan gugatan atas sesuatu yang tidak menyenangkan.

Begitu juga ketika memilih diam. Diam bukan berarti mengeliminasi peluang lain untuk bertindak atau memutuskan sesuatu setelahnya. Diam mungkin hanya bentuk kontemplasi, menenangkan diri, berdialog dengan diri sendiri, tentang apa yang sudah terjadi. Diam adalah langkah awal, metoda dasar untuk bergerak lebih —di kemudian hari—.

Biasanya, setelah responsif, atau diam yang kontemplatif, ada hal-hal yang harus diputuskan. Untuk bergerak, untuk memutuskan apa yang baik bagi hari-hari ke depan. Memutuskan apa yang baik setelah mengalami kejadian yang tak menyenangkan serta tak mengenakkan.

Tidak baik memendam terlalu lama terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan atau tidak mengenakkan. Hal itu lama-kelamaan, akan menimbulkan tekanan. Dan jika tidak bisa mengolahnya dengan baik, pembiaran akan tekanan yang konstan, akan berdampak kurang baik bagi keseluruhan kehidupan kita.

Terhadap situasi dan kondisi kurang baik yang tiba-tiba datang, beberapa orang akan meresponnya dengan pergi. Pergi menjauh jika sebab-sebabnya adalah kondisi lingkungan yang tak lagi kondusif bagi dirinya. Pergi bukan berarti kalah. Terkadang, pergi adalah kemenangan. Setidaknya kemenangan bagi diri sendiri. Menang dari kondisi tidak menyenangkan, untuk melepaskan diri dari keterpurukan.

Tetapi pergi ataupun tetap tinggal pun juga adalah pilihan, seperti halnya memilih berteriak atau tetap diam. Pergi maupun tinggal adalah kewajaran semata, bukan sesuatu yang kemudian harus dihubungkan dengan menerima atau tidak menerima takdir.

Takdir adalah sesuatu yang sudah kita jalani. Maka memutuskan pergi menjauh setelah mengalami kejadian tak menyenangkan, adalah juga sikap menerima takdir.

Tak ada seorang pun yang layak menghakimi pilihan orang lain, untuk merespon sesuatu yang menimpa dirinya. Karena masing-masing orang mempunyai koordinat hati dan perasaan yang berbeda dalam mengendapkan suatu kejadian yang menimpa mereka.

Penghayatan masing-masing orang dalam mencecap rasa asin dan manis kehidupan, takkan pernah sama satu dengan yang lainnya.
Maka takkan pernah ada kelayakan pada satu orang untuk merasa lebih mampu menghadapi sesuatu kejadian tak menyenangkan dalam hidup, dibandingkan yang lainnya.

Masing-masing orang mempunyai framing penerimaan yang berbeda untuk bersikap merespon jalan kehidupannya.

Dan memilih pergi adalah satu sikap yang tak layak diberikan penghakiman bahwa mereka yang memilih pergi, adalah mereka yang pengecut dan memilih jalan untuk berlari.

Begitu juga orang yang berani memilih pergi, tak lantas berarti bahwa ia satu langkah berada di depan, daripada mereka yang tetap memilih untuk tinggal.

Pada akhirnya pergi atau tetap tinggal adalah pilihan.

Ia hanyalah satu proses untuk melangkah mencari kenyamanan diri, yang takkan mungkin didapatkan jika tidak berasal dari diri sendiri.

Tinggal memikirkan apakah langkah yang diambil sudah dipikirkan serta dipertimbangkan dengan matang, ataukah hanya sekadar pelampiasan emosi sesaat.

Jika sudah dipertimbangkan dengan matang, maka tak ada lagi alasan untuk menunda.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.