Pasrah Dengan Menggunakan Akal

Atas keputusan Tuhan, kita diharuskan untuk pasrah dan menerima beserta syarat juga ketentuan. Syarat dan ketentuan itu bersifat mutlak, bersifat final dan mengikat. Jauh lebih ‘kejam’ dari undang-undang yang masih bisa digugat ke Mahkamah Konstitusi.

Tetapi itu hanya sebagian. Hanya sebagian saja keputusan Tuhan yang bersifat final dan mengikat. Selebihnya bersifat dialektis dan memungkinkan untuk tawar menawar.

Keputusan Tuhan yang bersifat final dan mengikat itu misalnya saja anda terlahir dari rahim ibu anda. Anda tak bisa memilih akan terlahir dari rahim perempuan manapun, dan keputusan Tuhan untuk melahirkan anda ke dunia melalui rahim ibu adalah sesuatu yang terbaik. Sampai mati kita tak akan bisa menggugat dan tawar menawar mengenai hal itu. Begitu terlahir dari rahim ibu, selamanya ia adalah ibu kita. Itu bersifat final dan mengikat. Anda tak bisa memilih terlahir dari rahim Kate Middleton hanya agar dapat warisan sebagian tanah Inggris. Atau juga anda takkan bisa memilih terlahir dari rahim Ibu Fatmawati, agar kelak mendapat privilige dalam hal politik, misalnya.

Keputusan Tuhan yang juga bersifat final misalnya, anda terlahir sebagai seorang dari suku Jawa. Sampai kapanpun dan dimanapun anda adalah Jawa. Bahkan nyamuk pun akan tertawa lepas andai anda mengingkari Jawa, dan mengaku sebagai suku Badui Arab misalnya. Mana ada Badui pesek seperti anda saya?

Masih banyak lagi keputusan Tuhan yang bersifat final dan mengikat, dan kita tak diberi kesempatan sedikitpun untuk bernegosiasi tentang hal itu. Silahkan dipikirkan dan direnungkan beberapa hal yang lain itu.

Selain mempunyai keputusan yang bersifat final dan mengikat, Tuhan juga mempunyai keputusan yang hasilnya bisa dinegosiasikan. Bisa ditawar, dan memang Tuhan membuka peluang untuk tawar menawar itu. Silahkan manusia menawar, nanti pada ‘harga’ berapa baru terserah Tuhan untuk memberikan.

Misalnya saja rejeki berupa uang yang diberikan kepada kita atas jerih payah dalam bekerja. Tuhan memberikan peluang kepada kita untuk menawar sebanyak apa kita menginginkan upah tersebut. Jika kita bekerja dan berusaha dengan giat, dengan tekun, disertai tekad keras, maka tentu saja peluang Tuhan untuk memberikan ‘lebih’ kepada kita menjadi terbuka. Cara-cara kita dalam bekerja dan berusaha itulah yang menjadi media serta sarana dalam tawar menawar dengan Tuhan perihal rejeki berupa uang.

Besarannya memang Tuhan yang menentukan, tetapi kita mempunyai peluang untuk bernegosiasi. Bagaimana, Tuhan cukup baik bukan?

Dalam bahasa agama, itu dinamakan ikhtiar. Dalam bahasa dan istilah saya pribadi, itu bernama fait accompli. Sssttttt, itu sama artinya dengan memojokkan Tuhan. Bagi saya, Tuhan saya anggap akrab memang, dan kami saling menyayangi juga mencintai. Sehingga terjadi saling pengertian diantara kami. Terkadang jika saya merasa sudah bekerja keras dan hasilnya kok belum sesuai dengan ekspektasi, saya akan bilang begini :

“Ya Allah, tega po sama saya? Sudah sedemikian rupa lho ini.”

Kadang Tuhan kemudian memang ‘kasihan’, dan memberikan sesuai dengan apa yang saya harapkan. Namun terkadang juga tetap saja hasilnya tak sesuai harapan.

Nah, ketika hasilnya tetap tak sesuai dengan harapan padahal saya sudah berusaha sedemikian rupa, maka pada saat itulah saya Pasrah Dengan Menggunakan Akal sehat. Saya pasrah setelah berusaha sampai pada titik dimana saya tak lagi mampu melakukan lebih baik dari itu. Kalau kata orang-orang terpelajar, saya pasrah setelah berusaha secara optimal.

Hal itu termasuk pada kenyataan bahwa saya sampai saat ini belum mempunyai keturunan. Saya sudah berusaha optimal, namun tetap saja Tuhan belum memberikan. Maka saya pasrah dengan menggunakan akal. Mungkin saja saya memang dianggap tidak mampu untuk mempunyai dan mendidik anak keturunan saat ini.

Andai pun saya sampai mati tidak mempunyai keturunan, saya tetap pasrah dengan menggunakan akal. Mungkin saja Tuhan memutuskan hal itu pada diri saya, dengan maksud agar saya tak perlu dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Begitulah saya memakai kata pasrah, namun tetap dengan menggunakan akal. Bukan pasrah yang hanya eskapisme atau pelarian dari rasa malas dan enggan untuk berusaha.

Dalam kasus yang sedang berkembang belakangan ini, perihal Covid-19, saya pun pasrah dengan menggunakan akal.

Dalam arti, saya berusaha ikut untuk menjaga keadaan pada skala yang mampu saya rengkuh. Menghindari untuk berada dalam kerumunan atau acara-acara yang melibatkan banyak orang. Dengan begitu, andai ternyata saya terpapar, saya pun tak menularkannya kepada orang lain. Ketakutan terbesar saya dalam hal Covid ini bukanlah ketika saya terpapar dan kemudian mati. Bukan itu.

Tetapi perihal sebelum mati itu, jika ternyata saya menularkannya pada banyak orang dan apalagi keluarga, tetangga, juga kerabat dan teman-teman dekat. Jika tak berpotensi menular, saya sih kalem saja. Darwis begitu. Modar yo uwis, mati ya sudah. Sederhana.

Namun sekali lagi, menjadi tidak sederhana karena ternyata Covid ini berpotensi menular terhadap orang lain. Bagi saya, itu mengerikan. Dan saya pribadi akan sangat merasa bersalah andai sampai menularkannya kepada orang lain karena suatu tindakan yang ceroboh.

Tetapi andai sudah berusaha menjaga sedemikian rupa namun tetap terpapar juga, itu adalah saatnya untuk pasrah. Pasrah dengan menggunakan akal sehat.

Jadi sekarang sudah tahu ya, kalau dalam beberapa hal Tuhan membuka peluang bagi manusia untuk bernegosiasi. Usaha dan atau ikhtiar kita itulah media dan sarana negosiasinya.

Jadi, selamat berakhir pekan bagi yang menjalankan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *