Pengecut

Saya masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, menjelang tanggal 25 Desember. Waktu itu ramai dan sedang berlangsung kontroversi yang cukup ‘menegangkan’ perihal pemakaian topi ‘natal’. Topi berbentuk kerucut berwarna merah dengan aksen putih yang kemudian diidentikkan dengan hari raya umat Nasrani.

Yang menjadi kontroversi adalah klaim dari beberapa orang dan kelompok : bahwa pemakai topi tersebut kemudian otomatis mempunyai keimanan yang sama seperti halnya umat Nasrani. Dengan kata lain, pemeluk agama lain ‘diharamkan’ memakai topi tersebut atau atribut apapun yang serupa identiknya.

Sumber yang kemudian menjadi polemik dan perdebatan adalah : bagaimana jika pegawai pusat perbelanjaan yang bukan beragama Nasrani diharuskan memakai pakaian, topi, atau atribut bernuansa natal oleh pemilik toko atau pimpinan ditempatnya bekerja?

Ramai kemudian pendapat dan ‘fatwa-fatwa’ dari otomatis agama terkait bahwa tak seharusnya pemilik toko atau pusat perbelanjaan memaksa pegawai yang tidak beragama Nasrani untuk memakai pakaian atau atribut natal.

Yang kemudian menjadikan saya sadar bahwa diri saya pengecut adalah kejadian dibawah ini.


Saya menulis sesuatu di media sosial tentang hal itu, dengan kata dan kalimat tendensius, yang ‘seolah’ tertuju untuk kelompok tertentu. Kelompok tertentu yang mengeluarkan semacam fatwa atau himbauan ‘haram’ pemakaian atribut yang identik dengan natal.

Tanpa saya sangka, tulisan itu mendapatkan banyak respon. Dari yang mendukung ataupun yang menentang. Dan diantara sekian yang menentang itu, berhasil membuat saya merasakan bahwa diri ini benar-benar;pengecut.

Saya beritahukan rahasia ini : setelah menuliskan hal itu dan mendapati berbagai respon serta tanggapan yang menentang, saya merasa menyesal menuliskan tentang hal itu.

Saya merasa melakukan suatu hal yang sia-sia, unfaedah, dan saya merasa menyesal menuliskannya. Pengecut bukan? Mana ada pemberani lari dari sesuatu yang secara sadar memang ia putuskan untuk dilakukan?

Saya menuliskan hal tersebut secara sadar. Bahkan sudah saya sampaikan, tendensius. Tetapi kemudian ketika ada penentangan, saya merasa takut.

Pada akhirnya memang seiring waktu, hal itu tenggelam, atau bahkan larut dan tak lagi menjadikan suatu masalah. Namun tetap saja setelahnya, saya mendapati suatu kesadaran baru bahwa diri saya memang pengecut.


Berpindah lagi pada hal yang lain, kenapa saya seolah mendapati diri saya sebagai pengecut.

Saya mendapati diri ini ternyata mudah dan terlampau gampang merasa iri terhadap kehidupan orang lain. Seolah saya ingin lari dan menukarkan kehidupan saya, dengan kehidupan orang lain. Saya enggan menerima kenyataan, bahwa kehidupan itu sudah sepaket saja adanya.

Bahwa hidup dan kehidupan itu membawa dua hal yang berpasangan, dan terkadang mengandung suatu paradoks tertentu. Tetapi saya enggan menerima satu hal dari dua hal yang berpasangan.

Mudahnya, saya enggan menerima bagian yang susah-susah. Saya selalu ingin bagian yang mudah dan enaknya saja. Enggan pada bagian yang sulit dan pahit.

Misalnya saya ingin menukar kehidupan saya dengan kehidupan pemilik jaringan hotel berbintang. Saya ingin hotelnya saja, kemapanannya saat ini, dan enggan menerima (mungkin) besaran hutangnya di bank, jatuh bangunnya saat merintis jaringan hotel berbintang, dan segala macam usaha yang membutuhkan keringat, dan bahkan darah juga air mata.

Padahal secara sadar saya mengakui dan setuju bahwa hidup ini mengandung paradoks tertentu. Ada senyum dalam tangis, sebaliknya. Ada mudah dalam sulit, sebaliknya. Ada bahagia dalam nestapa.

Tak mesti dalam suatu masalah hanya berisi kesulitan semata tanpa ada kemudahan. Tak mungkin. Tetapi saya enggan menerimanya meski menyadarinya. Saya ingin mudahnya saja. Saya ingin tak usah ada paradoks. Bahagia yang bahagia saja, tak usah dibalut dengan duka atau nestapa.

Pengecut, bukan?

Hanya pengecut yang enggan menerima kehidupannya secara utuh, menerima dan menjalaninya dengan gagah serta waskita.

Secara sadar saya mengakui bahwa hidup ini siklikal, berputar, saling terhubung, dan terjadi mekanisme perputaran, pertukaran, serta perubahan. Tetapi saya enggan menerima posisi dan kondisi ketika roda sedang berada dibawah. Ketika sedang diatas, saya ingin roda itu macet saja, tak usah berputar lagi. Agar saya tetap berada diatas, dan tak perlu merasakan (lagi) berada dibawah.


Konklusi : anggap saja saya sedang mendongeng.

Hidup memang harus selalu seimbang. Di negeri panda, ada istilah dan pepatah serta filosofi Yin dan Yang. Ada hitam harus ada putih. Ada baik harus ada buruk. Ada mudah harus ada sulit. Selalu berpasangan.

Andai pun ketika kita merasa bahwa lebih banyak yang menyakitkan daripada menyenangkan dalam hidup kita, mungkin tak lebih bahwa itu adalah perasaan kita semata, tak lebih. Hanya sepihak dan subyektif. Mungkin sebenarnya kita sedang menjalani yang mudah, tetapi kita sendiri yang merasa sulit. Mungkin kita sebenarnya harus bahagia, tetapi kita sendiri yang memaksa untuk nelangsa.

Jadi…anggap saja saya sedang mendongeng. Anda tahu dongeng? Lebih banyak fiktifnya daripada faktanya.

Salah satu dari sedikit fakta yang saya sampaikan dalam rangakain tulisan juga sesi tulis menulis kali ini adalah : bahwa saya menulis dengan tidak banyak berpikir.

Banyak berpikir membuat saya pusing.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)