Percakapan Beruang Dan Sapi

Di suatu pagi yang cerah dengan udara segar cenderung dingin, beruang dan sapi terlibat percakapan yang cukup serius. Percakapan itu berkait dengan meroketnya nama ‘beruang’ di jagad peradaban manusia pada wilayah jamrud khatulistiwa.

Ambyar bos.” Beruang terdengar lesu dalam awal percakapan mereka.

“Kenapa? Angsuran macet?” Sapi menimpali sembari nggayemi rumput segar organik di lembah perbukitan tempat mereka melangsungkan percakapan.

Haa kok angsuran, ini lebih gawat.” Beruang menjawab dengan nada suara sedikit tercekat.

“Waduh, gawat level berapa?” Sapi menghentikan kegiatannya, dan fokus melihat serta menunggu kalimat lanjutan dari koleganya itu.

“Kemarin aku ditelepon sama kawanku. Kata kawanku itu, dia dikejar-kejar manusia.” Beruang terdengar lirih memberi penjelasan singkat kepada Sapi.

“Lhah, dibedhil? Bukannya trah mu itu memang dari dulu diburu manusia?” Sapi sedikit heran.

“Ini beda Sap.”

“Beda gimana?” Sapi bertambah kadar herannya.

“Manusia-manusia yang memburu kawanku itu, tidak membawa bedhil.”

“Bawa pedang? Tombak? Panah?” Sapi mulai terkikis kesabarannya demi memuaskan dahaga atas rasa heran yang mulai membuncah.

“Mereka membawa ember dan kaleng-kaleng besar yang seperti digunakan untuk memerah susu pada trah mu itu.”

Blaik.” Sapi melongo dan ndomblong untuk sesaat.

Angin lembah bertiup menemani pagi mereka yang cerah, sedikit memberikan kesegaran pada pikiran mereka yang mulai gerah oleh rasa aneh atas tingkah polah manusia.

“Menurut informasi yang kemudian beredar luas di portal web kami, manusia-manusia itu memang mau memerah susu kami.” Pandangan Beruang nanar menyapu pada luas lembah disekitar mereka.

“Jagad dewa bathara!” Sapi berteriak sembari melompat dari tempatnya duduk, seketika berdiri dan nyalang matanya menatap baris pegunungan. “kok manusia tambah gemblung?” lanjutnya lirih, tak lagi ada nada tinggi.

“Itu gegara kamu juga Sap.” Beruang melirik ke arah Sapi.

“Kok aku?” Sapi berlipat ganda rasa herannya.

“Itu lho gegara susu kemasan kalengan dengan gambar dan nama kaumku, padahal isinya susumu.” Beruang berkata sembari tertawa kecil.

“Owalah.” Sapi tertawa terpingkal, “Bukannya itu juga salah kalian sendiri?” Sapi melanjutkan setelah reda tawanya.

“Kok bisa?”

“Ya itu kan gegara moyang kalian membuat perjanjian dengan manusia, pengusaha asal Swiss pada tahun 1898.” Sapi berpanjang lebar.

“Oiya, disana dulu namanya ‘Barenmarke‘ ya?” Beruang teringat.

“Lha itu bisa ingat.”

“Menurut catatan yang ada di kantor pusat Perbengad (Persatuan Beruang Sejagad), kami dulu sebenarnya menolak nama dan karikatur tubuh kami dijadikan gambar pada merk produk itu.”

“Musyawarah menolaknya.” Beruang melanjutkan.

“Tapi kok akhirnya setuju?”

“Itulah, setelah musyawarah itu, pimpinan-pimpinan tertinggi memberikan jawaban dari hasil musyawarah itu kepada manusia. Dan saat itulah manusia melakukan lobi-lobi.”

“Mesti ditawari sesuatu?” Sapi menerka-nerka.

“Betul banget Sap.”

“Ditawari apa waktu itu?”

“Menurut catatan sejarah dari notulen pertemuan saat itu, manusia menawari untuk membantu menghentikan perburuan terhadap kami. Mereka berjanji akan menggalang dukungan dan membuat petisi untuk menghentikan perburuan terhadap beruang. Tahu sendiri, kami dari dulu diburu untuk diambil kulit.” Beruang menghela nafas sebelum melanjutkan, “Tetapi…” Beruang terdengar ragu.

“Kenapa Ber?” Sapi mendekat sembari menepuk bahu beruang.

“Tahu sendiri Sap, perburuan tetap berlangsung setelah penandatanganan nota kesepahaman itu.” Beruang menitikkan air mata, mentari pagi tak mampu membantu mengusapnya, Sapi tak kuasa untuk tak larut terharu didalamnya.

“Dasar manusia penipu, tak berakhlak, tak bermoral, tamak, serakah…” Sapi geram sampai rumput segar di mulutnya dimuntahkan demi bisa mengumpat sekerasnya.

“Bukan begitu Sap. Bukan salah manusia juga.” Beruang lirih mencoba menenangkan Sapi yang terlanjur emosi.

“Haa trus?” Sapi masih tak terima dan mencoba berempati pada koleganya itu.

“Kami ditipu kaum kami sendiri, para petinggi-petinggi itu.” Beruang tak kuasa menahan tangis.

Angin berhenti bertiup, lembah terasa hening, suasana tintrim menyelimuti, paradoks dengan cuaca cerah dan hangat sinar mentari.

“Bertahun setelah penandatanganan itu, sampai jauh pada generasi setelahnya, kami mencoba membuat kontak dengan manusia dari perusahaan itu. Niatan kami, untuk mencoba menanyakan perihal perjanjian yang sudah dilakukan. Kenapa manusia membuat janji di atas ingkar.”

“Hasilnya?”

“Ternyata, catatan dan dokumentasi pada mereka berbeda dari catatan kami.”

“Maksudnya?”

“Manusia menunjukkan bukti-bukti bahwa imbal balik yang akan mereka berikan bukanlah untuk membantu menghentikan perburuan terhadap kami, melainkan…” Beruang tak kuasa melanjutkan.

“Apa Ber…?”

“Ternyata manusia memberikan janji berupa  hutan luas pribadi kepada para petinggi kami, serta jaminan bahwa hutan itu tidak akan dijamah manusia, tidak pula akan dilakukan perburuan hanya kepada mereka.”

“Gusti Kang Murbeng Dumadi.” Sapi terduduk lemas.

“Pantas saja para petinggi saat itu, tiba-tiba meletakkan jabatan dan berkata akan mengundurkan diri dari hingar bingar organisasi. Mereka berkata agar generasi muda melanjutkan estafet kepemimpinan, melanjutkan perjuangan bermodal warisan yang mereka berikan. Mereka berkata bahwa sudah saatnya ada regenerasi. Manis sekali, dan setelah itu mereka menghilang pergi tak terdengar kabar beritanya lagi.”

“Eh tapi, jangan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan manusia. Jangan-jangan mereka hanya berusaha mengadu dan memecah belah kalian?”

“Sepertinya tidak Sap. Mereka memberikan banyak bukti, bahkan ada bukti rekaman suara dari pertemuan itu. Ada juga foto ketika dilakukan penandatangan di atas kertas, difoto juga isi perjanjian itu dengan masing-masing perwakilan memegangnya. Tertulis jelas bahwa memang todak ada janji untuk membantu menghentikan perburuan. Yang ada adalah janji untuk memberikan keuntungan hanya pada segelintir pihak. Dalam hal ini, kepada para petinggi organisasi saat itu.”

Sapi tak lagi bersemangat, kini ia melamun. Kasihan juga Beruang, pikirnya.

“Eh tapi Ber, sebenarnya dalam hal ini kami bangsa Sapi juga menjadi korban lho. Jadi bukan hanya kalian yang menjadi korban.” Sapi berkata sembari berdiri.

“Maksudnya?” Ganti Beruang yang heran.

“Dalam konteks akhir-akhir ini, lepas dari kejadian bahwa kawanmu dikejar-kejar untuk diperah susunya, sebenarnya kami juga menjadi korban.” Sapi menjelaskan.

“Jelaskan lebih detail, aku tak paham.” Beruang menggaruk kepalanya.

“Begini, seperti katamu tadi, bahwa ini berpangkal pada susu kemasan kaleng bergambar wajahmu.”

“Iya.” Beruang masih belum tercerahkan dari rasa heran.

“Tetapi berisi susu dari kaum kami.” Sapi melanjutkan.

“Betul.” Beruang mengiyakan pernyataan Sapi.

“Nah, itulah Ber.” Sapi melemparkan pandangannya jauh pada langit yang biru.

“Apa sih?” Beruang tentu saja masih belum mendapatkan penjelasan.

“Kami yang bekerja, kami yang diperah susunya, kami yang menderita, tetapi kalian yang kondang. Kalian yang tenar, kalian yang dieluk-elukan, namamu yang banyak disebut, kamu yang mendapatkan pujian.” Sapi tertunduk.

“Benar juga.” Beruang mendekati Sapi dan memberikan pelukan persahabatan, mencoba menguatkan dan memberikan dukungan.

“Sudah begitu, kami masih sering pula disalahkan ketika ada manusia yang mencret ketika meminum susu kami. Kami masih pula disalahkan ketika produksi susu tak lagi dianggap memenuhi. Sebisa mungkin kami sudah bekerja keras, tetapi apa yang kami dapatkan selain disalahkan? Bahkan sekadar pujian dan dukungan tak kami dapatkan.” Sapi tercekat tak mampu melanjutkan kalimatnya.

“Memang begitulah nasib kami, sapi perah. Sasaran dari segala kesalahan dan hujatan. Tapi akan tetap kami jalani dengan penuh kehormatan.” Sapi tersenyum sembari membalas pelukan Beruang.

Angin kembali bertiup, rerumputan nampak bergoyang, mentari perlahan merangkak menuju puncak, mencoba memberikan kehangatan ditengah dinginnya nasib sapi dan beruang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *