Piyungan-Banteran, Sepanjang Lockdown Kenangan

Pagi tadi saya harus melakukan perjalanan jauh, ditengah himbauan untuk tetap berada di rumah. Perjalanan yang memang harus saya lakukan, karena beberapa alasan.

Alasan pertama, harga buah yang mengandung vitamin C akhir-akhir ini cenderung agak mahal. Alasan kedua, vitamin C dalam bentuk suplemen yang biasa dijual di toko atau apotek cenderung langka. Kalaupun ada dan masih tersedia, lagi-lagi tinggal menyisakan yang berharga mahal. Alasan ketiga, kemarin lusa Mamak mengirim pesan singkat kepada saya yang kira-kira isinya : “Ora ngalor opek jambu Dul?”

Dan tentu anda tahu bahwa jambu biji mengandung vitamin C lebih tinggi dari buah apel yang diagungkan di Eropa. Maka berangkatlah saya menjemput buah jambu yang berkhasiat itu. Berkhasiat menyehatkan tubuh dan menyelamatkan dompet saya dari cekikan harga vitamin C yang melambung tinggi.

Saya sengaja mengambil rute melewati pedesaan. Rute yang dulu biasa saya tempuh saat pergi pulang bekerja (ketika masih menjadi bagian dari sesuatu di Sleman).

Sepi, dan saya tak tertarik untuk memacu kendaraan dengan kencang. Saya berkendara pelan saja, menikmati jalanan yang lengang dan sepi. Sangat jarang jalanan sepanjang Piyungan-Banteran lengang dan sepi seperti tadi pagi.

Sepanjang perjalanan saya mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Saya tertarik pada beberapa informasi yang menyatakan perihal beberapa kampung yang lockdown di Sleman. Saya ingin melihat sendiri kebenaran berita itu, dan menyaksikan secara sekilas bagaimana mekanisme lockdown yang dilakukan.

Ternyata pada beberapa kampung memang dilakukan lockdown, setidaknya dari tulisan yang terpampang.

Kampung kami lockdown.”

Jangan bertamu dulu, kami ingin sehat.

Datang dari luar harap disemprot dulu.

Stay at Home. Corona lebih kejam dari mantan.”

Untuk tulisan terakhir itu, saya kok kurang sependapat. Bagi beberapa orang, mantan tetap lebih kejam. Tanyakan saja kalau tidak percaya, pada teman anda yang begitu nggrantes dilukai oleh mantannya. Kelak ketika sudah ada obatnya, corona takkan lagi terkenang dengan kejam. Minum obat, sembuh. Diberi vaksin antivirus, kebal. Lha kalau mantan? Mau minum obat apa? Obat nyamuk, obat tikus, obat wereng?

Bagi anda yang susah move on dari mantan, tempatkan ancaman mantan ini selevel dengan corona. Tidak bisa diajak bercanda, tidak bisa diajak balikan, juga tidak bisa diajak sekadar seru-seruan di WA. Bayangkan kalau sekadar didekati saja anda sudah akan sesak nafas dan muntah-muntah, atau bahkan langsung panuan. Dengan begitu sekadar membayangkannya anda sudah akan bergidik, dan saya yakin anda juga tak akan nekat lagi untuk berani WA-nan. Daripada sesak nafas terus kejang-kejang?

Itu adalah beberapa contoh tulisan yang bisa saya baca dengan jelas, karena memang ditulis dengan cukup jelas dan lugas. Selain tentunya tulisan besar yang hanya terdiri dari satu kata, dibuat dengan cat semprot berwarna hitam perpaduan dengan merah pada media berlatar belakang putih,

“LOCKDOWN”

Beberapa ditulis seadanya, asal pesan tersampaikan perihal lockdown di kampung mereka. Beberapa lagi ada yang sangat bersemangat, sehingga tulisan atau informasi lockdown di kampung mereka dicetak secara digital dengan ukuran besar.

Menarik.

Bagi saya menarik, karena pintu masuk utama pada kampung dijaga oleh beberapa orang kalau tidak boleh saya katakan banyak orang, tanpa memakai masker dan hanya bermodal semprotan. Semprotan itu saya kira berisi disinfektan, sesuatu yang banyak diyakini bisa menumpas peredaran virus corona.

Pada beberapa tempat yang lain, saya mendapati bapak-bapak dan pemuda setempat sedang melakukan kerja bakti pembersihan lingkungan. Saya juga menduga, bahwa itu dilakukan untuk mencegah peredaran virus corona. Kerja bakti pembersihan lingkungan itu pada beberapa tempat saya lihat juga disertai dengan penyemprotan disinfektan. Beberapa orang terlihat menggendong tabung dibelakang mereka.

Suasananya terlihat ceria, seperti bukan sedang dalam suasana pandemi. Tak ada suasana mencekam menurut saya, selain tulisan-tulisan itu sebenarnya.

Beberapa orang bahkan saya lihat sedang melakukan penyemprotan sembari merokok, dan tanpa menggunakan masker. Iyalah, mana bisa merokok sembari maskeran. Haa…

Sampai di Banteran, saya juga melihat tulisan lockdown di pintu masuk utama. Di belakang gapura utama yang dulu setiap menjelang tujuh belas Agustus saya juga ikut mengecatnya. Tulisan itu diikat pada sebentuk deklit atau tenda yang biasa digunakan ketika kondangan atau lelayu.

Saya kira memang menarik, dan dengan ini saya berasumsi secara sepihak bahwa corona sebentar lagi akan pergi dari bumi pertiwi, percayalah.

Keyakinan itu setidaknya saya simpulkan dari dua sebab. Pertama, bahwa masyarakat siap ‘menghadapi’ corona. Kedua, perihal kodrat kemakhlukan.

Saya jelaskan pendapat saya perihal keyakinan itu, dari yang kedua terlebih dahulu. Perihal kodrat kemakhlukan.

Begini menurut saya. Ini menurut saya lho ya, tidak merujuk pada pendapat dan teori manapun dan siapapun. Apalagi merujuk teori binomo yang bisa membuat manusia kaya raya semuanya secara instan itu.

Setiap makhluk hakikatnya tidak ingin direndahkan, dihina, apalagi disepelekan. Meski terkadang perasaan merasa dihina atau disepelekan itu hanya bersifat satu arah. Tak ada yang menghina, merendahkan atau menyepelekan, tetapi makhluk tersebut merasa dihina. Mungkin secara eksplisit apa yang terjadi dilingkungannya mengindikasikan hal itu. Maka ia menyimpulkan sedang dihina atau disepelekan, juga direndahkan.

Misalnya saja Azazil, yang merasa direndahkan karena disuruh untuk bersujud kepada Adam. Azazil merasa bahwa ia lebih hebat dari Adam, maka perintah untuk bersujud adalah suatu penghinaan menurutnya, dan tentu saja ia merasa direndahkan.

Begitulah, dan akhirnya Azazil pergi dari surga.

Begitu juga mungkin dengan anda, ketika merasa direndahkan, diremehkan, atau juga dihina. Jika ada pilihan melawan, mungkin anda akan melawan. Tetapi jika melawan menurut perhitungan anda hanya akan sia-sia dan menimbulkan banyak kerugian bagi diri anda sendiri, saya yakin anda juga akan memilih pergi.

Nanti, begitu juga dengan corona. Ia akan pergi dari Indonesia, dan terutama Sleman, karena sebab itu. Ia merasa direndahkan. Mengapa? Jawabannya ada pada penjelasan perihal penyebab keyakinan saya yang pertama.

Masyarakat siap menghadapi corona. Setidaknya saya lihat dengan kesigapan masyarakat membersihkan lingkungan. Lockdown, kerja bakti, jaga pintu masuk, semprot disinfektan.

Anggap saja corona adalah semacam wabah desentri dan demam berdarah yang bisa ditanggulangi dengan kerja bakti pembersihan lingkungan. Pun anggap saja sudah aman tanpa masker jika sudah menggendong tabung semprotan berisi disinfektan. Anggap saja yakin, dan memang yakin.

Dahulu kala, bambu runcing kita bisa mengusir Belanda yang menggunakan senapan, tank, sten gua, brent gun, mitraliur, juga meriam. Kini, dengan keyakinan yang sama, siapa yang tahu?

Bagaimana hubungan dari dua sebab yang saya sampaikan itu?

Kira-kira begini :

Seperti yang banyak dikatakan oleh para ahli, bahwa penanggulangan corona adalah dengan physical distancing, sering cuci tangan, menghindari kerumunan, menghindari mengunjungi daerah yang sudah banyak penderitanya, menjaga kondisi kesehatan tubuh, dan corona belum ada obatnya.

Dan pada beberapa kampung yang kebetulan saya melewatinya itu, justru banyak kerumunan yang terjadi. Tidak ada minimal jaga jarak, dan pertukaran nafas di udara tanpa saringan masker.

Sebagai makhluk yang ditakuti dan begitu ‘diistimewakan’ di banyak negara, corona tidak mendapatkan keistimewaan itu disini. Hanya ada satu yang istimewa, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Eh dua dink, bersama Daerah Istimewa Aceh. Tidak boleh ada yang ketiga, apalagi corona.

Corona jelas akan sangat terhina dengan penerimaan masyarakat Indonesia. Disuruh physical distancing, malah minum teh bersama sambil ngobrol ngalor ngidul di pos penjagaan lockdown.

Rumusan yang banyak dipakai pada banyak negara untuk mencegah penyebaran corona, di Indonesia kurang begitu berlaku. Karena dengan bambu runcing saja kita dulu bisa mengusir Belanda. Apalagi ini cuma corona. Sing penting yaquuen boskuh.

Bambu runcing adalah simbol dari semangat dan keyakinan. Manifestasi nyata dari kesederhanaan yang berujung pada kesuksesan. Dan itu sudah mendarah daging menjadi bagian dari ingatan sejarah, dan juga semangat zaman dari waktu ke waktu.

Corona jelas akan merasa sangat direndahkan harga dirinya. Ingat, ia juga tetaplah makhluk hidup, dalam skala ukuran kecil dan disebut virus. Dan seperti yang saya bilang, semua makhluk hidup punya kecenderungan untuk sakit hati ketika dihina, diremehkan, atau disepelekan.

Apakah corona tidak bisa melawan? Ya jelas bisa.
Tetapi pilihan untuk melawan tentu mustahil diambil oleh corona. Masyarakat Indonesia memasang strategi perang yang jitu. Yaitu, kamuflase dan menipu. Dengan kerja bakti dan nyemprot disinfektan tanpa masker sembari merokok itu, jelas sudah sebuah show off atas ketahanan fisik masyarakat Indonesia.

Dengan bermodal dua jumbo berisi kopi dan teh panas beserta nyamikan untuk menemani berjaga sembari ngobrol, itu juga sudah suatu metode untuk menunjukkan kekuatan kepada lawan. Dalam hal ini, corona. Bagaimana corona tidak bergidik? Di negara manapun, tidak ada sikap penerimaan dan perlawanan semacam ini.

Hanya disini, di Indonesia, di bumi pertiwi tercinta kita, corona akan pergi secepatnya dengan penuh malu dan menundukkan kepala. Eh, corona punya kepala tidak? Saya kira punya, banyak malah, lha wong pakai mahkota.

Jelas sebagai juga makhluk Tuhan, sebagaimana Azazil, corona akan merasa malu dan tak sudi melawan manusia Indonesia. Saya kira, ia akan merasa sia-sia saja melawan kehebatan dan kebesaran bangsa kita. Maka ia akan pergi secepatnya.

Sepulang dari Banteran setelah mengambil sumber vitamin C gratisan, menjelang belok kiri menuju perumahan tempat saya tinggal dari jalan Piyungan, sebuah truk menyalip melaju. Tulisan pada bak belakangnya :

“Hal Yang Hebat Tak Pernah Datang Dari Zona Nyaman.”

Artinya? Saya juga kurang paham, mau bertanya pada sopirnya, ia sudah melaju jauh dan kencang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *