Pensil, Kertas, Dan Usaha Belajar Menulis

Ilustrasi pensil dan kertas. Gambar : Pixabay.

Konon, salah satu cara terbaik untuk merangsang syaraf motorik tangan dan membuatnya terkoneksi baik dengan otak adalah menulis dengan kertas dan pensil. Menulis dengan kertas dan pensil akan membuat tangan lebih aktif, dan membuat otak mengingat dengan baik.

Ya, konon lagi, otak akan lebih mengingat apa yang ditulis langsung oleh tangan, dengan menggunakan kertas serta pensil, daripada mengingat tulisan yang tercipta dari tuts-tuts keyboard laptop atau komputer.

Apakah anda percaya?

Seharusnya anda percaya, karena naskah-naskah kuno selalu adalah tulisan tangan. Baik dari jaman Mesopotamia, Yunani, ataupun Mesir Kuno. Semuanya tulisan tangan, dan tak ada satu pun yang berupa tulisan dari cetakan printer komputer. Ahahaha…

Memang sebaiknya jika ingin belajar menulis sesuatu, artikel misalnya, mulailah untuk menulis dengan menggunakan kertas serta pensil. Kertas dan pensil akan lebih mudah membantu keluarnya ide serta merangsang otak untuk terus berpikir secara seimbang. Selain itu, kita akan lebih bisa mengingat tulisan yang ditulis langsung oleh tangan. Mengingat tulisan dengan baik, akan membantu memperlancar keluarnya ide, dan menghindari suatu tema yang sama dalam beberapa tulisan.

Mungkin Tuhan memang menciptakan tangan dan otak untuk terkoneksi dengan baik ketika menulis. Apa yang dipikirkan oleh otak takkan terlalu cepat melebihi kemampuan tangan menuliskannya. Akan selalu ketemu titik ekuilibrium diantara keduanya. Semakin otak berpikir cepat, semakin cepat pula tangan menuliskannya. Begitu juga ketika otak semakin lambat, maka tangan juga tak akan berlari mendahului.

Konsistensi

Konsistensi adalah hal yang tak kalah penting, ketika berkeinginan mendalami sesuatu. Tak jauh berbeda dengan dunia tulis menulis. Belajar menulis dan untuk itu berharap tulisannya akan semakin baik, tak bisa didapatkan hanya dengan satu atau dua hari belajar. Butuh waktu panjang dan lama. Pengecualian mungkin bagi mereka yang memang mempunyai bakat alami untuk menulis dengan baik.

Tetapi untuk orang biasa dan tanpa bakat seperti saya, butuh waktu berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk terbiasa menulis. Itu baru terbiasa dan untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Belum sampai pada tahapan bahwa tulisan layak untuk dibaca, atau dikategorikan sebagai tulisan yang baik. Belum.

Berbulan atau bertahun-tahun baru sekadar pembiasaan bagi tangan, otak, dan juga segenap hati untuk terbiasa menulis setiap hari. Menulis apapun.

Belajar menulis yang ideal [menurut saya], adalah dengan tidak membatasi ide atau tema.

Tulis apapun, yang terpenting adalah tercipta suatu tulisan, setidaknya dalam beberapa paragraf.

Tanpa konsistensi atau kesinambungan, tak akan tercipta kebiasaan. Tanpa kebiasaan, takkan tercipta kemampuan. Sekali lagi, ini tentang manusia biasa tanpa bakat menulis seperti saya ini. Mungkin beberapa dari anda juga mempunyai kondisi seperti saya. Tak mempunyai bakat menulis, tetapi tetap ingin menulis. Maka terus belajar adalah kuncinya.

Memang konsistensi dan kesinambungan menuntut pengorbanan. Waktu, tenaga, dan juga pikiran. Akan banyak waktu yang tersita untuk mengawali proses belajar, dan membiasakannya dalam keseharian.

Misalnya saja pada sepenggal waktu di sore hari, biasanya kita bisa duduk sembari menikmati sepotong senja. Tetapi karena kita sedang dalam suatu proses belajar, dan waktu senggang kita adalah pada sore hari, maka kita akan mengorbankan sepotong senja demi beberapa paragraf tulisan yang belum tentu seindah senja yang kita tinggalkan. Sanggup?

Tentu saja berat, tuan dan puan.

Belajar selalu menuntut pengorbanan lebih, dengan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan serta keinginan.

Dan kegiatan menulis menurut saya, adalah sesuatu yang berlangsung dengan sangat kejam, menyakitkan, namun sekaligus dalam satu waktu itu, membahagiakan.

Menulis adalah kegiatan yang menyakitkan dan mengobati, dalam satu wkatu sekaligus.

Kegiatan yang mengecewakan sekaligus membahagiakan, dalam waktu yang bersamaan.

Maka, butuh konsistensi untuk menuju kesana.

Mulai menulis

Ini yang terpenting. Segera memulai untuk menulis.

Rencana dan angan-angan takkan membuat kita beranjak dari tempat kita saat ini. Harus saja selalu ada langkah pertama.

Bahkan pelari tercepat, harus mengawali rangkaian panjang kecepatan larinya, dengan satu langkah awal.

Semua membutuhkan langkah awal.

Tak ada sesuatu pun yang sanggup untuk langsung berada di tengah, tanpa terlebih dahulu menginjak tepian. Tak ada satu pun yang sanggup berada di ketinggian, tanpa memulai untuk memanjat.

Guru sekaligus panutan saya dalam hal tulis menulis, selalu membuat perumpamaan bahwa belajar menulis itu sama dengan belajar naik sepeda. Tak ada rumus dan resep baku untuk belajar naik sepeda.

Yang ada adalah mulai naik ke atas sepeda, dan mengayuhnya. Begitu terus setiap hari, dan setiap waktu. Tak ada rumus tertentu.

Nantinya seiring waktu, kita akan mulai terbiasa dengan sepeda, dengan irama dan ritme kayuhannya, serta dengan keseimbangannya. Akan mengalir dengan sendirinya, dan sekaligus juga tanpa kita menyadarinya.

Begitu juga dengan menulis. Memulai adalah langkah awal yang harus segera dilakukan, jika memang mempunyai keinginan.

Nantinya, setelah terbiasa, ide serta bentuk tulisan akan mengalir dengan sendirinya, sesuai kapasitas kita masing-masing.

Memang tak semua pesepeda lantas menjadi atlit dan mendapatkan uang dari sana. Begitu juga dengan menulis. Tak semua penulis lantas bisa mendapatkan uang atau penghasilan dari dunia kepenulisan.

Namun tanpa menjadi seorang profesional, seorang pesepeda tetap mempunyai keuntungan. Yaitu, kesehatan.

Bersepeda itu sehat, dan menyehatkan.

Begitu juga dengan menulis. Meski menyakitkan, tetapi sekaligus menyehatkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.