Pelit Dan Irit Itu Beda, Bos

Tak perlu saya sebutkan di mana tempat kejadiannya. Tetapi yang jelas masih di Indonesia, dan bukan di Wakanda apalagi di Planet Pluto yang sekarang bukan lagi planet. Juga tak perlu saya sebutkan inisial apalagi nama-nama, nanti saya bisa diseret ke pengadilan gegara UU ITE.

Ceritanya adalah mengenai SPT tahunan pajak. Iya, SPT yang kepanjangannya adalah Surat Pemberitahuan. Lhoh, kemana ‘T’ nya? Harusnya kan cuma SP ya? Ooh, mungkin kepanjangannya Surat Pemberi Tahuan. Nah kan, masih tetap SPT.

Cara pelaporan SPT bagi wajib pajak pribadi yang mudahnya ga ketulungan itu, nyatanya bagi beberapa orang cukup merepotkan, dan menyusahkan. Bagi yang terbiasa mengisi, apalagi cuma untuk SPT Pajak Penghasilan yang sudah jelas dan gamblang dokumen sumber serta perhitungannya, tak butuh waktu lebih dari 5 menit, jadi.

Tetapi kalau tidak terbiasa dan mempunyai phobia takut salah, jangankan 5 menit, 5 jam juga masih ‘ona-anu‘ karena takut salah dalam mengisi. Sebenarnya tak usah takut salah, apalagi bagi para perempuan yang akan mengisi SPT. Yang selalu salah kan laki-laki, ya?
Kalau perempuan mah auto-benar. Maka kalau selesai mengisi dan tinggal konfirmasi tetapi aplikasi e-filling memperingatkan jika masih ada kekeliruan, kurang benar dalam pengisian, patut dicurigai bahwa aplikasi e-filling dari Ditjen Pajak itu berjenis kelamin laki-laki.

Maka atas nama Aji Guritna Mumpung, saya mengambil keuntungan dari beberapa orang yang takut salah di sekitar saya, dan orang-orang yang tak mau ribet mengisi SPT-nya. Yaitu dengan menarik biaya jasa pengerjaan SPT tahunan itu. Tinggal berikan alamat email dan password-nya, serta nomor NPWP beserta password untuk masuk ke aplikasi pajak online. Jangan khawatir saya salah gunakan segala email dan password itu, toh andai ada penyalahgunaan, tinggal laporkan saja saya kepada malaikat polisi.

Beberapa orang yang sebenarnya bisa mengerjakan sendiri, ada juga yang memilih menyuruh saya untuk mengerjakannya. Dan mau memberi 50 ribu rupiah. Eits tunggu dulu Ferguso. Uang itu tidak masuk dalam kantong pribadi saya. Uang itu untuk kepentingan jamaah, kepentingan banyak orang, dan untuk kebersamaan.

Begini, tempo hari kami [saya dan kawan-kawan kantor dalam satu bidang] mengadakan suatu acara rafting di Kali Elo, Magelang. Bukan acara resmi, tetapi acara buang sial lelah setelah capek didera aktifitas. Ternyata rafting itu lumayan mahal juga, apalagi bagi saya dan beberapa kawan. Satu kapal dengan isi maksimal 5 orang, harus membayar 750 ribu rupiah. Akibatnya, tentu saja kami harus patungan, urunan, bantingan.

Pada satuan kerja kecil seperti kami, tak ada anggaran untuk melakukan character building atau capacity building bagi pegawai, dengan output berupa outbond, piknik, atau rafting, dan dengan outcome berupa capek dan pegal-pegal. Tidak ada. Maka kami harus bantingan.

Meski harus urunan, bantingan, patungan, nyatanya kami ketagihan. Kami berencana bahwa kelak dalam jangka waktu yang tidak lama, akan kembali mengadakan acara rafting. Ya tentu saja urunan lagi, bantingan lagi, patungan lagi. Tak mengapa, atas nama kemandirian.

Tetapi satu peluang muncul secara simsalabim tiba-tiba, dari SPT yang saya print out dari aplikasi. SPT untuk semua pegawai yang berstatus PNS pada tempat saya bekerja, sejumlah 38 orang. Tahun lalu, dari 38 orang itu, lebih dari separuhnya mencari saya untuk meminta bantuan membuat pelaporan SPT.

Ide cemerlang culas pun muncul, untuk membuat proyek sederhana dari pembuatan laporan SPT tersebut. Sekadar sebagai informasi, tak semua kawan saya dalam satu bidang di kantor, adalah PNS. Dan tentu saja, saya tahu persis gaji mereka dari kantor tidak seberapa. Saya hanya merasa tidak tega jika suatu saat kelak akan mengadakan rafting, harus kembali meminta urunan dari mereka. Nilai 100 sampai dengan 200 ribu rupiah bagi beberapa orang adalah nominal yang cukup besar. Dan nominal itu adalah angka rerata ketika tempo hari kami rafting di Kali Elo.

Sedang untuk bertindak sebagai pahlawan dengan mentraktir atau membayari mereka, saya juga tidak mampu. Saya juga hanya PNS berkasta sudra. Maka satu-satunya jalan adalah mencari jalan keluar untuk meminimalisir urunan dan patungan biaya.

Trataaaaa…..SPT tahunan datang sebagai pahlawan.

Seorang kawan kami ‘tunjuk’ sebagai ‘bendahara’ untuk mencatat pendapatan sekaligus membawa uang, dari orang-orang yang meminta bantuan untuk dibuatkan laporan. Saya sendiri enggan dan mengharamkan diri untuk menerima manfaat dari uang itu secara personal. Bukannya sok suci, tetapi niat awal memang untuk kepentingan komunal dengan kawan-kawan satu bidang.

Berkaca dari tahun lalu, begitu saya membagikan SPT, banyak orang langsung mencari untuk meminta bantuan. Maka tahun ini, mata saya sudah berbinar, bahwa dalam tempo singkat, akan mendapatkan uang dari hasil ‘memalak’ secara halus tersebut. Dalam bayangan saya, nominal uang 50 ribu rupiah bukanlah nominal yang besar dan patut dirisaukan untuk sebagian besar PNS pada tempat saya bekerja. Saya simpulkan demikian, karena saya tahu persis berapa gaji dan tunjangan mereka dari kantor. Saya yang membuat gaji serta tunjangan mereka. Lagipula, hampir dari semua PNS tersebut, mempunyai mobil dengan kriteria bagus dan baru. Beberapa bahkan mempunyai mobil lebih dari satu. Nah, klop sudah dengan bayangan saya bahwa akan ada aliran dana masuk untuk mendukung kegiatan rafting bersama kawan-kawan.

Eh tapi, sudah hampir satu minggu, baru beberapa orang yang meminta bantuan. Tak seperti tahun lalu yang bahkan beberapa berkas pesanan sudah menumpuk ketika yang satu belum selesai dikerjakan.

Usut punya usut, ternyata nominal 50 ribu rupiah itu adalah biang keroknya. Meski tak tersurat, tetapi secara tersirat sebagian besar yang tahun kemarin meminta bantuan, merasa keberatan jika tahun ini ‘harus’ ada bea yang dibayarkan.

Begini, SPT ini adalah urusan dan tanggung jawab pribadi, bukan urusan dan tanggung jawab lembaga atau kantor tempat saya bekerja. Bahkan, cetak SPT PPh sebagai dasar pembuatan laporan itu sebenarnya juga tak harus saya lakukan kalau wajib pajak tidak meminta. Tetapi atas nama kebaikan, maka kami dari satu bidang berinisiatif untuk mencetak dan memberikannya kepada wajib pajak di tempat kami. Dan karena itu adalah urusan serta perkara pribadi, maka kami berani melakukan ‘tes’ kecil tersebut.

“Kita lihat sejauh mana 50 ribu rupiah menjadi garis imajiner pemisah untuk membedakan makhluk-makhluk pelit.”

Per hari ini, akhirnya saya mendapat kesimpulan bahwa banyaknya mobil maupun penghasilan tak harus berbanding lurus dengan tingkat kedermawanan seseorang. Bahkan satu orang wajib pajak di tempat saya, saking pelitnya iritnya, sampai kesana kemari bertanya cara pengerjaannya, termasuk kepada saya, dan kemudian setelah cukup ‘canggih’ keluar bertindak sebagai pahlawan dengan membuatkan laporan pajak kawan-kawannya.

Gayung bersambut, tentu saja akan banyak yang lebih memilih mengerjakan secara gratisan bersama pahlawan. Karena secara hakikat memang tak perlu keluar biaya untuk membuat laporan ini, terutama jika dikerjakan sendiri.

Saya sendiri juga tak lantas memaksa, meski saya masih mengingat beberapa yang tahun lalu meminta saya mengerjakan laporan mereka. Gratisan tentu lebih enak.

Namun jika merunut asas manfaat yang di dapat dari keluarnya nominal uang 50 ribu rupiah itu, sebagai ajang untuk membantu dan mensubsidi kawan-kawan non PNS saya untuk bisa bersuka ria rafting di Kali Elo, maka nilai 50 ribu rupiah jelas mempunyai nilai lebih baik dari gratisan. Mempunyai nilai sosial positif yang tidak bisa ditakar dari selembar rupiah berwarna biru itu. Mempunyai nilai yang bahkan takkan bisa ditukar dengan manfaat artifisial jika uang senilai itu dibelanjakan. Dan jika mereka mau, dengan 50 ribu rupiah itu, mereka akan mendapatkan hormat dan respect dari saya.
Saya terlalu perhitungan untuk memberikan respect kepada orang lain. Siapapun yang mendapat respect saya, pasti karena orang itu berpikir dan bertindak bagi kepentingan banyak orang, dan tak hanya sekadar bertindak semata demi kepentingan pribadinya. Namun siapa pula saya ini, ga penting juga respect dari saya.

Tapi ya tak mengapa jika sebagian besar dari yang kebingungan dan takut salah itu lebih memilih gratisan. Toh ‘ujicoba’ ini tak semata ingin mengambil manfaat dari nilai selembar rupiah berwarna biru. Tetapi untuk sedikit saja mengetahui :

“Sejauh mana perbedaan irit dan pelit, pada beberapa PNS kaya dengan banyak mobil di garasinya.”

Itu saja.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

440 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *