PLEDOI DARI PARA TUKANG TANYA, KAPAN PUNYA ANAK?

Penulis : Sekjen ASU TAKIR (Asosiasi Suka Usul Tanpa Mikir)
*******
Sebagai pembuka, bolehlah saya sampaikan usulan. Bagi mereka yang sudah lama menikah, tetapi belum juga mempunyai anak, silahkan pindah saja ke Planet Jupiter.

Tulisan ini saya buat mewakili ASU TAKIR, sekaligus titip untuk dimuat di halaman blog wordpress ini, berdasar dari sebuah kisah kira-kira dua tahun yang lalu.

Saat itu salah satu anggota kami, berdialog singkat dengan seorang laki-laki yang sudah cukup lama menikah, tetapi belum mempunyai anak.
Anggota kami dengan baik-baik menyapa :
“Nang (bukan nama sebenarnya).”

“Ya Mbah?”
Seseorang yang oleh anggota kami dipanggil dengan sebutan “Nang” (bukan nama sebenarnya) itu menjawab.

“Mobilmu itu dijual saja!”
Anggota kami dengan sangat sopan menyarankan sesuatu.

“Lha kenapa Mbah?”

“Nggak bisa punya anak saja kok pakai mobil segala.”
Anggota kami memberi jawaban sekaligus alasan yang logis.

Masuk akal, mudah dipahami, serta tidak menimbulkan salah tafsir perihal apa yang disampaikan oleh salah satu anggota kami tersebut kepada seseorang yang dipanggil dengan sebutan “Nang” (bukan nama sebenarnya).

Tidak ada alasan bagi “Nang” untuk marah ataupun tersinggung, karena alasan anggota kami jelas sudah terukur, serta sesuai kenyataan. Apa kemudian guna sebuah mobil jika hanya dipakai sendirian atau berdua saja dengan istrinya?
Selain hanya menghasilkan emisi, mempertebal polusi, hal itu jelas cerminan sebuah sikap bodoh dan tidak berpikiran jauh kedepan.
Daripada untuk membeli sebuah mobil, alangkah lebih baik uang itu digunakan untuk program bayi tabung, bukan?

Selain analitis empiris, apa yang disampaikan anggota kami tersebut juga mengandung hikmah. Dialog singkat tersebut terjadi tepat pada hari ulang tahun si “Nang” (bukan nama sebenarnya) itu.
Jelas sudah hikmah yang terkandung didalamnya.
Bahwa tepat pada hari kelahirannya, bertambah usianya, ia harus benar-benar memikirkan keberadaan seorang anak yang tak kunjung ada didalam kehidupannya.

Apa guna berumur panjang jika tak memiliki keturunan, bukan?

Sebagian besar dari mereka yang telah lama menikah tetapi tak kunjung mempunyai anak, beralasan bahwa perihal anak adalah urusan Tuhan.
Bah, tahu apa mereka tentang Tuhan?

Tuhan Maha Memberi. Maka barang siapa meminta, maka Tuhan akan mengabulkan! Camkan.

Tidak bisa alasan seperti itu dipergunakan. Bahkan Kanjeng Nabi menyarankan umatnya untuk sebanyak mungkin mempunyai keturunan. Lha kok ini mereka malah berlindung di balik Tuhan atas apa yang mereka tak mampu mencapainya.

Perihal anak, harus diusahakan. Telentang-kawin-bunting.
Sederhana, tetapi mereka tak mampu mengaplikasikan hal sesederhana itu, dan malah berlindung di balik Kemurahan Tuhan. Pengecut.

Beberapa dari mereka juga berdalih sudah berusaha semaksimal mungkin.
Ada yang bilang sudah mengikuti program kehamilan di klinik ini, berkonsultasi pada dokter anu, pijat kesana, mengkonsumsi itu, tetapi hasilnya masih nihil.
Ada yang salah dengan mereka.
Mereka kurang keras didalam berusaha, kurang khusyuk memanjatkan doa.

Tuhan Maha Memberi.

Maksimal diukur dengan variabel apa usaha mereka itu, sehingga mereka mengklaim sudah berusaha, berupaya, berdoa secara optimal?
Sedang kami, berdehem saja istri-istri kami bisa hamil.

Kita hidup dengan menghirup udara yang sama, makan makanan yang hampir sama, mempunyai kelengkapan anggota tubuh yang identik, lalu mereka beralasan seperti itu ketika tak kunjung mempunyai anak. Pemikiran yang sesat.
Nyatanya penduduk Indonesia membengkak dengan pertumbuhan yang nyaris tak bisa dikendalikan, sementara segelintir orang itu meratap tak segera mempunyai anak.
Maka kiranya tepat apa yang saya sampaikan pada paragraf pembuka. Pindah saja ke planet Jupiter.

Kami, dari ASU TAKIR, tak ada maksud lain, selain bahwa kami ini kasihan dan bersimpati atas apa yang terjadi pada mereka.

Siapa yang akan mendoakan mereka kelak jika sudah meninggal?
Sedang salah satu doa paling mustajab untuk orang yang sudah meninggal berasal dari anak-anak (keturunan) yang sholeh. Mereka?
Kami hanya tak ingin mereka kemudian mengendap menjadi kerak neraka ketika tak ada satupun anak yang mendoakannya.

Siapa yang akan mengurus mereka ketika sudah renta?
Membuat rencana untuk tinggal di panti jompo tentu bukan sebuah pilihan yang bijaksana. Akan lebih indah jika hari tua dihabiskan dengan tertawa bersama anak cucu. Begitu, kan?

Celakanya, mereka ini sangat hobi berdalih serta mencari alasan pembenaran atas ketidakmampuan mereka sendiri. Mereka ini bebal.
Mereka berkali-kali bahkan mengkritik kami sebagai sekumpulan orang yang tidak mempunyai perasaan. Menganggap kami tidak obyektif karena tidak berada dalam posisi serta mengalami kondisi seperti apa yang mereka rasakan.
Tahu apa mereka?
Sedang kami belum pernah ke Paris saja, kami tahu bentuk dan rupa menara Eiffel.
Tahu dan mengerti tak harus juga mengalami bukan?
Mereka ini benar-benar bebal.

Pasrah hanya milik orang-orang yang lemah.

Kalau perlu, mereka harusnya melakukan segala cara untuk mempunyai anak keturunan. Dengan biaya berapapun, resiko bagaimanapun.
Kalau perlu tinggalkan pekerjaan untuk mengejar mimpi mempunyai keturunan. Rejeki serahkan saja kepada Tuhan, yang penting mempunyai keturunan.

Tak ada gunanya mempunyai uang, menimbun harta, tanpa mempunyai anak keturunan. Segala yang didunia ini adalah fana, sedangkan anak adalah invetasi dengan tolok ukur akhirat. Tak ada harta yang paling berharga selain anak yang sholeh.
Apakah mereka tidak pernah mengaji?

Menjelang akhir kata, sebaiknya mereka segera mengambil langkah-langkah nyata untuk mempunyai anak keturunan. Telentang-kawin-bunting, sederhana.

Tulisan ini bukan untuk menambah beban moral mereka, bukan melemahkan mental mereka, tetapi karena kami sayang dan peduli. Sampai kapanpun kami akan terus mengkampanyekan hal-hal seperti ini. Agar mereka tahu, mengerti, serta memahami bahwa usaha takkan pernah mengkhianati hasilnya. Bahwa Tuhan Maha Memberi. Bahwa jika sampai kemudian mereka tetap tidak mempunyai anak keturunan, mereka saja yang tidak paham cara-caranya. Bukan karena kehendak Tuhan, karena Tuhan Maha Memberi, mereka saja yang memang tidak bisa.

Demikian, salam ASU.

TTD
Sekjen ASU TAKIR

Gambar : equator.co.id

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *