Perjalanan

Ilustrasi Jalan

Saya hampir selalu menyukai perjalanan yang dilakukan. Baik itu perjalanan dengan benar-benar berjalan menggunakan kedua kaki, atau mungkin perjalanan dengan kendaraan. Bisa dengan kendaraan pribadi, maupun juga kendaraan umum.

Saya selalu menyukai semuanya, meski takkan bisa mengingat dengan baik kesemuanya.

Saya menyukai perjalanan, sebaik saya menyukai tidur disaat merasakan kantuk. Setiap perjalanan yang saya lakukan, itu juga berarti adalah penebusan terhadap sejarah kehidupan masa lalu saya, yang hampir tak pernah kemana-mana.

Perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, adalah semacam penebusan sekaligus ‘pelarian’. Pelarian dari suatu kenyataan bahwa saya memang tak pernah pergi kemana-mana, bahkan jika itu sekadar pergi ke lingkungan sekitar. Sampai saya menginjak bangku SMA, saya hampir tak pernah pergi kemana-mana. Paling jauh, adalah pergi pulang sekolah sejauh tujuh kilometer dengan bersepeda. Selebihnya, waktu lebih sering saya tandaskan dengan memeluk guling dan menyuntuki bantal.

Bukan tanpa alasan jika saya lebih memilih untuk tidak keluar rumah. Saya bukan sejenis manusia yang bisa mengerjakan banyak hal diluar rumah. Tak seperti kebanyakan teman sebaya di kampung asal dulu, yang begitu kreatif dan cerdas sehingga bisa mengerjakan banyak hal. Entah itu membuat layang-layang, membuat taman kecil di sekitar pekarangan, atau membantu orang tuanya di sawah.

Saya? Saya adalah pecundang hampir pada semua hal yang saat itu (ketika saya kecil) merupakan penanda sahih bakat dan keterampilan. Mencangkul, merumput pakan ternak, membuat layang-layang dan sekaligus memainkannya, membuat taman, memelihara burung, bahkan sekadar bersiul dengan nyaring. Saya pecundang pada kesemuanya.

Maka tak salah ketika Mamak seringkali membandingkan saya dengan beberapa teman sebaya, entah tetangga atau saudara, yang berbakat dan rajin hampir pada semua hal. Seringkali ketika diperbandingkan itu, bukan semangat perubahan yang menyala dalam diri saya. Namun semangat meneguhkan diri untuk semakin tak usah keluar rumah saja.

Saya tak bisa menanam bunga. Tak tahu cara mencampur tanah dan pupuk kandang. Tak bisa menyabit pohon padi yang habis dipanen, dan terlebih tak bisa melakukan apapun dengan baik dan benar. Masih teringat dengan jelas suatu waktu seorang berusia dewasa di kampung mengatakan sesuatu kepada saya, “Bocah kok raiso ngopo-ngopo.”

Suatu ketika, Bapak pernah membentak saya dengan cukup keras karena kebiasaan itu. Kebiasaan untuk tidak keluar rumah, tidak mengerjakan apapun, dan hanya tiduran juga tidur beneran sepanjang waktu. Bapak mengatakan kepada saya :

“Urip kuwi ojo koyo kodok neng njero bathok, ora ngerti kahanan njobo.” (Hidup itu jangan seperti katak di dalam tempurung, tidak tahu keadaan luar)

Waktu itu saya sama sekali tak mengerti maksud perkataan Bapak, dan hanya mengerti bahwa itu adalah peringatan bahwa saya harus lebih sering keluar rumah.

Ketika SMA, sesudah diberikan sebuah sepeda motor dan mempunyai surat ijin mengemudi, saya lebih sering keluar rumah. Bukan untuk srawung atau bergaul, bukan pula untuk melakukan suatu kegiatan yang berfaedah. Sebaliknya, saya justru lebih sering melakukan kegiatan yang unfaedah.

Saya hanya akan berkeliling dengan naik sepeda motor, selama satu atau dua jam. Kemanapun, dan hampir tak pernah bertujuan. Pernah pada suatu sore tiba-tiba saya sudah berada di Pantai Parangtritis, sendirian. Padahal saya hanya mempunyai uang sepuluh ribu rupiah, dan tanpa membawa dompet. Untung saja di saku jaket masih ada dua batang rokok yang saya beli secara eceran.

Untuk mencari pembenaran dari kegiatan yang saya lakukan, saya berasumsi bahwa saat itu sudah melihat keadaan luar. Tak hanya di seputaran kampung, bahkan saya berada di tepi pantai selatan. Bahkan pembenaran sepihak saya semakin menjadi-jadi, dengan beranggapan bahwa perjalanan yang saya lakukan adalah untuk menghapal jalan. Siapa tahu kelak ada orang-orang yang belum tahu arah jalan ke Pantai Parangtritis, dan saya bisa menunjukkannya. Waktu itu Google maps belum lahir. Salah satu cara untuk menuju suatu tempat yang belum diketahui adalah dengan bertanya pada orang yang pernah kesana. Saya menghibur diri, bahwa apa yang saya lakukan tentu saja berguna.

Dalam tiap perjalanan yang unfaedah itu, saya selalu menikmatinya. Setidaknya karena itu adalah hal yang bisa saya lakukan selain hanya tidur dan membaca buku di rumah.

Kini (saat itu semenjak sering keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor), saya meneguhkan diri bahwa bukan lagi kodok neng njero bathok. Saya tahu bahwa ada jalan beraspal tetapi rusak tak karuan di tengah pedesaan kecamatan Turi. Saya juga menjadi tahu ada jalan alternatif untuk menghindari retribusi untuk masuk kawasan wisata Kaliurang. Saya juga tahu kalau sebenarnya, tidur masih lebih enak.

Tetapi tentu saja semua pembenaran itu bersifat subyektif, dan benar-benar hanya pembenaran dan pelarian, tak lebih. Saya tetap tak bisa menjadi ahli berkebun, tak bisa beternak burung, tak bisa mencangkul, dan tak bisa menghasilkan uang dari kegiatan bersepeda motor itu.

Tetapi saya menikmatinya, karena itu adalah satu-satunya kegiatan yang bisa saya lakukan di luar rumah. Dan dengan cara itu, saya bisa melihat dunia luar.

Saya pecundang dalam banyak hal, namun setidaknya (kini) saya jarang tersesat ketika melakukan perjalanan. Saya cukup awas dalam menghapal ruas jalan dan tanda-tanda disekitarnya, ketika melintas disuatu ruas jalan yang baru sekali saya lewati. Ketika melintasinya lagi bahkan jika sudah berselang sekian tahun, saya masih akan mampu mengingatnya.

Tetapi tentu saja mengingat ruas jalan bukanlah suatu keahlian. Itu hanya sekadar pelarian. Tentu juga bukan suatu cara untuk melihat kondisi dunia luar, karena saya hanya sebatas memandang tanpa memahami secara mendalam.

Saya hampir menyukai semua perjalanan yang saya lakukan, entah ketika menuju suatu tujuan, atau sekadar menghabiskan waktu. Karena hanya itulah satu-satunya hal yang bisa saya kerjakan dengan cukup baik, selain tiduran dan tidur beneran.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *