Pohon Rambutan Ingin Berbuah Durian

Anda pernah mendengarnya? Cerita tentang pohon buah rambutan yang ingin berbuah durian?

Belum?

Baiklah, saya akan sekilas menceritakannya untuk anda.

Simak baik-baik, siapkan teh, kopi, sirup, air putih, dan atau kudapan secukupnya. Sebab, cerita ini akan sedikit melelahkan, dan tentu membuat lapar.

Langsung saja….

Pohon rambutan

Pada sebidang tanah yang subur, tepat diantara perbatasan sawah dan perkampungan, tumbuh dan berdirilah sebatang pohon rambutan. Pohon rambutan yang gagah, batang yang kuat, dan cabang serta ranting yang membuat teduh sekitarnya. Daunnya hijau, nampak sehat sentausa.

Pada tiap musimnya, anak-anak kecil akan berebut memeluk pohon rambutan itu, memanjatnya, dan berebut menikmati buah yang kelezatannya bahkan tersiar sampai kampung-kampung sebelah. Itu adalah satu-satunya pohon rambutan yang buahnya menarik minat orang-orang. Pohon rambutan yang buahnya manis, daging buahnya sedikit kenyal, dan tidak akan membuat batuk meski dikonsumsi banyak-banyak.

Itu adalah pohon rambutan yang padanya tersemat nilai surgawi. Yang padanya dititipkan keistimewaan oleh Sang Pencipta. Buah dari pohon rambutan itu selalu menyungingkan senyum siapapun yang memakannya. Tak hanya anak-anak, bahkan semua orang yang pernah beruntung mencicipnya.

Entah sudah berapa puluh kali cabang pohonnya dikelupas, untuk kemudian dicangkok. Banyak orang ingin ‘memiliki’ pohon rambutan itu di pekarangan rumahnya sendiri. Pemilik pohon rambutan itu mempersilahkan siapapun yang ingin mencangkoknya.

Namun, buah yang dihasilkan tak pernah sama dengan rasa dari buah pohon rambutan di perbatasan sawah serta perkampungan itu. Tak pernah bisa serupa, entah manisnya, atau legit daging buahnya.

Maka, pohon rambutan itu tak hanya terkenal, tetapi semakin terkenal dari waktu ke waktu. Sebagai pohon yang istimewa, pohon yang tak ada duanya.

Pemiliknya juga istimewa, ia tak pernah mau menjual buah dari pohon rambutan itu. Ia lebih senang membaginya, pada orang-orang yang menginginkannya, pada yang ingin mencicipnya. Padahal, dalam tiap musim, tawaran yang diajukan oleh para peminat beli, selalu naik. Konon, pernah seorang manager supermarket di kota kecil itu, menawarkan uang 20 juta rupiah untuk semua buah di atas pohon. Dilihat kasat mata, tak akan ada tiga karung untuk seluruh buah di atas pohon itu. Untuk buah rambutan dari pohon lain, satu karung dihargai 300 ribu rupiah pun, sudah kelewat bagus.

Itu karena dari waktu ke waktu, kemahsyuran buah dari pohon rambutan itu, semakin menerobos batas-batas kota dan desa. Membuat penasaran siapapun.
Tetapi pemiliknya juga beranggapan, bahwa tak selayaknya hal seistimewa itu, hanya dinikmati oleh segelintir orang. Maka, ia lebih memilih membaginya secara gratis, memakannya di tempat setelah memetiknya sendiri, sembari mengobro meski tak saling mengenal sebelumnya.

Pemilik pohon rambutan itu mendapat banyak teman dan kenalan baru, karena pohon rambutan istimewanya. Ia sangat menyayangi pohon rambutan itu, dan selalu merawatnya dengan memberikan pupuk alami terbaik secara berkala.

Pohon Durian

Tetapi, mungkin ada hal-hal yang tak dapat dimengerti oleh orang-orang yang karib dengan pohon rambutan itu, pun pemiliknya. Tak ada yang tahu kerisauan, serta kegundahan dari pohon rambutan terbaik dan istimewa itu

Tentu saja, tak ada manusia di kota itu yang bisa mengerti bahasa serta tutur dari sebuah pohon rambutan.

Dimulai dari sekira enam tahun yang lalu. Ketika pemilik tanah yang juga pemilik pohon rambutan itu menanam lima belas pohon durian di areal sekitar pohon rambutan. Tanahnya memang luas, dan juga subur.

Enam tahun yang lalu bukanlah masalahnya, itu hanya awal mula.

Masalah sebenarnya, adalah ketika pohon durian itu mulai berbuah, setelah tahun keempat penanamannya di pekarangan itu. Berarti, sudah dua tahun, sudah dua kali pohon durian itu berbuah.

Seperti halnya ketika orang-orang memuji buah dari pohon rambutan legendaris itu, orang-orang juga memuji buah dari kelimabelas pohon durian yang ada.

Dagingnya tebal, dengan rasa manis yang tidak membuat eneg, serta biji yang kecil. Semua orang puas dengan rasa buah dari pohon durian ‘kemarin sore’ itu.

Jika ada yang kemudian sedikit berbeda, orang-orang tidak mendapat buah durian itu secara gratis seperti halnya jika mereka mendapatkan buah rambutan. Pemilik pohon memberikan harga sekian ribu rupiah untuk satu buah durian. Tergantung ukuran.

Meski harus membayar, toh nyatanya orang-orang tetap berbondong-bondong membelinya. Tahun kedua, tak butuh waktu lama dari buah durian itu untuk berganti dengan lembar-lembar rupiah bagi pemiliknya. Tahun pertama sudah lebih dari cukup sebagai sekadar promosi mulut ke mulut. Tak butuh waktu lama untuk orang-orang mencari dimana buah durian yang enak itu berada. Tentu saja salah satu sebabnya, karena keberadaan pohon rambutan legendaris itu.

“Satu tempat dengan pohon rambutan yang buahnya luar biasa enak itu.” kata orang-orang.

Jadilah kemudian tak hanya pohon rambutan yang secara mutlak dan tunggal mendapat nama tenar. Kini, ada pohon durian.

Merasa rendah diri

Tak ada orang yang tahu, paham, dan apalagi mengerti, bahwa si pohon rambutan kemudian merasa rendah diri.

Bukan karena merasa tidak dihargai, tetapi ia tak merasa berkontribusi, bagi pemilik yang sudah merawatnya. Bagi tuan, yang sudah menjaganya.

Bahkan ketika pohon-pohon durian yang cenderung masih muda sudah membantu mencari uang, si pohon rambutan yang cukup dewasa tak bisa membantu. Ia merasa rendah diri, dan merasa tak mempunyai harga diri.

Apa yang tidak dipahami oleh orang-orang, bahwa pohon rambutan juga mempunyai jiwa, dan kemudian merasa tertekan.

Lambat laun, ia mempunyai pemikiran, bahwa juga mungkin akan menjadi berguna, anda berbuah durian. Maka ia mulai rajin melihat ke arah pohon-pohon durian berada, dan mencoba melakukan apa yang dilakukan mereka. Semata, agar kelak ia juga berbuah durian, dan pemiliknya memberikan harga atas tiap buah yang keluar darinya.

Ia juga ingin membantu, dan juga ingin berguna.

Pohon rambutan meniru tiap gerak pohon durian, cara mereka bernafas, dan cara makan serta minum. Semata, agar nanti buah durian yang akan dilahirkannya.

Satu musim penuh pohon rambutan meniru segala gerak dan olah tubuh pohon durian. Ia sangat berharap untuk dapat menjadi berharga, sama seperti pohon durian.
Ia sangat ingin, agar buah-buahnya dihargai sedemikian rupa. Bukan untuk dirinya sendiri, lebih agar ia bisa membantu tuannya.

Ia merasa sangat tak berguna, dan merasa rendah diri dihadapan pohon durian. Sedang mereka masih muda, tetapi selangkah didepan membantu majikan mereka. Setidaknya, itu yang dirasakan serta dipikirkan oleh pohon rambutan.

Tak sesuai

Tapi segala usaha dan daya upaya si pohon rambutan ternyata tak berhasil. Masih saja ia berbuah rambutan, dan bukan durian. Ia bertanya-tanya, sedang apa yang salah pada dirinya. Ia sudah meniru segala gerak pohon durian, cara makan, minum serta irama nafas dan tiap-tiap pengguguran daun. Namun tetap saja, ia berbuah rambutan.

Pohon rambutan tercenung, dan mulai banyak senyum yang tanggal dari dirinya. Hanya ada gelayut kesedihan yang ada. Daun-daunnya mulai banyak menguning, dan rantingnya banyak mengering. Ia terlihat sakit, namun tak merasa sakit.

Tanpa ia sadari, orang-orang mulai membicarakan rasa buahnya.

“Tak seperti biasanya.” kata orang-orang.

Juga yang tak disadarinya, ia semakin kurus, hanya karena selalu terpikir kenapa tak kunjung buah durian yang keluar darinya. Padahal, ia sudah berusaha keras. Padahal, niatnya baik semata. Padahal, ia tak ingin merugikan yang lain. Padahal, ia juga hanya ingin menjadi berguna.

Tak kunjung ia menyadari, bahwa keinginannya berbuah durian, telah mengorbankan buah dari dirinya sendiri. Akibat tekanan yang ia rasakan, tak lagi menghijau dauannya, tak lagi liat rantingnya, tak lagi kuat dahannya, dan oleh karena itu tak lagi istimewa rasa buahnya.

Memaksa

Sementara itu, nun jauh dari tempat pohon rambutan berada, beberapa orang nampak berkerumun. Mereka sedang terlibat suatu pembicaraan. Tentang masa lalu, pun tentang masa depan. Mereka tak mengenal pohon rambutan yang teramat istimewa itu, pun apalagi mengetahui kegundahannya. Mereka terpisah oleh laut, berada dalam pulau yang berbeda.

Mereka sedang membicarakan anak-anak mereka, sembari mengingat masa lalu mereka.

“Anakku kursus bahasa Inggris sekaligus bahasa Arab.” kata salah seorang diantara mereka.

“Anakku kursus matematika.” sahut yang lain.

“Padahal dulu kalian itu goblognya minta ampun perihal bahasa dan matematika.” sahut yang lain lagi.

“Namanya juga usaha perbaikan.” serempak dua orang pertama menyahut memberikan pembelaannya.

“Namun pernahkan kalian berpikir, kalau pohon rambutan takkan pernah berbuah durian. Begitu juga sebaliknya, takkan pernah ada pohon durian berbuah rambutan?” si ketiga melanjutkan.

“Maksudnya?” dua yang pertama kembali serempak bertanya.

“Kalau kalian ini goblog perihal bahasa dan juga matematika, harusnya kalian juga paham bahwa anak-anak kalian takkan jauh-jauh dari kalian. Yang bisa kalian lakukan adalah mengembangkan keunggulan mereka, potensi mereka, alih-alih memaksakan sesuatu yang sulit mereka kuasai.”

“Namanya kan juga ingin perbaikan.”

“Kalau nanti hasilnya malah kerusakan? Siapa yang menyesal?”

“Eeeemmmmm.”

“Selayaknya pohon rambutan, rawatlah agar ia bisa berbuah rambutan yang baik, yang istimewa. Jangan merawat pohon rambutan sembari berharap bahwa ia akan berbuah kelapa, atau bahkan juga durian.”

“Kamu menasehati kami….?”

“Tentu saja tidak. Apa kepentinganku menasehati kalian, sedangkan anak pun aku belum punya. Aku hanya melihat pada pepohonan, dan bagaimana persamaan mereka dengan manusia.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.