Pembuat Masalah : Tak Bisa Berpura-pura

Pada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup, saya melawan sebagian besar daripadanya. Melawan dengan kesanggupan dan kapasitas yang dimiliki, serta dengan subyektifitas yang terkadang juga menimbulkan kernyitan dahi.

Tak kurang, saya mendapat julukan : Si Pembuat Masalah.

Sesuatu yang bagi orang lain adalah kewajaran, bagi saya bisa jadi merupakan penyelewengan. Bagi orang lain hanya didiamkan, saya tak bisa untuk tidak sedikit bergerak, minimal melalui tulisan.

Sepertinya, hidup saya tak pernah karib dengan ‘ketenangan’.

Misalnya saja pada gelaran pilpres 2019. Saya tidak bisa untuk tidak berselisih dan ‘berkonfrontasi’, meski memilih berdiri di tengah. Netralitas yang saya terus kemukakan adalah :

“Agar jangan sampai pendukung masing-masing paslon, berbuat sesuatu yang memecah belah masyarakat.”

Misalnya saja dengan sangat agresif menyebarkan berita-berita buruk cenderung fitnah, pada pihak lawan.
Saya rasa, hal demikian itu sangat jauh dari etika kepantasan pada suatu pentas demokrasi.

Maka pada golongan atau kelompok yang cenderung agresif seperti itu, saya ‘menghadang’ dengan cukup agresif juga. Saya melakukan serangan-serangan, tetapi tetap menjaga kaki untuk berdiri dan berpijak di tengah. Tidak memihak manapun, selain memihak suhu sejuk dan kedamaian.

Tetapi toh sikap saya itu, malah menjadi boomerang bagi diri saya sendiri. Saya menjadi dimusuhi oleh keduanya. Hahahaha….

Cukup lucu ketika pada akhirnya saya ‘menyerah’. Saya akhirnya menyerah dengan menutup akun media sosial. Karena dari sana, saya mendapat banyak informasi sekaligus provokasi. Maka saya sementara menutupnya, untuk menghindari konfrontasi dengan kedua belah pihak.

Padahal pada niat awalnya, saya hanya ingin memberi semacam wacana tandingan, pembanding, bahwa memihak itu semestinya melalui cara-cara yang elegan. Bukan dengan menyebarkan fitnah dan menebarkan keburukan. Toh anda keburukan itu adalah kejadian nyata, kebenaran, tetapi apakah itu memenuhi etika pergaulan sosial dan pertanggungjawaban kemanusiaan?

Sedang sebagai sesama manusia, kita adalah saudara. Dan jangan sampai, ajang pemilihan umum semacam ini malah menjadi media bagi sesama saudara untuk saling memfitnah dan menebarkan keburukan.

Saya pernah dengan sangat keras mengkritik seorang kawan di Facebook, kebetulan juga kawan semasa sekolah, yang dengan gampangnya membawa agama untuk dibawa pada ranah politik praktis. Sayangnya, bahwa apa yang disampaikannya semuanya adalah tulisan dan pendapat orang lain, tanpa sekalipun dia menulis opininya sendiri.

Baiklah bahwa apa yang disebarluaskannya adalah sesuatu dengan nilai yang juga dia yakini. Tetapi, apakah hidup memang hanya sebatas copy paste?

Sebenarnya saya akan sangat senang jika dia bisa menuliskan opininya sendiri, alih-alih membabi-buta menyebarkan tulisan dan pendapat orang lain, yang cenderung provokatif, fitnah, dan juga agresif dalam tata nilai untuk membuka ruang-ruang dialog. Apa yang dia sebarkan cenderung menutup peluang untuk berkomunikasi.

Pertama kali berseberangan paham, adalah ketika gelaran Pilgub DKI pada tahun 2017. Dari sana, saya pertama kali tahu bahwa kawan saya itu [menurut saya pribadi] sangat-sangat agresif tetapi tidak memiliki filter yang memadai terhadap konten yang disebarluaskannya.

Tendensius, namun memiliki celah bahkan untuk sekadar auto-kritik. Apa yang disebarkannya, sebenarnya sudah mengandung bantahan. Tetapi kenapa dia masih juga ngotot menyebarkannya?

Saya tidak sedang bersikap fasistik dengan menuntut orang lain untuk mempunyai jalan pemikiran seperti diri saya sendiri. Bukan semacam itu.
Tetapi apa yang disebarkan oleh teman saya itu, berpotensi menimbulkan konflik horizontal. Dalam skala paling kecil, dalam lingkup pertemanan kami dengan sesama teman satu sekolah dulu.

Apa yang banyak disebarkan oleh kawan saya itu, menyerempet dan bahkan menghantam toleransi keberagaman, terutama mengenai agamadan keyakinan. Ia banyak mengutip kata ‘kafir’ untuk menyebut orang-orang non-muslim. Tentu saja, saya tidak setuju.

Maka saya kemukakan pendapat saya, bantahan, melalui media sosial dimana dia juga bisa membacanya.

Bagi sebagian orang, mungkin apa yang dilakukan oleh teman saya itu, dengan menyebarkan konten yang menyerempet nilai toleransi, adalah wajar belaka. Hak menyatakan mendapat, bebas mengeluarkan pemikiran.

Baiklah, oleh karena itu, saya pun menanggapi apa yang disampaikannya itu juga dalam koridor bebas menyatakan pendapat.

Bedanya, dia menyebarkan konten berupa komik atau tulisan pihak lain, saya menyebarkan tulisan dan atau pemikiran saya sendiri.

Meski begitu, banyak orang menilai bahwa saya lah yang sedang memicu perpecahan, ketika mencoba memberikan wacana tandingan semacam itu. Mereka [yang menolak tulisan dan atau pemikiran saya] berpendapat bahwa jika saya tak menuliskan bantahan, maka jalinan pertemanan yang ada masih akan baik-baik saja.

Dengan kata lain, saya dipaksa untuk diam, dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

Celakanya, saya lebih senang membuka celah ‘konfrontasi’ untuk beradu pendapat dan pemikiran daripada diam saja dan berpura-pura semua [masih] baik-baik saja.

Saya lebih senang ‘membuat masalah’.

Kenapa ‘membuat masalah’ saya berikan tanda kutip?
Karena syaa membatasi masalah itu cukup hanya sampai pada topik yang sedang menjadi perdebatan. Bukan lantas merembet pada persoalan personal dan kemudian saling mendiamkan.

Tidak. Saya tetap terus, dan akan terus menjalin pertemanan dan perkawanan meski bersilang pendapat serta pemikiran.
Tetapi memang tak semua orang mempunyai niatan dan atau penerimaan yang sama terhadap sikap saya.
Beberapa orang, membawa perdebatan pada topik yang sedang kami bahas, menjadi persoalan personal.

Bahwa ketika saya berpendapat ‘A’, maka kemudian saya juga dianggap sebagai bagian dari ‘A’ jika ‘A’ adalah suatu paham, pemikiran, atau golongan.

Padahal, hidup ya tidak hitam putih dan berupa padatan semacam itu. Hidup bagi saya adalah dialektika dan tempat berdiskusi ketika terjadi silang pendapat.

Kadung, terlanjur….saya sudah dicap sebagai pembuat onar, pencari masalah. Akibat dari ‘kenyinyiran’ saya berkomentar terhadap sesuatu yang saya pandang ‘mengancam’ persatuan dan keharmonisan di dalam masyarakat. Saya hanya tak ingin, ada perpecahan yang mengarah pada konflik fisik, di tengah negeri saya yang sebenarnya sangat damai.

Maka, karena sudah terlanjur dicap sebagai pembuat masalah, pemicu keonaran, saya teruskan saja sekalian. Ini adalah tulisan pertama saya dengan tema ‘Pembuat Masalah’.

Besok, akan ada lagi, dan dalam berbagai tema dimana saya terjun dan mencari masalah didalamnya.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.