Pekan Neraka Bagi Kasir Swalayan

Ilustrasi Kasir. Gambar : Pixabay

Dalam hari-hari seperti ini, satu pekan atau beberapa hari menjelang lebaran, adalah hari penyiksaan. Bagi kasir-kasir di pasar swalayan, atau tempat-tempat perbelanjaan. Bisa jadi dalam delapan atau sepuluh jam kerja, mereka tak sempat duduk, apalagi menghela nafas dan sejenak beristirahat.

Antrian panjang mengular, di depan mereka, dari orang-orang yang berbelanja, dan menunggu pembayaran. Beberapa pengantri, orang yang berbelanja, terkadang mengeluhkan lamanya waktu tunggu, atau panjangnya antrian. Tetapi pernahkah mereka membayangkan untuk sejenak saja, barang satu atau dua jam, berada dalam posisi petugas kasir itu?

Sudah terus menerus berdiri, dan mata serta tangan harus tetap berkonsentrasi agar tak salah hitung terhadap barang belanjaan pengunjung.

Saya sendiri tak sanggup bahkan sekadar untuk membayangkan, jika harus bekerja seperti mereka. Hampir tak ada waktu bahkan jika sekadar membuka WA apakah ada kabar terbaru perihal orang-orang yang sambat terhadap ibadah puasa mereka.

Saya beberapa kali melihat kasir yang sudah sangat kepayahan, melayani pembeli. Mungkin sedari awal jam kerjanya, sudah banyak yang harus mereka layani. Tetapi mereka tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik, dan mengulas senyum pada wajahnya.

Padahal, banyak dari para pembeli, yang hanya harus menunggu giliran tanpa melakukan apa-apa, memasang wajah masam.

Keberanian para pekerja semacam mereka, yang berani memilih hidup dengan mencari nafkah sebagai petugas kasir, terkadang membuat saya kecut terhadap kemampuan diri sendiri. Saya bisa bekerja sesuka hati, merancang pekerjaan dari waktu ke waktu sesuai suasana hati. Jika harus berada di dalam posisi mereka, mungkin saya akan menangis setiap hari.

Mungkin saya sama-sama hanyalah buruh seperti mereka, tetapi dalam hal manajemen beban pekerjaan, saya berada dalam satu tingkat yang lebih nyaman. Saya bisa menyusun prioritas penyelesaian pekerjaan sesuai dengan ‘waktu luang’ yang saya miliki, saya juga beristirahat ketika lelah mendera, dan juga saya tak harus menghadapi banyak orang dengan berbagai tipikal mental.

Saya hanya tak bisa membayangkan, jika sudah lelah mendera dan harus menghadapi orang-orang dengan mental labil. Orang-orang yang hanya bisa mengerti kebutuhan diri mereka sendiri, tanpa bisa memahami posisi dan kondisi orang lain. Apalagi menghadapi orang-orang yang merasa kelelahan karena mengantri terlalu lama.

Hey, kalian hanya sekadar mengantri saja, dan tak harus bekerja menjadi kasir seperti mereka.

Sebenarnya saya ingin meneriakkan kalimat itu, pada mereka yang mengantri sembari memasang muka masam, dan menggerutu pada petugas kasir. Saya hanya sering merasa tak tega saja pada pekerja seperti mereka.

Mungkin perasaan saya berlebihan. Dan sebenarnya mereka tak patut dikasihani. Pekerja kasir seperti itu adalah pekerja-pekerja hebat yang berani memilih jalan terjal yang tak mampu setiap orang mau menjalani. Sehingga mengasihani mereka seperti hanya akan menampar muka sendiri. Tak pernah ada cerita yang lebih lemah mengasihani yang lebih kuat dan tangguh.

Beberapa hari yang lalu saya sempat menemui seorang petugas kasir yang masih berusia muda, perempuan. Saya simpulkan ia masih muda dari wajahnya, yang belum banyak berkerut seperti wajah saya. Hahaaa….

Hari itu baru saja beranjak siang, baru saja meninggalkan pagi untuk menuju teriknya hari. Perempuan muda itu dengan wajah memelas berkata pada koleganya, bahwa akan membatalkan puasa karena kepalanya sudah terasa demikian pusing.

Saya sedikit bisa memahami, antrian pembeli yang menunggunya untuk melakukan pembayaran, demikian panjang mengular. Saya sendiri mengantri lebih dari setengah jam. Bisa dipahami kalau kasir muda itu mengeluh pusing. Andai sedari pagi antrian sudah panjang semacam itu, tanpa sedikitpun ada jeda untuk sekadar duduk, bisa dipastikan kelelahan akan mendera.

Tentu saja saya tidak tahu apakah kasir muda itu akhirnya membatalkan puasanya atau tidak. Toh andai membatalkan puasanya, juga tak mengapa. Daripada lebih banyak efek buruk yang akan mendera badannya.

Tak usah memberikan penghakiman bahwa itu adalah bentuk ujian dari ibadah puasa yang sedang dijalani. Yang memberikan penghakiman semacam itu, beranikah menjalani hidup dengan mencari nafkah sebagai seorang petugas kasir pasar swalayan?
Beranikah barang setahun atau dua tahun menjalaninya?

Saya yakin, anda yang menghakimi, tak akan berani.

Sebagai sesama manusia, apa yang bisa kita lakukan adalah dengan saling menghargai, dan saling mendukung dalam kebaikan.
Bukan saling menghakimi, dan merasa diri paling terhormat dan suci.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1,206 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.