Program Untuk Rakyat

Ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika suatu waktu saya diajak oleh kawan saya bertandang ke rumah salah seorang calon kepala daerah. Calon kepala daerah tersebut sudah terpilih secara de facto melalui perhitungan suara, tetapi belum dilantik oleh KPU setempat.

“Mari silahkan duduk, sambil ngopi ya? Atau teh?” Ramah sekali calon kepala daerah itu kepada kami.

“Boleh, kopi ya.” Saya menjawab sembari tersenyum lebar.

“Saya juga, kopi.” Kawan saya menyahut.

“Kopi hitam ya.” Saya menambahkan.

“Kopi ya hitam to Mas.” Si calon kepala daerah menjawab sembari tertawa.

“Ada juga kopi putih.” Kawan saya menyahut.

“Lhoh, kopi apa itu?” Si calon kepala daerah bertanya selepas ketika menghentikan tawa.

“Kopi yang selfie pakai kamera depan trus dikasih filter pemutih biar kelihatan uwuwuwu.” Kawan saya menjawab sembari tertawa ngakak. Saya dan si calon kepala daerah hanya berpandangan, sama sekali tidak tertawa.

“Garing ya?” Kawan saya berhenti tertawa.

Kami berdua tidak menjawab.

“Min, Amiinnn. Sini.” Si calon kepala daerah memanggil sebuah nama. Seseorang muncul. Rupanya Amin yang tadi dipanggil adalah asisten rumah tangga ditempat si calon kepala daerah.

“Nggih.” Amin datang sembari tangannya ngapurancang, sopan.

“Bikinin kopi tiga ya!” Si calon kepala daerah mengutarakan maksudnya.

“Nggih.” Amin menjawab sembari mengacungkan jempol, dan bersiap berbalik.

“Sebentar Mas Amin.” Saya menyahut dengan nada memanggil Amin.

“Nggih Mas, pripun?” Amin bertanya sopan.

“Nanti kopi punya saya, tolong pas dikasih air panas, jangan kasih gula dulu. Gulanya belakangan. Sehabis dikasih air, juga jangan langsung diaduk, biarkan dulu matang kopinya sampai sekira lima belas detik. Setelah itu diaduk pelan, kemudian baru tambahkan gula, diaduk lagi.” Saya menjawab, Amin terlihat berpikir, kemudian tersenyum lebar.

“Siap Mas, paham.” Amin terlihat semakin lebar senyumnya.

“Ribet banget to bro.” Kawan saya keheranan.

Haa yoben to. Oh iya Mas Amin, takaran gulanya nanti seperempat dari takaran kopinya ya. Kalau kopinya empat sendok, gulanya satu sendok aja. Begitu.” Saya menambahkan.

“Siiyaaaapppp.” Amin beranjak pergi sembari mengacungkan dua jempol tangannya.

Wooo dhemit, ga enak sama tuan rumah.” Kawan saya melirik ke arah empunya rumah.

“Ah, gapapa, santai saja.” Empunya rumah yang calon kepala daerah itu menjawab ramah sembari tertawa kecil.

“Nah kan gapapa,” saya menyahut “lagian juga mumpung kita masih jadi calon rakyat, nanti kalau udah resmi jadi rakyat, belum tentu boleh dan bisa minta ini itu.” Saya melanjutkan, santai.

Teman saya terlihat sedikit tegang, si calon kepala daerah tertawa keras.

Si calon kepala daerah itu bernama Rico. Tak usah saya sebutkan ia calon kepala daerah di kabupaten atau kota mana. Usianya hanya unda-undi dengan usia saya. Masih muda, dan dari gestur tubuhnya, ia terlihat cerdas. Saya baru pertama kali itu bersua muka dengannya. Kawan saya lah yang sudah cukup lama mengenal Rico, dan menjadi salah satu penyokong kesuksesan Rico memenangkan kontestasi politik tingkat diatas kecamatan itu dari belakang layar. Kawan saya itu memang termasuk orang yang cerdas, kreatif, serta lihai bermain propaganda. Hampir semua teks pidato Rico ketika kampanye terbuka, tulisan pada baliho dan spanduk yang tersebar sampai sudut pedesaan, dan juga serangan udara melalui media sosial adalah hasil olah pikir kawan saya itu. Kawan saya itu sangat pandai mempengaruhi orang lain.

Saya ingat pernah suatu kali sedang makan di warung bakmi bersamanya. Tiba-tiba ia meminta ijin untuk sebentar saja pergi ke meja lain. Ia menuju meja yang disana sudah ada sepasang laki-laki dan perempuan, dengan usia setengah baya. Mereka terlihat seperti pasangan dari strata sosial yang mapan, terlihat dari cara berpakaian dan penampilan, serta sebentuk kunci mobil mewah diatas meja. Kawan saya itu terlihat santai ketika mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saya kira, mereka sudah saling mengenal.

Lebih kurang lima belas menit kemudian kawan saya itu kembali ke meja tempat kami semula. Saya tanya apakah itu kenalannya, ia menjawab bukan.

“Ini tadi baru kenalan.” Jawabnya.

“Kelihatan akrab banget?” Saya heran.

“Ah lah biasa.” Kawan saya menjawab santai sembari menyulut sebatang rokok.

“Ngomongin apa?” Saya penasaran.

“Aku minta dia dukung kampanye Rico, kasih sumbangan gitu.” Jawabnya santai.

“Mereka ngasih?”

“Iya. Barusan transfer.” Kawan saya itu menyebut nominal yang cukup untuk menebus sebuah sepeda motor baru.

“Djangkrik. Mereka pengusaha?” Saya semakin penasaran.

“Iya.”

“Di daerah ini?”

“Bukan.”

“Kenal Rico?”

“Enggak. Mereka baru tahu disini ada pilkada, dan Rico sebagai salah satu calonnya ketika ku beritahu.”

“Atau mereka asli sini?” Saya mengejar.

“Bukan juga, mereka dari Lombok, sedang liburan disini.”

“Kok mereka langsung mau ngasih? Banyak pula. Dan juga darimana kamu tahu kalau mereka punya potensi untuk menyumbang kampanye?” Saya tak habis pikir.

“Walah Dul, kalau kamu tak kasih tahu, besok aku kerja apa? Dari dulu kamu itu rival potensial bagiku dalam segala hal.” Kawan saya itu lantas menutup mulutnya menahan tawa. Saya masih saja keheranan.

“Eemmm begini maksud saya mengundang panjenengan berdua kesini malam ini.” Suara Rico mengaburkan ingatan saya di warung bakmi.

“Sebelumnya mohon maaf kalau saya lancang, harusnya saya yang sowan ke rumah panjenengan berdua.” Rico melanjutkan.

“Woalah, gapapa Mas Rico. Eh, saya manggilnya Mas atau Pak?” Saya melemparkan pertanyaan retoris.

“Mas saja, biar lebih akrab.” Rico menjawab sembari tertawa kecil.

“Nek kowe nyelukke Mas Rico piye dab?” Saya menoleh ke arah kawan saya.

“Bos to yaaa.” Kawan saya menjawab sembari tertawa keras.

Rico terlihat tertawa, saya tertawa tetapi sambil mbatin “Bos, bayaran je. Haa aku gur nyelukke mas, genah ming salaman anyep iki mengko”.

Kopi akhirnya datang, Amin membawanya beserta dua piring berisi gorengan dan roti bakar.

“Ini kopi panjenengan, ini yang punya panjenengan.” Amin meletakkan cangkir pertama di depan saya duduk, kemudian cangkir kedua di depan kawan saya, kemudian terakhir meletakkan cangkir di depan Rico.

Dua piring berisi kudapan diletakkan ditengah meja kayu.

“Monggo.” Amin mempersilahkan sembari undur diri.

“Matur suwun Mas Amin.” Saya berterima kasih sebelum Amin membalikkan badan.

“Sami-sami Mas. Monggo.” Amin pergi.

“Mari silahkan, seadanya.” Rico mempersilahkan kami.

“Siap.” Saya sulut sebatang rokok, menyesapnya perlahan, baru kemudian meraih cangkir kopi dan menyeruputnya pelan.
Kopi tanpa rokok serasa seperti senja tanpa tawa. Syahdu, tapi tak cukup untuk mensyukuri betapa hidup sungguh menyenangkan.

Seperti malam ini, mimpi apa sampai calon kepala daerah mengundang saya untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Siapa pula saya ini.

“Weh, Mas Amin mantep le bikin kopi, sesuai dengan apa yang saya bayangkan dan pikirkan.” Saya memuji Amin.

“Untuk urusan dapur, Amin cen mrantasi Mas.” Rico menyahut sembari juga meraih gelas kopinya, menyeruput pelan, dan kemudian juga menyulut sebatang rokok.

“Jadi, apa yang bisa saya bantu Mas?” Saya menoleh ke arah Rico.

“Walah, santai dulu. Kopi dan rokoknya lebih penting. Sama ini silahkan sekadar gorengan dan roti bakarnya dinikmati. Maaf seadanya.” Rico menampik pertanyaan saya.

“Waa ya sudah, saya tak ambil roti dulu.” Saya mengambil sepotong roti bakar. Kawan saya terlihat asik dengan gorengan dan rokoknya, kopinya belum diseruput.

Lebih dari setengah batang rokok saya terbakar, Rico terdengar kembali berbicara.

“Begini Mas maksud saya, mohon maaf sebelumnya. Bukannya mau mendahului produk hukum karena saya belum dilantik, tetapi tidak salah juga kan kalau saya mempersiapkan diri lebih awal.”

“Maksud Mas Rico gimana?” Saya belum paham dengan maksud ucapan Rico.

“Begini, saya memang belum dilantik. Tetapi misalkan saya mulai sekarang mempersiapkan program dan langkah-langkah apa saja yang diperlukan nanti setelah dilantik, boleh kan?” Rico menjelaskan.

“Salah Mas.” Saya menjawab langsung. Rico terlihat heran, begitu juga kawan saya.

“Salah gimana Mas?” Gantian Rico yang nampaknya tidak paham dengan jawaban saya.

“Mempersiapkan program dan langkah-langkah setelah secara sah menduduki jabatan, harusnya sudah dilakukan jauh hari ketika Mas Rico baru mulai mendaftarkan diri ke KPUD untuk mengikuti kontestasi.” Saya menjawab gamblang, biar saja kalau mau marah. Masih sama-sama calon kok. Dia calon kepala daerah, saya calon rakyat.

“Nah kan bos benar apa kata saya. Kawan saya ini solusi jitu untuk hal beginian.” Kawan saya menyahut sembari tertawa.

“Mohon maaf Mas, kalau semenjak dari awal, kan saya atau tim kami kan fokus pada lolos tidaknya berkas administrasi?” Rico sepertinya masih heran.

“Masalah administrasi bisa diserahkan kepada tim kan? Lagipula sebelum mendaftar kan Mas Rico juga sudah yakin kalau akan lolos verifikasi KPUD? Iya kan?”

Rico tidak menjawab, dan kembali menyulut sebatang rokok setelah satu batang sebelumnya tandas oleh napas.

“Tapi ya lebih baik juga karena Mas Rico sudah mulai terpikir dari sekarang, meski telat menurut saya. Tetapi lebih telat lagi andai terpikir dan membuat rencana setelah dilantik.” Tak enak juga, saya mencoba ngayem-ayemi calon kepala daerah yang masih berusia muda itu.

“Mungkin panjenengan ada solusi atas apa yang tadi saya sampaikan?” Rico bertanya sembari mengembuskan asap rokoknya.

“Mas Rico ingin membuat program semacam apa atau bagaimana?”

“Kalau yang ada dipikiran saya, konsep abstraknya adalah Program Untuk Rakyat.” Rico menjawab cepat.

Saya memilih menyulut sebatang rokok lagi sebelum melanjutkan diskusi yang sebenarnya jauh diluar wilayah yurisdiksi saya, baik sebagai personal manusia dan apalagi praktisi.
Sebagai manusia, saya tak peduli politik praktis. Sebagai praktisi, tentu saja saya semakin tidak mempunyai kemampuan karena tak ada ketertarikan terhadap jargon dan program-program dari pelaku politik seperti itu. Saya tidak mempunyai keahlian dalam bidang politik, apalagi dalam tingkat praksis.

“Begini Mas Rico, sebelumnya ijinkan saya bertanya.”

“Silahkan mas.”

“Apa yang membuat Mas Rico mengikuti pilkada ini. Latar belakang apa yang mendasari? Jangan menjawab karena panggilan hati atau keprihatinan atas kondisi sosial masyarakat.” Saya bertanya sekaligus memberikan batas jawaban yang harus dikemukakan Rico.

“Nah, mulai keluar otaknya.” Kawan saya menimpali sembari menyulut sebatang rokok.

Rico terlihat menghela nafas, dan berancang-ancang untuk menjawab.

“Jujur saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan njenengan mas.” Rico menjawab sembari melemparkan senyum kecil.

“Oke.” Tentu saja tokoh politik atau pelaku politik tidak akan pernah mengungkapkan alasan mereka yang sebenarnya.

Alasan mereka tentu saja hanyalah retorika. Panggilan hati? Keprihatinan atas kondisi sosial masyarakat?

Jika panggilan hati, maka saya akan menjawab bahwa tidak ada satupun manusia kecuali pada level nabi atau rasul yang akan terpanggil atau terketuk hatinya untuk peduli pada orang banyak, masyarakat luas, tanpa dibelakangnya ada tendensi. Tak mungkin ada panggilan hati seperti itu.
Sudah jadi pengusaha misalnya, tetap lebih enak melanjutkan hidupnya sebagai pengusaha dan mengembangkan usahanya daripada harus turun dalam gelanggang politik yang tidak hanya akan menyita waktunya, bahkan bisa menghabiskan hartanya.

Keprihatinan atas kondisi sosial? Tidak harus dengan menjadi pejabat publik, bisa dengan aksi-aksi diluar lingkar pemerintahan, atau berkolaborasi dengan pemerintah. Tak harus dengan menjadi bupati atau walikota, bahkan gubernur.

Maka sebenarnya saya menunggu jawaban Rico yang semacam ini :
“Ingin terkenal.”
“Ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi bos tapi tak usah memberikan atau memikirkan gaji pegawainya.”
“Ingin mengalahkan rival politik.”
“Ingin namanya dicatat dalam sejarah suatu wilayah administrasi tertentu.”
“Ingin dipanggil Pak Bupati, Pak Walikota, atau Pak Gubernur.”
“Ingin memakai seragam seperti PNS tapi tak harus ikut seleksi CPNS.”

Jawaban-jawaban seperti itu yang saya tunggu. Tetapi Rico tak menjawabnya. Saya yakin ia sudah terjebak pada batasan yang pada awal kalimat saya sampaikan. Ia sudah tak mempunyai jalan beretorika. Maka sekarang saya yakin yang ada dipikirannya adalah sebab dan alasan sebenarnya ia mengikuti pilkada, dan itu berat untuk disampaikan secara jujur.

“Begini Mas Rico, mohon maaf jika saya salah. Apa yang saya sampaikan adalah kenyataan pahit mengenai kondisi pada level kabupaten atau kota.” Saya kembali membuka diskusi.

“Silahkan Mas, saya mendengarkan.” Rico menjawab, saya buang rasa pekewuh. Kapan lagi ceramah didepan calon pejabat publik.

“Level kabupaten atau kota menurut saya adalah level paling bawah dari kepanjangan tangan pemerintah di negara kita. Secara administrasi, ia strategis. Tetapi jika berbicara mengenai program atau kebijakan, maka ia tidak relevan. Sekali lagi ini menurut saya pribadi lho ya.”

“Saya masih mendengarkan mas.” Rico memang terdengar serius mendengarkan.

“Secara administrasi ia menjangkau lapisan masyarakat paling bawah, pada akar rumput dan kondisi mikro, riil dan bukan angka-angka statistik ekonomi makro. Sekali lagi secara administrasi. Maka yang bisa dilakukan pada level kabupaten atau kota, adalah hanya menyediakan data yang valid untuk diberikan pada pemerintah pusat, untuk kemudian dibuatkan kebijakan sesuai amanat undang-undang otonomi daerah. Karena pada kenyataannya, otonomi daerah juga tak lantas membuat daerah bisa membuat kebijakan sesuai dengan kondisi mereka sendiri, apalagi jika sudah menyangkut bidang-bidang atau komoditi sensitif seperti harga beras, dan atau pertahanan keamanan.”

“Nah kan bro, kadang otakmu itu bikin aku iri.” Kawan saya kembali menyahut sembari klepas-klepus menikmati rokoknya.

“Meski suatu daerah surplus beras, atau mempunyai produksi beras dengan kualitas terbaik, mereka tidak bisa memberikan harga diatas yang sudah ditentukan pemerintah pusat. Meskipun alasannya untuk kesejahteraan petani, pun meski kenyataannya masyarakat daerah tersebut mampu membeli beras berharga mahal.”

Saya menyeruput kopi sebelum melanjutkan.

“Atau di bidang kemananan, pemerintah daerah tidak bisa membuat aturan-aturan yang secara riil dan terperinci dibutuhkan oleh daerahnya demi menjaga keamanan. Harus sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Karena Perda tidak boleh keluar dari koridor peraturan pemerintah, apalagi undang-undang, bahkan kalah oleh sekadar peraturan menteri.”

Rico terlihat menyeruput kopinya dan menyulut kembali sebatang rokok.

“Maka program apa yang bisa dibuat oleh pemerintah daerah setingkat kabupaten atau kota? Bahkan bantuan sosial saja juklak juknisnya dari pemerintah pusat. Besarannya ditentukan pemerintah pusat, kriteria penerimanya juga ditentukan pemerintah pusat. Program dana desa itu ide pemerintah pusat, besarannya yang menentukan pemerintah pusat, pemerintah daerah kan tinggal membagi saja dan mengawasi pelaksanaannya. Itu kan level administrasi kalau hanya membagi dan mengawasi. Kebijakan darimana?”

“Lhah bro.” Kawan saya mulai mengikuti pembicaraan secara lebih serius.

“Tidak ada program untuk rakyat yang bisa benar-benar secara genuine dihasilkan oleh pemerintah daerah. Yang bisa mereka lakukan hanya mengembangkan apa yang sudah ada dan ditentukan oleh pemerintah pusat. Membuat sedikit kreatifitas.”

“Sebentar Mas kalau boleh menyela.” Rico menyela apa yang saya sampaikan.

“Silahkan Mas Rico.” Saya memberikan Rico kesempatan untuk mengutarakan maksudnya.

“Misalnya di Banyuwangi, bukankah mereka mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan atas apa yang mereka lakukan? Misalnya saja satu contoh, mereka memberikan uang saku kepada anak-anak sekolah. Bukankah luar biasa?” Rico memberikan contoh.

“Banyuwangi itu Mas Rico, yang pertama mereka benahi adalah pada administrasi dan tata kelola birokrasi pemerintahannya. Administrasinya kan? Kedua perihal memberikan uang saku kepada anak sekolah, itu adalah perkara kreatifitas dalam mengelola bantuan sosial. Kerangka dasar orisinalnya adalah bantuan sosial, besarannya tidak boleh melebihi standar yang sudah ditetapkan pemerintah pusat.”

“Iya, tetapi kan berarti tetap ada ruang-ruang membuat program untuk rakyat?”

“Ada. Tetapi bukan sesuatu yang harus dipikirkan secara njlimet. Kerangka dasarnya sudah ada, tinggal bagaimana membuat kreatifitas dari sana, dengan tidak menabrak aturan baku yang sudah ditetapkan.”

“Mungkin njenengan punya satu contoh program yang berupa kreatifitas dari apa yang sudah ada dan ditetapkan?” Rico melemparkan pertanyaan. Bagi saya, itu jebakan.

“Ada mas, tapi bersyarat.” Saya menjawab lugas.

“Maksudnya?” Rico kembali heran dan penasaran.

“Jika saya kemukakan, Mas Rico harus melaksanakannya. Saya berikan satu contoh saja. Yang lainnya nanti silahkan dikembangkan bersama tim anda.” Saya membuat pra syarat. Kapan lagi bisa negosiasi dengan tokoh politik. Paling pwol selama ini saya hanya negosiasi dengan penjual sayur di pasar.

Rico terlihat berpikir.

“Boleh Mas. Tetapi nanti apa yang njenengan kemukakan, akan saya bawa dulu pada tim, untuk didiskusikan.” Khas tokoh politik.

Saya yang kemudian terpaksa berpikir, tetapi daripada berlama-lama, akhirnya saya kemukakan juga salah satunya.

“Begini misalnya. Wilayah ini kan wilayah produktif pertanian, dengan hasil utama sebenarnya adalah beras. Bagaimana seandainya Mas Rico membuat suatu program, bahwa dana bantuan pembangunan desa itu untuk memfasilitasi terbentuknya sistem pasca panen. Dari pengolahan, membuat kemasan, sampai dengan penjualan. Bagaimana pada tiap desa utamanya yang menghasilkan beras dalam jumlah besar, mempunyai fasilitas pengolahan pasca panen yang modern. Modern dalam pengolahan dan pengelolaannya, profesional pengerjaannya. Utamanya untuk meningkatkan derajat hidup para petani. Paling tidak, olah pasca panen itu dalam kendali panjenengan, dan bukan kendali perusahaan perseorangan. Hal itu untuk mereduksi kemungkinan gabah akan dibeli murah dari petani, oleh perusahaan. Lebih baik lagi, jika dana desa itu sekadar stimulus saja, dan para petani dipersilahkan mempunyai saham disana, tergantung dari besaran gabah yang bisa mereka setorkan setiap panen. Itu contoh saja Mas Rico, detailnya silahkan dibicarakan dengan tim yang lebih ahli.”

Rico kembali berpikir.

“Tetapi Mas, tim sukses saya banyak yang mempunyai usaha pasca panen. Kira-kira respon mereka bagaimana terhadap program ini?” Rico bertanya, terlihat serius.

“Itu masalah njenengan Mas Rico. Lagipula kalau hal semacam itu saja merisaukan, ngapain kemarin ikut Pilkada?” Saya menjawab sembari menyeruput kopi dan menyulut sebatang rokok.

“Dobol.” Kawan saya mulai terlihat gusar.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *