Pemain (Manusia) Bertahan

Dalam permainan sepakbola, saya begitu mengidolakan pemain bertahan (bek). Salah satu yang paling saya kagumi diantara sekian banyak bek itu adalah Paolo Maldini.

Ia adalah tipikal bek yang tak mudah terpancing provokasi serangan lawan. Baik serangan balik yang dilancarkan satu dua pemain lawan, atau serangan kolektif lawan yang bisa membuat pemain bertahan terbaik pun terkadang kebingungan. Tetapi Maldini adalah yang terbaik diantara yang terbaik, diantara sekian banyak pemain bertahan yang ada. Tentu saja itu menurut saya.

Saya tak akan membicarakan statistik, dengan membandingkan berapa banyak gol bersarang digawang timnya ketika Maldini ikut bermain.

Saya hanya akan mengingat tentang bagaimana cara Maldini bermain, menjaga area permainannya dari intervensi serangan lawan. Maldini tidak akan terburu-buru menjatuhkan pemain lawan yang melakukan serangan.

Maldini justru akan berganti melakukan intervensi terhadap pemain lawan yang melakukan serangan, sehingga si penyerang akan kebingungan. Maldini akan melakukan semacam marking, penjagaan ketat terhadap penyerang lawan. Ketika lawan menggiring bola, Maldini akan membayangi saja, atau menempel ketat, tanpa melakukan sleeding tackle. Bahkan terkadang Maldini seperti enggan merebut bola, dan menunggu momentum ketika penyerang lawan melakukan kesalahan sehingga membuat kesalahan. Salah mengoper bola misalnya, sehingga tanpa kesulitan bola akan berpindah penguasaan pada timnya.

Penjagaan Maldini seperti teror. Pemain lawan akan kesulitan melewati Maldini ketika berduel satu lawan satu, tetapi sekaligus kesulitan mengoper bola karena Maldini juga menutup ruang dan kesempatan bagi pemain lawan untuk melakukan operan.

Sepanjang karirnya di dunia sepakbola, sangat jarang baju dan bahkan celananya kotor. Sesuatu yang lazim dilihat pada kebanyakan pemain bertahan, karena seringnya melakukan tackling pada pemain lawan.

Maldini jarang melakukan hal itu. Ia akan melakukan penjagaan secara elegan, bahkan jika sekadar hanya melakukan gerak tubuh sederhana untuk memberi sinyal kepada lawan untuk ‘jangan sampai mendekat’.

Salah satu pertandingan yang akan terus saya ingat adalah ketika Maldini dalam usia 39 tahun harus melawan dan menjaga Adriano Leite dalam pertandingan Derby Milan. Pertandingan antara AC Milan dan Inter Milan. Maldini bersama AC Milan, Adriano bersama Inter Milan. Beberapa kali duel diantara mereka terjadi dengan sangat seru. Pada pertandingan ini, Maldini harus membuat kotor celana dan juga bajunya.

Tentu saja bukan karena Maldini tak lagi elegan, tetapi karena selisih usia diantara keduanya. Saat pertandingan berlangsung, selisih usia keduanya adalah 16 tahun. Maldini sudah berusia 39 tahun, dan Adriano masih berusia 23 tahun. Usia dan kondisi fisik menjadi faktor yang sangat memengaruhi duel diantara mereka.

Meski begitu, Adriano yang jauh lebih muda dan memiliki kondisi fisik yang jauh lebih kuat, terlihat kesulitan untuk melepaskan diri dari penjagaan si tua Maldini. Akhirnya Adriano lebih banyak menggunakan keunggulan fisiknya dengan berlari kencang. Pada saat itulah, beberapa kali Maldini harus menjatuhkan diri untuk mengambil bola, atau mengganggu pergerakan Adriano.

Andai saat itu usia mereka hampir sama atau tak berselisih jauh, saya yakin Adriano takkan mempunyai kesempatan untuk dapat melewati Maldini.

Maldini, meski seorang pemain bertahan, tetapi ia juga sesekali ikut melakukan serangan. Sepanjang karirnya di AC Milan, ia mencetak 29 gol. Di timnas Italia, Maldini mencetak 7 gol. Bukan pencapaian yang buruk untuk seorang pemain bertahan. Karena memang tugasnya adalah menjaga gawang timnya agar tak kemasukan gol, dan bukan bertugas mencetak gol ke gawang lawan.

Yang ingin saya tekankan, sebagai pemain bertahan, Maldini juga sesekali menyerang. Sesekali saja dalam satu pertandingan.

Maldini tidak melupakan hakikatnya untuk bertahan, namun dalam sekali waktu mengharuskannya untuk menyerang, maka ia ikut menyerang.

Manusia dalam kehidupannya di alam semesta, dalam permainannya di dunia, hakikatnya hampir mirip dengan pemain bertahan dalam sepakbola. Ia harusnya bermain bertahan secara elegan, seperti permainan Paolo Maldini. Manusia mempunyai hakikat untuk tidak terlalu banyak menyerang, dan bermain dengan filosofi bertahan.

Filosofi manusia adalah bertahan hidup, dan bukan menyerang hidup.

Bertahan hidup adalah mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan porsinya untuk bertahan. Mengolah hutan adalah sesuai porsi, bukan sampai dengan merusak hutan sehingga menyebabkan kerusakan dan memicu pemanasan global.

Seperti juga pernah saya sampaikan, agar manusia jangan sampai habis-habisan dalam menyerang alam.

Alam adalah lapangan sepakbola luas tempat manusia ‘bermain’, maka tak seharusnya manusia merusak rumput lapangan itu, dan apalagi sampai membuat lubang pada lapangan sehingga membuat keseluruhan permainan menjadi terganggu.

Pernahkah anda melihat seorang pemain sepakbola mencabuti rumput lapangan, atau malah membuat lubang, ketika permainan sedang berlangsung?
Ataukah anda pernah melihat seorang pemain sepakbola mencopot gawang ditengah permainan yang sedang berlangsung?

Jika pernah ada, saya bisa pastikan bahwa pemain tersebut dalam kondisi tidak waras.

Nah, sekarang pernahkah anda melihat manusia merusak hutan secara masif, mencemari air bersih dengan limbah, dan merusak lahan-lahan produktif pertanian?
Padahal kehidupan masih berlangsung, permainan masih berlangsung.

Manusia merusak keseimbangan alam semesta dengan dalih demi mendapatkan uang. Tetapi saat ini, bahkan tak ada manusia yang berani memakan uang. Jangankan makan uang, memegang uang hasil kembalian belanja saja sudah ketakutan karena takut tertular Corona.

Di tengah wabah pandemi semacam ini, ada semacam kesadaran yang timbul bahwa manusia tidak mutlak membutuhkan uang. Mereka lebih membutuhkan bahan makanan, lebih membutuhkan hasil alam yang tumbuh dari tanah dan lingkungan sekitarnya.

Harusnya, pandemi ini memunculkan kesadaran manusia untuk mulai merawat alam. Untuk mulai lebih banyak bertahan sesuai hakikatnya, dan bukan menyerang. Untuk jangan sampai tergiur dalam godaan sesaat mengalihfungsikan hutan atau lahan-lahan pertanian menjadi bangunan. Sampai kapanpun, manusia takkan mau memakan uang.

Sampai kapanpun, makanan manusia adalah nasi, ketela, sayuran, buah-buahan.

Manusia takkan pernah makan bangunan, makan emas dan perhiasan, dan apalagi memakan limbah.

Semoga jika ada hikmah bersamaan dengan pandemi wabah ini, salah satunya adalah kesadaran manusia untuk mulai merawat dan menjaga semesta.

Tuhan masih bersama kita.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *