Pertanyaan

Untuk kesekian kali saya harus menjawab pertanyaan sederhana yang berulang ini : Apakah manusia benar-benar mempunyai pilihan?

Tentu saja pertanyaan itu datang dari diri saya sendiri.

Pertanyaan itu kembali datang tepat ketika seharusnya saya tidur, tetapi yang terjadi justru saya menjerang air dan membuat segelas kopi. Mungkin menjerang air dan membuat kopi bisa diterjemahkan bebas sebagai sebuah pilihan;pun jika saya akhirnya tidur dan tak jadi menjerang air dan membuat segelas kopi.

Memilih tidur atau membuat kopi mungkin adalah ‘pilihan’, meski juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah pilihan. Jika saya memaksa bahwa keduanya adalah keterpaksaan, mungkin ada tesis lain yang mengatakan bahwa keterpaksaan pun juga adalah pilihan.

Selalu tidak mudah menentukan label dari sikap yang kita ambil, apakah benar itu adalah pilihan, ataukah kita sekadar sedang menjalani sesuatu yang tersistematis membuat kita harus melakukannya.

Jadi, bukan perkara memilih tidur atau membuat kopi. Tetapi lebih pada karena kita dihadapkan pada dua kondisi yang mengharuskan kita melakukannya. Tidur karena badan lelah dan kemudian mengantuk, atau membuat kopi dan meminumnya karena kita merasakan tubuh membutuhkan asupan zat dari kopi.

Bukan karena kita benar-benar harus dan mempunyai pilihan, melainkan karena kita ‘terpojok’ oleh kondisi dan keadaan yang membuat kita harus melakukannya.

Pada akhirnya saya menghadapi sebuah gelas berisi kopi. Meminumnya segera atau menunggunya sedikit lebih hangat agar tak terlalu panas, apakah juga pilihan?

Meminumnya segera, menandaskan seluruh cairan pekat pahit, atau menundanya sembari menyulut sebatang rokok agar bibir tak melepuh kepanasan? Tinggal pilih, benarkah?

Tidak juga. Selalu ada alasan dan latar belakang. Bukankah menghindari bibir melepuh itu adalah alasan? Meminumnya segera pun juga mempunyai alasan;karena mata tak mau diajak berkompromi untuk jangan dulu terpejam sebelum menyelesaikan tulisan.


Pertanyaan tentang pilihan itu selalu saja menggusarkan. Bukan saja karena memang tak penting, tetapi kenapa harus ada pilihan?

Bukankah lebih mudah dan menyenangkan ketika kita bisa seminimal mungkin lepas dari tanggung jawab atas pilihan-pilihan dan perbuatan yang kita lakukan.
Bukankah lebih menyenangkan melihat matahari terbit dan terbenam sesuai waktunya tanpa kita harus ikut campur dalam mengatur kapan seharusnya matahari terbit serta terbenam.

Tinggal kita sediakan mata dan sedikit rangkaian perasaan melankolia untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Tak harus direcoki dengan pembuatan jadwal, dan apakah nantinya matahari akan terbit dan terbenam dengan disertai rangkaian awan ataukah langit yang berwarna biru atau sedikit cokelat kegelapan.

Ataukah sebenarnya anda tertarik untuk ikut membuat jadwal terbit dan terbenamnya matahari?

Bagi saya sebuah pilihan;dalam hal memilih apapun, selalu menakutkan karena memuat konsekuensi logis yang tak dapat dihindari. Pun jika pilihan itu ada karena keterpaksaan.

Misalnya saja ketika saya lebih memilih untuk tidur saja daripada menjerang air dan membuat segelas kopi dan menyesapnya perlahan. Termuat suatu konsekuensi bahwa bisa saja esok saya tak lagi bisa menikmati segelas kopi, dan tak tahu kapan lagi bisa menikmati segelas kopi. Misalnya saja karena ketika saya memutuskan tidur, ternyata wadah tempat saya menyimpan kopi dihajar oleh tikus sialan, dan kopi saya berhamburan.

Begitu juga ketika memutuskan untuk membuat kopi dan menunda tidur, termuat konsekuensi bahwa badan dan mata saya tertunda haknya untuk lekas beristirahat. Menunda atau menghalangi sesuatu yang menjadi hak dari pihak lain —meski itu adalah diri kita sendiri—, adalah dosa besar. Salah?


Konsekuensi dan akibat dari pilihan yang kita lakukan itulah, yang membuat saya ketakutan. Karena terkadang alam pikiran dan olah jiwa manusia tak mampu menjangkau dan mencakup ‘hikmah’ yang terkandung dalam suatu pilihan yang ia lakukan.

Apalagi ketika pilihan-pilihan yang ia lakukan sudah disertai dengan perhitungan matang dan kalkulasi rencana yang meminimalisir melesetnya target dan tujuan. Apa yang seringkali tak tertangkap oleh akal dan pikiran adalah : kenapa tak mesti pilihan yang dilakukan sesuai dengan angan-angan?

Lantas apa gunanya memilah dan memilih, jika akhirnya manusia harus menerima konsekuensi yang terkadang berada diluar jangkauan kuasanya untuk memperbaiki dan kembali pada titik awal ketika ia memilih, jika kemudian ternyata pilihan yang ia lakukan berakibat kurang baik bagi dirinya?

Bukankah sebenarnya pilihan yang dilakukan manusia lebih serupa perjudian? Karena ia tak pernah tahu tentang konsekuensi apa yang akan ia hadapi. Dan bukankah perjudian itu dilarang?

Bisa saja manusia berkilah bahwa apa yang akan terjadi terhadap pilihannya bukan lagi dalam ranah jangkauan kuasanya.
“Serahkan pada Dzat yang Maha Mengatur.”
Begitu kira-kira.

Namun tetap saja konsekuensi atau akibat itu, haruslah manusia sendiri yang menghadapi dan menjalaninya. Baik buruk dan benar salahnya. Ia yang akan menerima dan menjalani akibatnya.


Bukankah lebih menyenangkan dan menenteramkan untuk tak usah banyak direcoki tanggung jawab atas pilihan-pilihan?
Bukankah lebih menyenangkan untuk tinggal menikmati apa saja yang tersaji dan tersedia? Tanpa harus ikut bertanggung jawab atas sebab dan akibat.

Pada akhirnya pertanyaan itu tetap mengendap dan menyublim untuk tak lebih menjadi suatu pertanyaan. Tak pernah terjawab dan apalagi ditemukan suatu kerangka solusi dari pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya pertanyaan itu hanya sekadar eskapisme dari kegusaran yang ada, kecemasan yang timbul, atas kendali yang hilang dari sebuah hal bernama : masa depan.

Masa satu detik yang akan datang, satu menit, satu jam, satu hari, yang manusia takkan mampu menjangkau perihal apa yang akan terjadi.

Pada akhirnya segelas kopi juga hanyalah eskapisme atau pelarian, agar waktu tak lekas menggelincir deras menuju esok pagi. Agar waktu tak lekas berlalu, agar ada sedikit saja perpanjangan waktu.

Hidup tentu saja sudah sedemikian rumit, sulit, dan terkadang berat. Maka tak seharusnya masih dijejali dengan berbagai pertanyaan tak penting.

Jalani saja, tinggal menunggu apakah di depan ada bom yang siap meledak dan melukai, ataukah ada rupa-rupa pelangi yang menyunggingkan senyum menepis segala resah, memeluk hati dengan hangat dari hari ke hari.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)