Penerimaan

Mana yang lebih sulit, memberi atau menerima?

Jangan langsung dijawab, klik iklan yang ada dulu. Sudah?
Halah… Ahahaha.. Bercanda….

Sekarang mari kita lanjutkan, mana yang lebih sulit, memberi atau menerima?

Sudah, anda sudah menjawabnya?

Apapun jawabannya, saya pastikan bahwa jawaban anda kurang tepat. Entah anda menjawab memberi, atau menerima.
Jika langsung dijawab, keduanya berpotensi kurang tepat.

Sebab?
Segala jawaban harus dilandaskan pada konteksnya.
Karena saya hanya bertanya tanpa melancarkan pada suatu konteks permasalahan, berarti saya yang salah. Baeklah…

Kita kupas jawaban dari pertanyaan itu dengan konteks yang luas saja, jangan terlalu mendetail. Sebab jika terlampau mendetail, takutnya tulisan ini akan menjadi semacam tesis atau skripsi. Menjemukan.

Dalam skala luas kehidupan sehari-hari, kita perjelas saja : dalam hidup, kita lebih sering memberi atau menerima?
Memberi atau menerima yang tak harus berupa benda juga materi.

Bisa memberi pertolongan berupa tenaga, juga menerima bantuan berupa tenaga. Tenaga atau bahkan sekadar pemikiran, jika kita dihadapkan pada sebuah situasi yang mengharuskan meminta pertolongan, atau memberi pertolongan. Ah, tenaga atau pemikiran itu kan juga materi ya? Goblog sih penulisnya.

Muter-muter aja sih penulis tolol maksudnya apa?

Eeemmmm, maapin deh.

Maksudnya begini : pada dua kejadian yang bertolak belakang itu, memberi dan menerima itu, mana yang anda rasakan lebih mudah?

Lebih mudah memberi atau menerima?

Kebanyakan orang (menurut saya), akan berpendapat bahwa menerima jauh lebih mudah daripada memberi. Dengan alasan, bahwa memberi terkadang harus terganjal pada suatu kata sifat bernama : ikhlas.
Sedangkan menerima, tidak membutuhkan keikhlasan. Begitu, bukan?

Benarkah?
Benarkah menerima tidak membutuhkan keikhlasan?

Menurut saya, sekali lagi menurut saya, menerima jauh lebih sulit daripada memberi. Sebenarnya begitu.

Sebab menerima itu, berhubungan erat dengan kondisi mental dan batin kita. Kondisi mental dan batin yang berhubungan dengan suatu sikap : penerimaan.

Jika menerima adalah sikap pasif, penerimaan adalah sikap aktif. Sikap aktif untuk mengolah pemberian orang atau pihak lain, menempatkannya dalam batin kita sesuai dengan kondisi mental.

Orang dengan mental penggerutu, cenderung tak bisa menempatkan pemberian orang atau pihak lain dalam kondisi batin yang tepat.

Kondisi batin yang tepat dalam menerima sesuatu, sehingga menghasilkan sikap penerimaan itu bagaimana maksudnya? Atau, istilahnya bagaimana?

Saya tak mempunyai referensi kata yang tepat selain : ridho.
Mungkin terlalu berafiliasi dengan agama. Namun memang begitu kenyataannya.

Terjemahan bebas ridho adalah rela, dan bolehlah nanti bisa kita pakai sebagai rujukan. Ridho dan berarti juga rela itu.

Terkadang, meski hanya tinggal menerima sesuatu, kita bahkan tidak ridho dengan pemberian itu.
Sifat manusia tergelayut ketamakan, maka terkadang bahkan jika tinggal menerima pun, kita tidak ridho.

Suatu saat kita mungkin menerima suatu hadiah gratis dari orang lain, bisa berupa apapun. Barang, tenaga, atau pemikiran.
Terkadang sifat tamak kita enggan untuk ridho dengan pemberian tersebut. Padahal, jelas itu adalah gratisan.

Mendapat doorprize berupa kipas angin, kita masih mempunyai angan mendapatkan sepeda motor. Sudah mendapatkan sepeda motor, kita mempunyai angan mendapatkan mobil. Sudah mendapat mobil, kita berangan mendapatkan rumah. Sudah mendapatkan rumah, kita berangan mendapat paling tidak dua atau tiga doorprize, karena kita mempunyai empat atau lima tiket misalnya.

Angan kita terlalu liar, dan oleh karena itu rentan disusupi oleh ketamakan.

Mahatma Gandhi secara epik dan apik mempunyai adagium untuk hal tersebut : “Bumi dan isinya cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi takkan pernah cukup memenuhi keinginan manusia.”

Keinginan manusia, angan manusia yang tak terkontrol itulah, yang melahirkan ketamakan. Ketamakan membuat menerima jauh lebih sulit daripada memberi.

Terkadang dalam memberi, kita bisa untuk mendekati kata ikhlas. Karena dalam memberi, sebatas yang kita punya itulah yang bisa kita berikan. Bahkan jika semua yang kita punyai lantas kita berikan.

Tetapi dalam menerima, terkadang kita disusupi oleh angan-angan perihal sesuatu yang belum ada atau tidak kita punya. Sehingga, kita takkan pernah ridho terhadapnya.

Dalam satu hari selama dua puluh empat jam misalnya, berapa kali kita ridho terhadap pemberian Tuhan?
Pada pagi hari kita sudah diberikan rejeki berupa sarapan, tetapi kita masih mempunyai angan bahwa akan lebih enak jika sarapan dilakukan di sebuah villa sembari melihat pemandangan alam.

Jangankan sembari melihat pemandangan dari sebuah villa. Sudah bisa sarapan dengan nasi dan telur, kita masih berangan bahwa sarapan belum lengkap tanpa jus buah dan juga sereal.

Sudah bisa makan untuk menjaga kesehatan, kita masih berangan bahwa apa yang kita makan belum memenuhi standar nilai lezat dan enak tang tercecap lidah.

Jika anda masih berpendapat bahwa memberi jauh lebih sulit daripada menerima, mulai segera kalkulasi penerimaan anda terhadap pemberian Tuhan.

Sudahkah kita ridho terhadap pemberian Tuhan?

Sudahkah kita ridho menerima nikmat Tuhan yang menjadikan kita manusia dengan organ tubuh lengkap dan sehat?
Sementara terkadang kita belum ridho. Organ dan tubuh lengkap juga sehat belumlah cukup, jika belum dilengkapi dengan harta dan jabatan.

Harta dan jabatan sudah diberikan juga oleh Tuhan, kita belum ridho dan masih berangan andaikan harta dan jabatan bisa diwariskan dalam tujuh keturunan.

Sikap penerimaan kita terhadap pemberian Tuhan, terkadang masih jauh dari kata ridho.
Terlampau sering kita mengabaikan pemberian Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma, dan kita masih meminta segala sesuatu yang tergantung diangan-angan.

Ah, mungkin hanya saya saja, dan tidak terjadi pada anda.

Maka diawal tulisan, saya tegaskan bahwa ‘menurut saya’, menerima itu jauh lebih sulit daripada memberi.

Mungkin kita bisa dengan rela memberikan semua harta benda kita untuk kepentingan masyarakat umum, dan kita bisa berdalih bahwa akan mendapatkan ganti berupa pahala dan kebaikan. Karena semua harta yang kita miliki adalah kenyataan dan bukan angan-angan. Tetapi begitu dihadapkan pada hal kecil dan sederhana dalam konteks penerimaan, kita mendadak gagap dan lupa. Bahwa kita sudah terlampau banyak menerima, dan belum ridho terhadap itu semua.

Saya terkadang lupa bahwa Tuhan sudah memberikan alat kelengkapan hidup yang lebih dari cukup bagi saya, dan saya masih berangan-angan andai mempunyai sesuatu yang belum saya miliki.
Saya sudah memiliki dua tangan dan sepuluh jari lengkap yang bisa saya gunakan untuk bekerja sampai dengan ngupil, tetapi saya masih berangan-angan andaikata tangan dan jari saya bisa memainkan gitar dengan merdu.

Saya mempunyai dua kaki yang lengkap dan sehat, tetapi masih berangan andaikata dua kaki itu bisa menjadikan saya pesepakbola sekelas Cristiano Ronaldo atau Messi dan bahkan Maradona.

Betapa…betapa…betapa tamaknya sikap penerimaan saya.

Padahal, andaikata saya ridho dan menerima apapun pemberian dan ketentuan Tuhan, maka saya yakin hidup ini mudah-mudah saja, dan tentu sangat menyenangkan juga membahagiakan.

Termasuk jika kelak minggu depan mulai diberlakukan ‘gencatan senjata’ dengan corona. Seharusnya saya menerima saja, meskipun sulit.
Toh saya tahu menerima lebih sulit daripada memberi. Maka seharusnya saya tenang-tenang saja.

Karena saya persis tahu dan mulai paham, bahwa MEMBERI peluang masyarakat untuk tarung bebas melawan corona itu lebih mudah daripada MENERIMA kenyataan bahwa mereka mengemis agar dipilih rakyat bukan untuk lepas dari tanggung jawab.

Mereka siapa?
Ooh, bukan siapa-siapa. Yang saya maksud dengan mereka adalah gerombolan Thanos yang sedang mengumpulkan Infinity Stone.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)