PERGI

Entah apa namanya, tetapi yang jelas saya enggan memakai kata atau istilah hijrah. Terlalu berat, dan bagi saya : terlalu relijius.

Hijrah akan menemukan maknanya, jika ia sudah [pasti] bertujuan untuk keadaan yang lebih baik. Dari keadaan yang kurang baik tentu saja. Dalam kondisi saya, memang ‘pergi’ ini berangkat dari keadaan yang kurang baik. Tetapi untuk memastikan apakah akan menjadi lebih baik, belum tentu.

Maka saya enggan memakai istilah hijrah, takut nanti kalau-kalau Kanjeng Nabi Muhammad tidak berkenan. Kalau Kanjeng Nabi kan jelas memang bertujuan agar keadaan menjadi lebih baik. Lagipula Kanjeng Nabi hijrah kan untuk kepentingan umat Islam, banyak orang. Sedangkan saya pergi dalam persentase yang lebih banyak untuk kepentingan diri saya sendiri. Baru sebagian untuk orang-orang di sekitar saya. Mana pantas disebut hijrah.

Hijrah adalah dimensi ruhaniah mas, belum tentu jasmaniah. Yang penting niatnya untuk menggapai ridho Allah, berusaha menjadi atau mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Ah ya, itu kan versi anda. Versi saya ya seperti ini dulu. Pergi, bukan hijrah.

Saya memang sering pergi, beberapa ke tempat yang cukup jauh, namun bukan untuk berdomisili. Sekadar dolan saja, kemudian beberapa hari setelahnya, pulang. Saya kalah dengan adik saya yang pertama, yang semenjak lulus kuliah sudah berani pergi dari rumah untuk bekerja di Cilegon.

Pada dasarnya saya ini anak rumahan, tak bisa jauh dari orang tua, terlebih Mamak saya. Dulu waktu pertama ‘pergi’ dari rumah orang tua untuk tinggal di Piyungan, saya menangis setiap malam sampai hampir satu Minggu lamanya. Terus menerus. Rasanya seperti kehilangan sesuatu, kehilangan akar untuk kokoh berpijak, dan kehilangan dahan untuk berpegangan.

Tetapi lama-lama kok ya biasa saja, meski pada beberapa kesempatan atau momentum, serasa bahwa ada beberapa hal yang hilang. Benar-benar hilang, dan tak bisa digantikan oleh hal lain meski berwujud hampir sama dan serupa.

Ini hanya sekadar pergi, tak lebih. Pergi yang biasa saja, tak ada yang istimewa. Berkali-kali pernyataan dogmatis tersebut saya tekankan pada diri sendiri. Bahwa pada kenyataannya, manusia memang harus seringkali pergi. Dari satu tempat ke tempat lain, dari satu dimensi ruang dan waktu, menuju ruang dan waktu selanjutnya. Ini hal yang biasa.

Bahwa nanti harus ada adaptasi, anggap saja sebagai suatu cara untuk mengingat asal muasal dan Sangkan Paran. Bahwa dulu berasal dari surga [katanya], kemudian pindah ke rahim ibu, dan kelak pindah lagi ke alam kubur, dan baru kembali lagi ke surga. Kalau beruntung.

Maka ini adalah pergi yang biasa. Perjalanan yang memang sudah semestinya. Tak ada yang perlu dirisaukan. Bahwa akan ada hal-hal yang tertinggal dan tak bisa dibawa turut serta, adalah keniscayaan. Toh lahir ke dunia juga tak membawa apa-apa selain tangis dan dua saudara [ari-ari dan air ketuban]. Lain itu, seingat saya, saya tak membawa apapun dari rahim Mamak.

Nanti secangkir kopi di teras rumah Piyungan akan saya tukar dengan secangkir kopi di teras kos-kosan. Jika biasanya menyesap secangkir kopi sembari melihat pepohonan dan mendengar kicau burung liar, maka esok akan saya ganti dengan mendengar suara meteran listrik pulsa yang hampir kehabisan daya.

Semuanya biasa saja, harus biasa saja. Toh sudah diniatkan, dan tak perlu ada yang disesalkan. Penyesalan hanya milik hati lemah yang tak kuat menanggung merahnya darah. Sedangkan saya ini, kurang berdarah apalagi sampai usia lebih kepala tiga?

Kemudian saya berusaha untuk tidak menangis. Celakanya, tidak menangis pun ternyata juga tak baik-baik amat. Apalagi kota ini sungguh panas. Panas tak terkira. Tak mengeluarkan air mata harus dibayar mahal dengan diganti mengeluarkan keringat. Yang ternyata itu lebih menyiksa.

Tak mengapa, anggap saja mandi sauna.

Ini adalah pergi yang biasa saja, tak ada yang perlu dikumandangkan gaungnya. Baik ke dalam diri sendiri, terlebih kepada dunia. Dunia tak boleh tahu tentang kepergian yang semacam ini. Kepergian yang belum jelas baik-buruknya. Yang sudah jelas baru usahanya. Usaha untuk menjadi dan mencari jalan yang lebih baik. Kelak kalau sudah ada hasilnya, barulah boleh dunia tahu tentang detail cerita.

Untuk sementara, biarlah ini menjadi pergi yang biasa. Pergi yang seperti dolan saja. Pergi yang tak harus dirayakan dengan gegap gempita, atau disiram dengan air mata.

Sudah?

Iya sudah. Tak ada yang perlu dipanjangkan dari hal-hal biasa semacam ini. Kelak akan dipanjangkan ketika musim penghujan tiba. Ketika hujan turun, dalam rintik yang berulang itu, kita lihat : apakah ada melankolia yang sama dalam rinai hujan dari semesta.

Selamat malam.

3 Comments

  1. I used to be suggested this web site by means of my cousin. I’m now
    not certain whether this publish is written via him as nobody else recognise such targeted about my difficulty.
    You are wonderful! Thank you!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *