Politik, Uang, Kekuasaan

Meski tampang dan isi batok kepala saya pas-pasan seperti ini, tetapi paling tidak saya pernah terjun langsung ke dunia politik.

Serius, itu terjadi pada tahun 2004. Pada pemilu kedua di era reformasi. Dengan banyak parpol, dan banyak pasangan calon presiden-calon wakil presiden. Ketika rakyat Indonesia untuk pertama kalinya menikmati kebebasan untuk memilih siapa presiden mereka.

Percaya tidak percaya, saya mendukung SBY dalam pemilu saat itu, dan selang beberapa bulan setelahnya, saya diterima menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Gimana? Kurang keren gimana? Sangar po rak?

Kenapa saya ceritakan ini?
Karena itu adalah saat pertama dan terakhir kalinya saya bisa dan boleh secara hukum untuk ikut berkecimpung secara langsung di dunia politik. Setelahnya, pada pemilu-pemilu pasca 2004, hukum dan aturan tak lagi membolehkan saya untuk bebas. Banyak batas yang harus saya taati setelahnya, berkait dengan status PNS (ASN).

Maka pemilu tahun 2004 adalah pemilu yang paling berkesan bagi saya, secara personal, dan bahkan secara komunal dalam lingkup pertemanan saya.

Diantara saya dan kawan-kawan lain yang waktu itu secara langsung mendukung SBY, hanya saya yang kemudian diangkat menjadi CPNS oleh beliau. Terima kasih Bapak SBY.

Bagaimana kemudian saya bisa diangkat CPNS oleh SBY? Ikuti cerita dibawah ini.

Pada masa kampanye pemilu pada tahun 2004 itu, saya bersikap dan juga bertindak secara pragmatis serta oportunis. Saya ikuti semua kampanye yang memberikan uang bensin kepada para pesertanya. Saya membawa satu tas besar berisi kaos-kaos parpol. Saya cermati jadwal kampanye terbuka parpol-parpol tersebut. Saya hapalkan semua pos atau ‘markas’ dari masing-masing parpol di seputar daerah tempat saya tinggal.

Ketika ada jadwal kampanye terbuka dari mereka, saya datangi pos atau markas mereka tersebut. Jika terlihat kerumunan yang menandakan bahwa mereka akan memulai konvoi, saya akan mengambil kaos parpol tersebut dari tas, memakainya, dan langsung ikut bergabung.

Setelah ikut berada dalam kerumunan, saya akan dekati orang-orang yang terlihat tidak militan, dan kemudian melemparkan pertanyaan basa-basi :

“Iki motore disurung po tumpaki?” (Ini motornya didorong atau dinaiki?)

Kalau mereka menjawab ‘disurung’, saya akan segera mencari cara untuk pergi, entah dengan alasan membeli rokok atau apapun itu. Kalau mereka menjawab ‘tumpaki’, saya akan mengejar dengan pertanyaan lain :

“Koordinatornya mana?”

Disurung tentu saja adalah jawaban untuk kondisi bahwa kampanye terbuka hari itu tidak membagi-bagi uang bensin. Sedang jawaban tumpaki adalah kode bahwa ada uang bensin. Maka saya akan cari koordinatornya dan minta uang bensin itu.

Setelah dapat uang bensin, saya juga akan segera pergi dengan alasan untuk membeli bensin terlebih dahulu, bwahahaha…

Begitu terus, dari satu pos ke pos yang lain, dari satu parpol menuju parpol yang lain.

Semenjak SMA, politik praktis tidak memberikan kemilau yang menarik bagi saya. Saya hanya tertarik dengan uangnya saat itu. Maklum saja, uang saku saya saat itu tidak cukup untuk bisa membeli rokok eceran sekaligus menyewa Play Station (PS). Padahal, menyewa dan bermain PS adalah satu-satunya sarana hiburan saya untuk tetap bisa sedikit waras ditengah perasaan iri ketika banyak teman-teman saya bisa bermain PS setiap hari, setiap saat, setiap waktu, tanpa khawatir kehabisan uang saku.

Maka jadilah masa kampanye terbuka pada pemilu 2004 adalah ladang uang bagi saya.

Jargon-jargon, pidato politik dari banyak tokoh politik saat itu, sama sekali tidak menarik bagi saya. Untung saja sewaktu SMA saya sudah menuntaskan novel Harry Potter sampai seri ketujuh, sehingga saya mempunyai cukup kewaspadaan bahwa bisa saja pidato politik itu mengandung mantra sihir tertentu. Bisa saja tokoh-tokoh politik itu adalah kaki tangan Lord Voldemort, dan tak jelas mana yang berada di barisan Albus Dumbledore sebagai pembela kebenaran sejati.

Maka pidato-pidato politik itu tak pernah benar-benar saya baca atau dengarkan, selain tak lebih sebagai sebuah cara untuk menambah referensi perihal istilah-istilah tertentu yang masih terdengar asing untuk digunakan secara umum. Seperti misalnya : didzalimi.

Waktu itu, begitu gencar penggunaan istilah didzalimi untuk membuat persepsi masyarakat menjadi mengarah untuk mendukung secara masif terhadap salah satu paslon capres. Dan pada akhirnya, narasi didzalimi itu mengantar paslon capres tersebut untuk duduk di singgasana kekuasaan selama dua periode. Luar biasa.

Luar biasa karena narasi (entah positif atau negatif) ternyata bisa mengarahkan persepsi secara masif dan komunal. Namun tentu saja membangun sebuah narasi membutuhkan banyak sumber daya, membutuhkan lebih dari sekadar niat, dan tentu saja dibutuhkan sebentuk blueprint yang akan diolah sedemikian rupa tergantung kepentingan.

Akhirnya setelah dua putaran pemilu, SBY terpilih menjadi presiden, dan saya diterima menjadi CPNS.

Lah, lantas dimana benang merah antara saya diangkat menjadi CPNS dan SBY terpilih sebagai presiden?

Ya tentu saja tidak ada.

Saya terjun langsung ke dunia politik?

Tidak juga, saya takut ketinggian, ngapain nekat terjun-terjunan.

Lha kok bilang kalau mendukung SBY?

Sini saya kasih tahu, SBY pada pemilu tahun 2004 tidak membutuhkan dukungan personal dari siapapun untuk memenangkan pertarungan. Sudah jauh hari sebelum pemilu narasi terbangun sedemikian rupa untuk mengarahkan kemenangan SBY. Bahkan pada tahun 2003, parpol berlambang banteng sudah memprediksi bahwa SBY adalah calon potensial sebagai capres pada tahun 2004. Dan prediksi mereka jitu adanya.

Lantas, apa hubungan judul, paragraf awal tulisan ini, dan maksud tulisan saya secara keseluruhan?

Tidak ada!

Bukankah tak mesti ada relevansi logis untuk setiap hal atau kejadian?

Anda sudah tertipu membaca tulisan ini.

Tulisan di atas hanya kata pengantar bagi saya untuk menuliskan sebuah kutipan singkat dari kawan saya di Gunungkidul :

“Agresif urung mesti menang, anteng urung mesti ra uman.” (Agresif belum tentu menang, diam/kalem belum tentu tidak kebagian)

Selamat tertipu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *