Preman Mabuk

Di Indonesia, konotasi kata preman tentu saja cukup buruk. Cukup buruk jika meruju pada sikapnya yang seringkali merugikan orang atau pihak lain. Mabuk, lantas membuat onar misalnya. Atau meminta uang secara paksa. Merampas barang milik orang lain. Merasa paling benar dan berkuasa, dengan berkumpul bersama teman-temannya dengan menyerobot fasilitas umum. Duduk-duduk dipinggir sampai ke tengah jalan mislanya.

Begitulah preman, semaunya sendiri kalau bertindak.

Padahal dari asal kata yang merupakan serapan dari Bahasa Inggris, preman atau Freeman juga ga jelek-jelek amat. Awalnya, mereka dikonotasikan sebagai orang-orang bebas, dan tidak mau terikat oleh aturan serta budaya masyarakat yang berlaku. Itu saja.
Tetapi mereka tidak merugikan orang lain.

Nah, di Indonesia kemudian, orang-orang yang ‘bebas’ semacam itu kemudian juga berpendapat dan mempunyai keyakinan bahwa ‘bebas’ juga untuk menyakiti dan merugikan orang lain.

Preman bersorban itu contohnya. Yang meminta sumbangan sembari marah-marah…oups…..

Saya kasih tautan link videonya, tentang preman-preman yang saya maksudkan :
https://www.youtube.com/watch?v=8y1t8Z_7gI4

Silahkan buka tautan video yang viral di berbagai media sosial itu, maka anda akan geli, geram, marah, sekaligus bercampur menjadi satu.

Mana bisa meminta sedekah atau sumbangan kok memaksa?

Keikhlasan itu bukan hanya milik pemberinya, tetapi juga harus digenggam erat PENERIMANYA!!!

Sedekah itu baik yang memberi atau menerima HARUS sama-sama ikhlas. Jangan hanya menuntut si pemberi untuk ikhlas, tetapi melupakan keikhlasan diri sendiri ketika menerimanya.

Lagipula, itu juga bertepatan dengan bulan puasa?

Muslim macam apa yang marah-marah di depan banyak orang, karena meminta sumbangan, dan pada pihak yang tak tepat juga untuk dimarahi?

Muslim macam apa coba?
Apa anda termasuk salah satunya?
Simpatisan mereka?

Tak tepat juga marah-marah demikian itu pada petugas kasir, apalagi menuntut penjelasan tentang arah keluarnya donasi. Tentu itu sudah kebijakan manajemen, bahkan kebijakan pada tingkat direksi, bukan pada tingkat kasir atau pegawai di lapangan.
Sebenarnya paham ga toh?

Atau jangan-jangan mereka mabuk? Mabuk agama?

Coba tolong bantu dijawab, apa hukumnya mabuk agama?
Sedang yang banyaknya memabukkan, sedikitnya diharamkan!
Hayoo…

Atau sebenarnya mereka tidak mabuk agama, tetapi mabuk oleh tafsir mereka sendiri tentang agama.
Mungkin juga kan?

Saya pun muslim, jelas. Dan saya bangga dengan status muslim yang melekat pada diri saya.

Tetapi entah kenapa, semenjak dahulu saya tak pernah suka dengan orang-orang kasar yang suka marah-marah semacam itu, dengan membawa identitas keislaman. Semacam yang ada di video itu tadi.
Muslim kok kayak gitu…muslim cap apah???

Islam tidak kasar, dan seharusnya tidak akan pernah kasar, sampai kapanpun. Kalau tegas, iya. Tetapi itu pun dengan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Memang ada video lanjutan setelah yang marah-marah itu. Video yang berisi klarifikasi serta permohonan maaf.
Disini :
https://www.youtube.com/watch?v=wpZf88dR-nI

Mereka meminta maaf, dan menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah kesalahpahaman, dan berharap semoga kejadian serupa takkan pernah terjadi lagi.

Permintaan maaf dari mereka memang patut diapresiasi.

Tetapi garis bawah tebal harus disematkan pada harapan mereka semoga pada hari-hari ke depan takkan terulang lagi.
Garis tebal karena tentu ada penyebab yang melatarbelakangi.

Penyebab itulah yang selama ini kurang disadari, untuk dievaluasi.
Penyebabnya adalah mabuk, sehingga lupa diri.

Kalau mabuknya masih diteruskan, tentu perbuatan yang marah-marah dan mengancam masih akan terulang.

Orang mabuk tidak sadar, lepas kontrol terhadap dirinya sendiri. Sekaligus mereka tidak merasa sedang mabuk, dan akan menyalahkan orang lain yang waras dan tidak mabuk.

Memang begitu ciri dan sifat orang mabuk.
Merugikan namun tak merasa merugikan, marah namun merasa tenang dan kalem. Bahkan terluka pun, orang mabuk tidak akan merasa.

Nanti ketika sadar, baru terasa sakitnya, baru terasa pusingnya, tetapi lupa dengan semua yang sudah diperbuatnya. Karena merasa sakit dan pusing ketika sadar, mereka akan meminta maaf, sekira apa yang diperbuatnya merugikan orang lain.

Namun kelak, kalau mabuk lagi, pasti akan mengulang lagi.

Seseorang yang sudah terlanjur menikmati ‘mabuk’, akan sulit untuk melepaskan kebiasaannya itu. Mereka menikmatinya, sekaligus merindukannya. Kegagahan serta keberanian ketika mabuk itu, apalagi jika berombongan. Orang mabuk pasti menjadi gagah dan pemberani, setidaknya menurut dirinya sendiri.

Perlu terapi yang berkesinambungan untuk menyembuhkannya, pun keinginan dari si penyuka mabuk sendiri, untuk sembuh dan melepaskan kebiasaan mabuknya.

Betul-betul sulit, dan tidak bisa terjadi dalam satu atau dua hari.

Semuanya butuh proses, dan juga keinginan kuat untuk sembuh.

Orang mabuk harus sembuh, dan jangan sampai mengulang mabuknya. Karena mereka cenderung merugikan orang lain, ketika mabuk di tempat umum.

Kalau masih mau mabuk, sebaiknya di dalam rumah saja, dan jangan keluar serta berinteraksi dengan orang lain.
Takutnya, nanti lepas kontrol dan marah-marah. Setelah di video, malu sendiri.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1,106 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.