Proses Memang Mahal

Saya bangun kesiangan, dan terpaksa sholat Subuh yang harusnya dilaksanakan dalam waktu yang masih tintrim dan syahdu, saya lakukan ketika suasana diluar sudah cukup ramai oleh anak-anak yang bermain di halaman.

Ah… dasar manusia beriman lembek, sholat subuh dua rakaat saja kok ya telat…

Seperti biasa, setelah sholat subuh, saya membuat kopi. Ini adalah kebiasaan yang saya lakukan ketika berada di rumah, atau juga di kosan. Kopi tidak boleh terlupa, meski telat juga.

Saya bawa segelas kopi panas itu ke teras, sembari membawa sebungkus rokok yang tinggal menyisakan beberapa batang di dalamnya.

Cerah, matahari sudah bersinar cukup terang. Tak seperti hari kemarin, ketika matahari baru muncul ketika tingginya sudah sepenggalah.

Gara-gara Corona, dan dengan itu saya diberi surat tugas untuk bekerja dari rumah, maka kini tiap pagi saya bisa ngopi di teras sembari melihat deret pohon di kebun depan rumah (bukan kebun saya), dan juga mendengar kicau burung liar di dahan-dahan. Cukup menyenangkan. Bukankah selalu ada hikmah yang datang bersama dengan kesulitan?

Setelah cukup nyaman duduk pada dingklik kecil satu-satunya yang ada di teras, saya mulai membuka hape. Grup WA pelatihan kantor sudah cukup ramai, ramai diskusi kalau tak boleh dikatakan perdebatan. Setelahnya saya membuka akun Google adsense, dan melihat perkembangan yang cukup menyenangkan. Kalau kata salah seorang kawan saya : Lumayan ono sik gelem mbayari pisuhanmu.

Ketika baru saja menyulut batang rokok pertama, saya tiba-tiba teringat Gareng. Bagaimana kabar makhluk keparat itu. Dia baru datang sekali semenjak pandemi virus ini menyeruak. Apakah dia masih hidup? Atau jangan-jangan sudah mampus. Kalau mampus sih, tidak mungkin. Dia sudah hidup ribuan tahun, dan daya hidupnya luar biasa.

Gareng tidak bisa sakit, dan terlebih lagi sepertinya dia tidak akan bisa mati. Dalam tanda kutip, kecuali nanti ketika sudah sampai pada hari penghakiman.

Tiba-tiba saya teringat Gareng, bagaimana kabarnya, dan tentu saja bagaimana pendapatnya tentang kasus yang heboh ini. Andai pagi ini dia datang, saya ikhlas memberikan beberapa batang rokok yang tersisa, sebagai sumpal mulut perotnya.

Tetapi yang dirindukan tak kunjung datang, tak seperti biasanya ketika dia tiba-tiba muncul setelah saya ngrasani. Bahkan sampai habis satu batang pertama itu, tanda-tanda kemunculannya pun tak ada. Ah, keparat…

Kemunduran kondisi ekonomi secara global, tentu berpengaruh juga di Indonesia. Bahkan juga saya paham mengapa seperti itu. Toko-toko tutup, juga pabrik-pabrik. Hampir sebagian besar orang di Indonesia, bahkan dunia, kesulitan. Pengusaha kecil mandiri berguguran, menutup usahanya sementara atau bahkan selamanya. Pegawai pada tempat usaha kecil, juga terkena imbasnya. Yang belum tutup pun, merasakan omset dan penghasilannya sudah jauh menurun.

Jika hanya membaca berita, yang terketuk dalam batin saya adalah rasa keprihatinan. Tetapi ketika mengalami dan melihat sendiri bagaimana orang-orang disekitar saya mulai kehilangan pekerjaan, menurun penghasilan, tak tentu bagaimana mendapatkan uang untuk meneruskan penghidupan, seketika sumpek yang terasa.

Sumpek yang timbul sebagai akumulasi dan gabungan dari perasaan sedih, pilu, marah, bahkan juga takut. Semuanya menggumpal menjadi satu, dan menimbulkan rasa sumpek yang luar biasa. Dalam beberapa kesempatan, saya harus menghela nafas panjang untuk mendapatkan sejenak perasaan lega.

Sama seperti pertanyaan kebanyakan orang : sampai kapan kondisi ini akan berlangsung?

Terhadap diri saya sendiri, saya akan bisa liat dan menguatkan diri. Tetapi ketika terbentur melihat kondisi orang-orang terdekat, saya tidak kuat.

Ketidakkuatan itu muncul setidaknya karena satu sebab besar : saya tidak mempunyai kemampuan untuk membantu, bahkan jika itu dalam skala yang paling kecil dan ringan.

Doa? Seharusnya itu adalah cara terakhir setelah berusaha. Namun saya tidak mampu melakukan usaha apapun untuk membantu.

Saya ingin curhat kepada Gareng. Memang memalukan, dan saya yakin dia akan tertawa mengejek jika tahu keinginan saya untuk curhat itu.

Tetapi mau bagaimana lagi. Rasa-rasanya sumpek yang timbul ini sudah sedemikian gawatnya. Jika hanya kesulitan yang menimpa diri saya pribadi, saya masih akan mampu menahannya. Tetapi ketika sudah menyangkut orang-orang disekitar, justru saya tidak akan mampu.

Menurut Gareng, itu adalah kelemahan terbesar saya. Menurutnya, perasaan yang timbul semacam itu, adalah kesombongan. Dengan perasaan semacam itu, saya menganggap diri lebih kuat daripada orang lain. Padahal tidak, itu hanya perasaan subyektif. Dan orang lain pun sebenarnya, jauh lebih kuat daripada saya. Mengasihani orang lain dengan pandangan mengiba, adalah jenis kesombongan, katanya.

Melihat orang lain yang menurut kita mempunyai penghidupan yang tak lebih baik dari diri kita, bukanlah dengan pandang kasihan dan mengiba, lanjutnya. Tetapi dengan pandangan penuh kehormatan bahwa orang itu mampu menjalani hidup yang lebih sulit daripada kita. Perkara kita ingin membantu, itu sudah lain soal. Mau bantu ya tinggal bantu saja ga usah pakai embel-embel kasihan, pungkasnya.

Ada sebuah pesan masuk di aplikasi WA. Saya kira itu dari grup yang sedang ramai. Tetapi ternyata dari sebuah nomor asing yang belum ada nama. Berarti saya belum menyimpan nomor itu. Dengan malas saya buka, cukup panjang pesannya. Sebelum saya buka, saya lihat dulu gambar profilnya, saya mengernyitkan dahi dan keheranan. Baru setelah itu saya baca, dan saya tuliskan pesan itu dibawah ini :

Gimana kabarmu cah edan? Baik-baik saja dan tidak mengarah gejala stres kan? Aku tahu kamu gampang terserang stres untuk masalah-masalah semacam yang sedang terjadi seperti saat ini. Kuatkan prostatmu agar tidak ngompol.

Aku tidak sedang berada di Indonesia. Aku sedang di Provinsi Lombardi, Italia. Aku sedang menjadi relawan bantuan medis, bersama tenaga medis dari Cina. Di Italia jauh lebih mengerikan daripada di Indonesia. Disini, tidak ada orang yang masih sempat tertawa dan bisa ngopi di pagi hari seperti dapuranmu.

Kasus di Italia masih belum akan selesai dalam waktu dekat, aku kira begitu juga dengan di Indonesia. Tetapi sedikit demi sedikit sudah mampu tertangani, dan terpetakan dengan cukup baik. Mungkin satu atau dua bulan ke depan sudah akan mampu dikendalikan.

Ingat kataku? Proses itu mahal harganya, dan terkadang pahit. Seperti proses yang dilalui Adam juga Hawa untuk menurunkan manusia di dunia. Juga proses alam yang terjadi pada era Nuh.

Paling mutakhir, proses Muhammad untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran itu takkan bisa kamu nilai dengan skala berapapun. Kamu takkan bisa menilai dan bahkan jika hanya sekadar membayangkannya. Itu proses yang berat dan pahit. Bahkan kamu takkan mampu hidup dalam satu zaman dan dalam satu lingkungan dengan Muhammad saat itu. Paling kalau hidup satu zaman, kamu malah akan jadi pengikut Abu Lahab alih-alih pengikut Muhammad.

Namun seperti semua proses yang pernah terjadi di dunia ini, semua akan ada akhirnya. Lha wong dunia ini nanti juga akan berakhir, apalagi cuma sekadar proses pada suatu hal atau kejadian. Tenang, nanti akan berakhir. Perihal waktu, tempo hari aku mendapat bisikan bahwa takkan lama lagi ada obatnya, dan pandemi segera berakhir.

Proses saat ini, dengan cara adanya pandemi ini, nanti akan ada hasil yang bagus setelahnya. Kebaikannya pun sudah ikut berlangsung pada saat ini, namun kurang disadari. Nanti baru akan disadari ketika situasi sudah cukup tenang. Bersama kesulitan datang pula kemudahan, ingat? Bukan setelah kesulitan datang kemudahan.

Kemudahan itu selalu datangnya bersamaan dengan kesulitan, bukan setelahnya.

Ini adalah tahapan proses, tentu memang sulit dan pahit. Jangan pernah hilang kepercayaan bahwa semua yang terjadi adalah sudah merupakan ketentuan. Itu agar hati dan perasaanmu menjadi ringan.

Sudah dulu, ini aku WA cuma pinjem dari perawat perempuan orang Italia. Sempet ga boleh pinjem, tapi setelah kujelaskan bahwa ini penting, karena aku harus menenangkan salah seorang kawan yang hampir kena gangguan jiwa, baru diberikan. Itu pun dengan syarat bahwa setelah WA ini aku harus memeluknya, karena dia sedang galau.

Sudah, aku mau meluk cewek dulu.

Gareng

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *