Pesantren Kilat

Tempo hari [18/05/2019] saya mengambil sedikit dokumentasi dari kegiatan pesantren kilat yang diadakan oleh madrasah. Pesantren kilat yang diikuti oleh anak-anak kelas 7 dan 8. Pesantren kilat yang tidak menginap, tetapi dilakukan intens selama dua hari. Hari ketika saya mengambil sedikit dokumentasi adalah hari kedua, hari terakhir.

Fokus pengambilan gambar yang saya lakukan, saya tujukan pada kegiatan di aula madrasah. Jujur saja saya sedikit malas mengambil gambar dokumentasi secara formal, apalagi dalam kondisi sedang berpuasa. Maka alih-alih mengambil gambar, saya malah larut dengan kondisi anak-anak, ketika mengikuti kegiatan.

Ada yang mengantuk tentu saja, tetapi tak kurang banyak juga yang antusias.

Saya sendiri, antusias untuk mengantuk. Ahaha…

Saya mengambil dua sesi kelas, pagi dan menjelang siang. Dengan peserta yang sama, namun pengisi materi berbeda. Saya tertarik saja mengamati bagaimana anak-anak merespon dua materi dari dua orang pemateri yang berbeda.

Ternyata….public speaking itu memang penting adanya.

Begini, saya mengamati dua kecenderungan yang bertolak belakang dari sebagian besar anak-anak peserta pesantren kilat, terhadap dua pemateri yang berbeda.

Pada sesi pagi atau yang pertama, anak-anak banyak yang terlihat lesu dan mengantuk. Terlihat jelas dari gestur tubuh dan roman muka mereka. Dasar anak-anak, tentu saja gestur mereka menjadi mempengaruhi saya. Saya jadi ikut mengantuk.

Pada sesi kedua yang berlangsung menjelang siang, anak-anak terlihat lebih antusias. Padahal harusnya di bulan Ramadan seperti ini, menjelang siang jauh lebih menyiksa untuk menahan kantuk dan menekan rasa bosan. Tetapi anak-anak peserta pesantren kilat malah terlihat lebih antusias mengikuti kegiatan.
Sedangkan saya….tetap mengantuk….

Mau tidak mau akhirnya saya harus memperbandingkan dua kondisi yang mempengaruhi anak-anak itu. Kesimpulan subyketif saya, adalah kemampuan berbicara dari pemateri yang ada.

Dua orang yang menjadi pemateri, menyampaikan materi dengan dua cara berbeda yang bertolak belakang.

Yang satu aktif komunikatif, sedangkan yang satu pasif.

Pasif

Pemateri pertama, pasif. Ia hanya duduk di kursi, sebuah meja membatasinya dengan anak-anak yang duduk lesehan diatas tikar. Terlihat seperti pisowanan ageng di keraton.

Beberapa kali pemateri menaikkan nada suara, ketika terlihat beberapa anak ramai dan asyik sendiri. Suaranya akan kembali pada nada ‘normal’ ketika anak-anak terlihat diam. Namun yang sedikit luput, diamnya anak-anak adalah karena mengantuk. Saya melihat beberapa anak tertunduk lesu, sembari tangannya menyangga dagu. Ngantuk berat sepertinya.

Mungkin materi dan atau cara penyampaian materi semacam itu kurang menarik bagi anak-anak. Apalagi si pemateri lebih banyak melihat buku daripada melihat ke arah anak-anak.

Tak ada komunikasi yang terbangun antara pemateri dan peserta. Sehingga mungkin saja kemudian anak-anak merasa bosan dan mengantuk.

Eh tapi, benarkah anak-anak bosan, dan kemudian mengantuk?
Atau jangan-jangan mereka mensyukuri kondisi yang demikian? Sehingga mereka dapat memuaskan hasrat memejamkan mata.

Bisa jadi mereka malah mensyukuri sesi yang pasif semacam itu. Sehingga mereka tak usah terlalu banyak mengeluarkan energi serta tenaga, untuk merespon segala apa yang disampaikan pemateri. Mereka tinggal menganggukkan kepala jika pemateri bertanya dan membutuhkan persetujuan, atau menggelengkan kepala sekira pertanyaan retoris yang terlontar membutuhkan ketidaksetujuan.

Alangkah menyenangkannya kejadian semacam itu.

Saya sendiri juga sering terkantuk bahkan tertidur ketika mengikuti acara yang pasif demikian itu. Toh materi sudah terpegang di tangan, dan bisa dipelajari lain waktu. Perkara ngantuk ketika acara berlangsung, adalah kenikmatan yang tak bisa terulang.

Aktif komunikatif

Sesi kedua ketika saya mengambil gambar, anak-anak terlihat tegak kepalanya. Mereka menyimak apa yang disampaikan pemateri, sembari kepala dan matanya bergerak mengikuti.

Ya, pemateri pada sesi kedua lebih aktif bergerak. Ia tidak hanya duduk di kursi dengan menghadap sebuah buku. Kali ini, pemateri bergerak dan berdiri menuju ke tengah peserta. Sebuah slide presentasi tersaji dari layar proyektor.

Komunikasi yang dilakukannya juga interaktif, berlangsung dua arah. Sesekali bertanya, namun langsung membutuhkan jawaban tegas dari para peserta.

Anak-anak tak terlihat ada yang mengantuk. tetapi, kenapa saya tetap mengantuk?

Anak-anak memang terlihat antusias. Mungkin karena tak ada peluang untuk mengantuk, atau karena peluang mengantuk pupus oleh rasa takut sebab kini pemateri berdiri dekat dengan mereka. Tegak kepala anak-anak, dengan sesekali jawaban tegas keluar dari bibir mereka.

Bersemangat sekali, mereka ini berpuasa atau tidak sebenarnya???

Saya yang hanya mengambil gambar saja, rasanya sudah malas-malasan. Kok mereka bisa bersemangat seperti itu???

Pemateri kedua ini terlihat lebih bisa menguasai keadaan, menguasai kondisi kejiwaan anak-anak, membuat mereka tenang tanpa harus meninggikan nada suara.

Yaaa, guru kan memang sudah mendapatkan pengajaran untuk bisa seperti itu. Kalau saya sih, berbicara di depan kucing saja sudah gemetar tak karuan.

Foto buram

Semua foto dari yang sedikit saya ambil itu, tak ada yang bagus. Semuanya buram. Baik dari komposisi, warna, maupun pencahayaan. Tak ada satu pun yang hidup dan memberikan cerita tanpa berkata-kata.

Semua foto yang saya ambil, hanya diam saja.

Heran juga, biasanya meski hanya satu atau dua, tetap ada foto yang hidup dari tangan saya. tetapi kali ini, sama sekali tidak ada.

Mungkin karena saya lebih banyak mengantuk ketika mengambilnya. Atau karena belum ada lagi semangat yang terbentuk akibat kekecewaan.

Lhah, kekecewaan terhadap apakah gerangan?

Terhadap apapun yang menggoreskan kekecewaan. Sebab manusia memang rentan untuk kecewa.

Ah, ini kan Pesantren Ramadan, kenapa harus ada kecewa?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

3 Comments

  1. Ping-balik: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.