Proses Memang Diperlukan, Tetapi Menyakitkan

Mungkin bagi sebagian orang, harusnya judul yang saya pakai adalah sebaliknya, “Proses Memang Menyakitkan, Tetapi Diperlukan.”
Agar apa? Mungkin agar orang memahami bahwa meskipun proses itu menyakitkan, tetapi memang diperlukan. Diperlukan adanya proses dalam suatu hal apapun, untuk mencapai dan menggapai tujuan apapun, meski itu menyakitkan.

Tetapi bagi saya, judulnya ya “Proses Memang Diperlukan, Tetapi Menyakitkan.”
Kenapa?
Yaa (kalau menurut saya), agar pertama-tama agar kita (saya) paham terlebih dahulu, bahwa memang diperlukan adanya proses dalam suatu hal apapun. Baru setelah paham dan sadar perlunya proses, ketahui juga bahwa bersamanya ada hal-hal yang juga menyakitkan. Sadar dulu kalau perlu, baru sadari kalau bisa saja menemui kesakitan.

Sepertinya kok Tuhan memang sudah membuat Keputusan semacam itu, bahwa bersama proses diperlukan adanya hal bernama sakit. Sama seperti ketika Tuhan Memutuskan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.

Dalam hal sekecil dan sesederhana apapun, jika itu berupa sebuah proses, maka akan ada hal menyakitkan yang menyertainya. Misalnya saja ketika kita makan.
Lhoh, kok makan? Bukannya makan malah membuat senang dan nyaman, karena kenyang? Kenyang adalah hasil, sedang prosesnya tentu saja mengunyah dan segala macam itu. Iya, bukan?
Mengunyah tentu saja juga menyakitkan bagi mulut anda beserta perangkatnya, gigi dan juga lidah.
Anda tidak merasakan itu sebagai ‘rasa sakit’, karena menganggapnya sebagai sebuah kebiasaan, dan karena anda (saya) sudah tidak terbiasa dengan kelembutan. Kelembutan untuk ikut merasakan sakitnya gigi dan lidah ketika mengunyah makanan.

Tidak ada yang tanpa proses

Dalam kehidupan manusia di dunia, tak ada satu hal pun yang terjadi, yang tidak disertai proses. Maka dari itu proses adalah suatu keniscayaan, berarti demikian pula dengan rasa sakitnya. Rasa sakit dalam berbagai skala ukuran, tergantung bagaimana rasa penerimaan kita terhadap rasa sakit yang menyertai proses tersebut.

Tentu saja, masing-masing manusia mempunyai rasa penerimaan yang berbeda-beda dalam mengartikulasikan rasa sakit dalam proses menjalani sesuatu. Sama-sama belajar naik sepeda, antara satu orang dan yang lain pasti akan berbeda penerimaan dan pemaknaannya dalam sekian kali jatuh dan terluka.

Satu orang mungkin akan menganggap luka karena belajar naik sepeda itu tak lebih dari sekadar luka gigitan nyamuk, tetapi orang yang lain mungkin akan menganggapnya seperti luka gigitan anjing. Tetapi apapun dan bagaimanapun itu, rasa sakit tak pernah lepas dari bagian suatu proses. Lebih dari itu, manusia membutuhkan proses untuk menuju atau menggapai sesuatu.

Bahkan sekadar berjalan dari teras rumah menuju kamar mandi, juga membutuhkan proses bernama berjalan. Dan ketika berjalan, apakah anda menyangka kaki akan baik-baik saja dan tidak merasakan sakit?
Tentu ia merasa sakit, tetapi anda mengabaikannya, dan justru berpendapat bahwa berjalan akan membuat tulang kaki menjadi lebih kuat, juga mencegah terjadinya osteoporosis.

Nah, ternyata, rasa sakit dalam berproses itu bisa menjadi suatu ‘kebaikan’, tergantung bagaimana pemaknaan kita bukan?
Maka, adalah penting memaknai setiap rasa sakit dalam setiap proses, dengan sebuah pemaknaan yang baik serta bermanfaat.

Karena kalau tidak dimaknai demikian, maka yang akan dirasakan adalah suatu siksaan. Rasa sakit dalam suatu proses, terkadang menjadi semacam siksaan.

Ibu yang sedang dalam proses melahirkan calon bayinya, saya yakin akan memaknai proses kelahiran yang menyakitkan itu sebagai suatu kebaikan. Maka ia abaikan rasa sakit itu, demi agar bayinya lekas terlahir, dan selamat dalam menuju kehidupan di dunia. Bahkan terkadang, seorang ibu akan rela kehilangan nyawanya dalam proses melahirkan, demi agar bayinya diselamatkan.

Dalam hal-hal lain yang lebih luas, atau dalam hal spesifik lain, tentu (idealnya) kita harus memaknai setiap rasa sakit dalam proses, dengan pemaknaan yang baik. Sekali lagi karena rasa sakit itu memang diperlukan.
Apa tujuan rasa sakit itu diperlukan ada?
Agar kita bersyukur masih diberi kesempatan untuk berproses.

Lupakan hasil

Secara ekstrim seorang bijak pernah menyampaikan :

“Yang terpenting adalah prosesnya, bukan bagaimana hasilnya.”

Ya, karena jika terlampau terpaku pada bayangan mengenai hasil, maka manusia cenderung akan memaknai suatu proses sesuai dengan hasil yang dicapai. Ketika hasilnya tidak sesuai dengan usaha dan proses yang sudah ia lakukan, maka ia akan merasa sakit dan kecewa.

Lagipula, ketika sedang menjalankan suatu proses, bukankah manusia tidak akan tahu perihal bagaimana hasil yang akan ia capai?
Apakah mesti jika kita makan, maka kita akan merasa kenyang dan nyaman?
Tidak mesti, bukan?
Terkadang setelah kita makan, bukan rasa nyaman dan kenyang yang kita dapatkan. Terkadang kita malah merasakan mulas dan perih.
Tetapi kita tetap melakukan proses makan, bukan?

Lupakan hasil, agar kita tetap merasa nyaman dan baik-baik saja ketika menjalani prosesnya. Lupakan dan tepis segala hal mengenai hasil yang akan kita dapatkan, sehingga kita tidak akan kecewa ketika hasil tidak sesuai dengan bayangan kita.

Fokus pada proses yang sedang kita lakukan, dan percaya saja bahwa nanti apapun hasilnya, itu sudah sesuai dengan proses yang kita lakukan. Itu akan mereduksi rasa sakit yang timbul ketika kita sedang melakukan proses. Bahkan, kita tetap akan merasakan kebahagiaan dalam setiap proses yang kita jalankan.

Tataran ideal

Tetapi, eh tetapi….

Apa yang saya sampaikan diatas adalah tataran ideal. Sebagai manusia, wajar saja kita merasakan sakit yang teramat sangat dalam berproses, dan merasakan kecewa ketika hasil tak sesuai dengan harapan.

Ya wajar saja, karena sangat sulit bagi manusia untuk mencapai tataran ideal dalam menjalani kehidupan. Termasuk memaknai rasa sakit dalam berproses itu. Tetapi juga, bukankah tak ada salahnya untuk terus belajar? Yaa, meskipun juga belajar seringkali menyakitkan.

Karena pada akhirnya, hidup sampai dengan nantinya mati, adalah proses pembelajaran. Belajar terus menerus dalam hal apapun. Karena jika manusia sudah berhenti belajar, maka berhenti pula kehidupannya.

Tidak percaya?
Orang yang sudah meninggal adalah orang yang sudah sampai pada pintu tujuan kehidupannya. Ia sudah selesai berproses, selesai berjalan, selesai belajar memaknai kehidupan. Maka ia, meninggal.

Sampai disini, abaikan saja kalau anda tidak setuju. Toh tulisan ini juga hanya sebuah proses pembelajaran yang sedang saya lakukan. Tak ada hasil yang ingin saya capai dari tulisan ini.

Selamat pagi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)