POHON NATAL

Ilustrasi pohon natal, eh pohon cemara. (Gambar : Blibli.com)

Sore cukup syahdu, dengan mendung menggantung, tapi tanpa rintik yang mengguyur turun. Lasiyem menunggu Arjo di teras rumah, sembari ngemil gorengan sisa semalam.

Rencananya, Arjo keluar untuk membeli kado. Kado yang telat untuk diberikan pada sahabat mereka. Lebih baik terlambat, daripada terlambat banget, pikir mereka.

Tak berapa lama, Arjo terlihat pulang, Lasiyem tersenyum lebar.

“Mas.”

“Apa dek?” Raut muka Arjo terlihat kusut, jauh lebih kusut daripada baju yang dipakainya semenjak kemarin sore.

“Kok belum bawa pulang pohonnya?”

“Pohon apa?”

“Lhaiya pohon natal to, mosok pohon beringin yang di alun-alun kidul.”

“Mending beli pohon beringin, jelas!”

“Maksudnya?”

“Rakyat negara ini ngakunya aja beragama, nyatanya nol besar!”

“Maksudnya apa?”

“Sudah tahu bohong itu dosa, menipu adalah perbuatan hina dan sia-sia. Kok ya masih banyak yang berbuat begitu.”

“Mas ki ngomong apa to. Jelasin dulu. Cuma ditanya pohon natal kok sampai rakyat beragama segala.”

“Enggak di Idul Fitri, enggak di Natal. Hari raya kok pada dipakai main-main.”

“MAS! Besok ga ada uang rokok.”

“Itu lho dek, penjual pohon natal.” Arjo beringsut meredakan nada tingginya, demi mendengar jatah uang rokok akan disunat.

“Kenapa penjualnya?”

“Penipu!”

“Penipu gimana?”

“Cukup rasanya ditipu kaleng biskuit isi krupuk pas Idul Fitri. Ini kok Natal juga penipuan blak-blakan.”

“Nipu gimana maaaasssss?”

“Aku kan bilang mo beli pohon natal.”

“Terus?”

“Ditanya yang asli atau sintetis.”

“Kamu jawab apa mas?”

“Ya tak jawab yang asli to. Mosok kita kok mau yang sintetis. Lha wong kita nyuguh kupat pas Idul Fitri juga asli, bukan sintetis. Ini mau ngasih kado pohon natal mosok sintetis. Kan ga mashookk.”

“Terus?”

“Dikasih pohon cemara. Disuruh pilih, mau yang potongan pucuk, atau pohon cemara yang masih kecil.”

“Mas pilih yang mana?”

“Lhaiya ga pilih kok, gimana to kamu ki dek.”

“Kok ga milih?”

“Aku ki mintanya pohon natal, malah dikasih pohon cemara, dikiranya kalau aku jenggotan kayak gini tu ngertinya sholawatan, trus ga ngerti pohon natal. Lagian kalau aku bawa pulang itu pohon cemara, kamu juga bakal nyalahin.”

“Mas.”

“Apalagi? Aku masih mangkel ini. Ga usah mas mes mas mes.” Arjo sewot.

“Sebenernya, aku heran kamu bisa lulus SD.” Lasiyem beranjak pergi, sembari menghabiskan gorengan sepiring, eman-eman.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)