Pendidikan Latah

Ilustrasi ruang kelas pendidikan. Gambar : Pixabay

Setiap kali muncul berita negara-negara lain mencapai suatu kemajuan tertentu, kita —warga negara Indonesia— seringkali kemudian melontarkan suatu tuduhan bahwa pemerintah tidak becus mengurus negara. Sehingga banyak negara lain mengungguli negara kita, dalam kemajuan teknologi dan terlebih lagi kemajuan ekonomi.

Seolah bahwa baik buruknya negara hanya karena pemerintahnya.

Mungkin kita sedikit lupa, bahwa syarat berdirinya negara ada tiga faktor utama : wilayah, rakyat, pemerintah yang berdaulat.

Nah kan, rakyat pun juga adalah unsur pokok dari keberadaan suatu negara. Maka tak semestinya bahwa rakyat underestimate terhadap dirinya sendiri. Seolah baik buruk negara hanya karena pemerintahnya.
Padahal, rakyat pun mempunyai andil yang besar.

Salah satunya melalui pendidikan.

Baik pendidikan formal maupun non-formal.

Baik pendidikan di sekolah, maupun luar sekolah.

Hari-hari terakhir ini banyak orang tua yang alpa, bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab utama mereka, dan bukan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan formal.

Banyak orang tua yang sudah merasa lega dan tenang, ketika bisa memasukkan atau menyekolahkan anaknya di tingkat….PAUD.

Seolah mereka lepas dari beban tanggung jawab moral untuk memberikan pendidikan dasar pada anak-anaknya. Untuk memberikan pondasi tebal agar anak-anak mereka tak terombang-ambing dan hanya bisa menjadi sampah dari perkembangan jaman.

Banyak orang tua yang alpa, dan menyesal dengan cara menyalahkan lembaga pendidikan tempat anaknya berada.

Salah besar, tuan dan nyonya.

Lembaga pendidikan formal saat ini sudah berada di ambang kegagalan untuk bisa menyiapkan generasi penerus bangsa secara baik dan benar. Lihat saja dan silahkan berikan penilaian sendiri, selama bertahun-tahun, tak pernah benar-benar ada kurikulum pendidikan yang secara tegas mampu menjawab perkembangan jaman.

Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu hanya menyasar pada teknis pembelajaran di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Tanpa sekalipun berbicara mengenai subtansi serta tujuan jangka pendek maupun panjang dari diselenggarakannya pendidikan.

Dari tahun ke tahun, dari satu perubahan kurikulum menuju kurikulum berikutnya, satu hal yang selalu dipentingkan adalah adanya : Ijazah!

Seberapa penting ijazah untuk menyelami dan mengarungi kehidupan, sebenarnya?

Apakah lantas nilai-nilai bagus yang tersemat pada ijazah bisa menjawab tantangan perkembangan jaman?

Begini….seringkali kita sebagai rakyat pun abai terhadap kenyataan di sekitar kita. Kita akan lebih bangga anak-anak kita mendapatkan nilai 8, 9, atau 10 pada ijazahnya, daripada ketika mereka berhasil menanam dan memanen tanaman pangan.
Padahal, kita hidup dan tinggal di lingkungan agraris, misalnya.

Disadari ataupun tidak, diakui ataupun tidak, hal itu yang perlahan membuat banyak lahan pertanian kita menjadi tandus, gersang, dan kemudian mati berganti menjadi bangunan.
Karena generasi muda kita tidak mengerti subtansi negeri agraris dan apalagi tata cara pertanian. Anak-anak kita dipaksa mempelajari banyak keunggulan dan kemajuan negara lain, tetapi melupakan keunggulan dasar negeri sendiri.

Banyak anak-anak yang paham dan mengerti rumus-rumus rumit fisika, matematika, atau kimia. Tetapi bahkan mereka tidak bisa membedakan tanaman padi dan rumput ilalang.

Tak jauh berbeda dengan kondisi di pesisir, pada keluarga para nelayan. Banyak generasi muda, anak-anak para nelayan, enggan melaut lagi seperti orang tua dan leluhur mereka.
Tentu sebabnya tak jauh berbeda dengan saudara mereka di lingkungan agraris.

Selain tak pernah mendapatkan pengajaran langsung cara-cara melaut yang baik dan benar, bahkan orang tua mereka cenderung lebih suka jika anak mereka bekerja pada sektor lain yang bukan berkaitan dengan lautan.

Bekerja kantoran, misalnya. Atau menjadi pekerja pabrik….

Sebenarnya banyak faktor yang melatarbelakangi kondisi demikian itu. Usaha memarjinalkan profesi petani dan nelayan tentu adalah juga faktor utama. Berapa tahun pendidikan formal mendoktrinkan bahwa pekerjaan sebagai petani dan juga nelayan tidak bisa menjamin kecukupan nafkah kehidupan?

Selain tentu saja karena kurikulum pendidikan yang ada tidak pernah secara langsung mencoba menyentuh nilai-nilai kearifan lokal, tidak menyentuh realitas kehidupan masyarakat.

Kurikulum pendidikan di daerah agraris pertanian, seharusnya berbeda dengan kurikulum pada daerah pesisir pantai. Demikian pula kurikulum pada daerah hutan, atau juga kurikulum pada daerah tujuan wisata. Kurikulum pendidikan seharusnya kontekstual dengan lingkungan keberadaan mereka.

Kurikulum pendidikan tak bisa dipukul dan disamaratakan pada semua daerah dengan keunikannya masing-masing.

Para orangtua yang menggebu-gebu dan membanggakan lembaga pendidikan anak-anak mereka serta pencapaian mereka di dalam kelas, dalam skala paling kecil sebenarnya sudah ikut andil memundurkan bangsa ini beberapa dekade kebelakang.

Kebanggan itu seharusnya ketika anak-anak mereka mampu hidup dan mengembangkan ekosistem lingkungan tempat tinggalnya, alih-alih hanya nilai ijazahnya.

Dan rakyat, orangtua, harusnya berperan dalam hal ini, dan mengambil tanggung jawab sesuai porsinya.

Peran aktif rakyat salah satunya adalah dengan memberikan masukan kepada pemerintah untuk mau membuka mata mengevaluasi penerapan kurikulum pendidikan dasar.

Jika tak bisa dengan ucapan secara verbal, maka yang bisa dilakukan adalah dengan langkah nyata.

Yaitu dengan mengajak anak-anak atau generasi muda untuk turut terjun langsung ke tengah kehidupan sosial masyarakat. Untuk belajar bertani, melaut, mengolah hutan, menjadi pengelola wisata yang baik, dan sebagainya.

Selalu dibutuhkan jalan radikal dan kemauan keras untuk mengubah sesuatu yang sudah terlanjur buruk dan melenceng terlalu jauh.

Kemauan keras itu tentu saja memiliki harga yang harus dibayar. Salah satunya adalah cibiran serta pelecehan dan mungkin saja ancaman-ancaman.

Tetapi, bukankah lebih baik dihina namun berbuat nyata, daripada hanya menggerutu tanpa berusaha, bukan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.