Puasa Media Sosial

Sudah semenjak hari Minggu [14/04/2019] pukul 00:10 dinihari, saya mulai berpuasa media sosial. Menonaktifkan satu per satu media sosial yang saya punya. Ada satu sebab yang kuat melatarbelakangi, tetapi kemudian menjadi sebuah sarana mensyukuri.

Hidup saya dalam beberapa tahun terkahir, tak pernah sebaik ini. Dalam arti, saya merasa tak berada di tengah kegaduhan, oleh karena media sosial. Kelak, mungkin saya akan mengaktifkannya lagi, beberapa akun media sosial yang saya punya itu. Tetapi sementara ini, saya sedang menikmati suatu penggal waktu yang sangat nyaman.

Harus saya akui, berita maupun kabar yang berseliweran di media sosial itu, banyak berguna bagi kehidupan saya. Namun juga, banyak mengkhawatirkan. Terutama, pada bagian pertengkaran dan lempar melempar fitnah.

Pemilu serentak yang digelar tempo hari [17/04/2019] adalah penyebab kenapa akhirnya saya menonaktifkan akun media sosial. Kemuakan sudah memuncak, dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menulis kasar disana.

Saya muak terhadap kedua belah pihak, kedua kubu, kedua pendukung paslon capres. Keduanya, tak mencerminkan niatan untuk berpesta demokrasi. Keduanya lebih berniat seperti untuk berperang. Maka waktu itu, segera saya putuskan untuk berpuasa. Berpuasa media sosial.

Ah ya…ternyata enak juga rasanya….

Sudah semenjak tahun 2005 saya bermedia sosial. Pertama kali waktu itu dengan menggunakan aplikasi mIRC, yang tersedia pada hampir semua warung internet [warnet]. Anda tahu mIRC juga?
Berarti anda sudah tua…hahahaha

mIRC adalah kepanjangan dari moo Internet Relay Chat. Entahapa arti kata ‘moo’ itu. Yang jelas itu dari sumber dalam pengembang aplikasi mIRC sendiri.

Tahu kenapa waktu itu bermedia sosial melalui mIRC [menurut saya] begitu menyenangkan?
Karena belum ada platform media sosial lainnya…..

Bercandaa…bukan itu.
Tetapi karena mIRC bisa memicu gelak tawa.

Itu saja, sederhana.

mIRC memang hanya menyediakan ruang untuk percakapan-percakapan ringan, tanpa kita tahu siapa sebenarnya yang sedang bercakap dengan kita. Baru ketika sudah saling percaya melalui percakapan dengan ‘nama palsu’, kita bisa bertukar identitas yang sebenarnya.

Tanpa gambar, foto, atau video. Benar-benar hanya ruang untuk huruf, kata dan kalimat. Tak banyak kegaduhan selain saling misuh dan tebar pesona melalui kata-kata. Berusaha menarik perhatian ‘lawan jenis’ melalui permainan kata.

Lhah, darimana kita tahu bahwa sedang menarik perhatian lawan jenis?
Yaaa….tidak tahu juga. Nama-nama yang digunakan terkadang tidak benar-benar mencerminkan siapa diri kita.

Bisa laki-laki menggunakan nama perempuan. Bisa perempuan menggunakan nama laki-laki.

Tetapi, tidak ada ‘robot’ atau akun palsu di mIRC. Semua asli, meski nama akun yang digunakan anehnya bukan main.

Saya sendiri dulu lebih sering masuk ke mIRC dengan nama akun ‘gurita85’.

Selepas mIRC, ada juga Friendster. Saya mempunyai akunnya pada tahun 2007. Tetapi entah kenapa saya tetap lebih menyukai mIRC ketika berada di warnet. Friendster tak begitu menarik perhatian saya, meski kehebohannya mengguncang banyak situs berita dan obrolan di angkringan.

Sesekali saja saya berlalu lalang di Friendster, dan selebihnya tetap lebih senang nongkrong di mIRC.

Tahun 2009, saya membaca berita pada sebuah media daring, bahwa ada sebuah layanan media yang berkembang cukup pesat di Amerika. Itulah Facebook.

Saat itu juga saya membuka website mereka, dan membuat sebuah akun. Setelah membuatnya, selama beberapa bulan saya tak membukanya. Hampir lupa email dan kata kunci yang saya gunakan untuk mendaftar. Tetapi untunglah masih ada pulpen dan kertas.

Saya selalu mencatat segala sesuatu yang menurut saya ‘penting’, dengan pulpen pada sebuah buku catatan kecil. Buku itu masih saya simpan. Buku catatan kecil bersampul tebal merk gelatik kembar. Berwarna kuning.

Buku itu berisi banyak ‘user’ dan ‘password’ pada berbagai platform media sosial maupun aplikasi yang saya gunakan. Anti hacking dan penyadapan, percayalah. Sampai saat ini, belum ada hacker yang bisa membobol kunci keamanan dari sebuah buku catatan kertas.

Beberapa bulan semenjak mendaftar, saya baru kemudian membuka lagi akun Facebook yang saya ‘sewa’. Ternyata menarik.
Bisa mengirim lebih dari sekadar tulisan. Bisa mengirim gambar, atau foto.

Segera saja Facebook mengalihkan dunia mIRC saya untuk banyak bertemu kawan baru. Menyenangkan.

Sungguh, benar-benar menyenangkan.
Tetapi, semenjak negara api menyerang gelaran pemilu tahun 2014 semuanya berubah.

Mendadak semua orang dan kawan saya di Facebook, menjadi sangat serius. Tak hanya serius, namun sangat serius.
Serius mempertahankan pendapat mereka, dan serius menolak pendapat dari luar diri mereka.

Saya kira, selepas pemilu tahun 2014, media sosial akan mereda, dan kembali menyenangkan dengan banyak guyonan yang memicu tawa. Tetapi saya salah, bukannya mereda, selepas 2014 malah semakin menjadi-jadi.

Guyonan yang ada pun tak jauh-jauh dari fitnah dan saling menjatuhkan. Hampir semua orang kemudian tak bisa santai dalam bermedia sosial. Masih ada juga sebenarnya beberapa kawan yang sangat santai di media sosial, tanpa terpancing untuk berhuru-hara. Tetapi yang mendominasi, dan banyak keluar di beranda, adalah mereka yang urat-uratnya lehernya kencang dan tegang.

Saya sendiri sekali waktu, ikut terpancing untuk mengencangkan urat leher dan dahi. Menyebalkan….

Bukan bermaksud membela diri, namun ketika mengencangkan urat leher, saya selalu berposisi di tengah. Dalam arti, saya marah atau kecewa terhadap mereka yang bertikai, dan berusaha melerai. Tapi ya itu tadi, saya pun berusaha melerai namun dengan terkadang sangat kasar dan tidak sopan. Akibat dari akumulasi kekecewaan yang sudah mengendap bertahun-tahun. Hahaha….

Maka pada akhirnya saya memutuskan untuk sejenak rehat dari media sosial. Beristirahat, menjauh dari hingar bingar yang mengancam kewarasan. Saya benar-benar merasa tidak waras melihat begitu banyak opini atau pendapat yang berseliweran, namun dengan menutup ruang-ruang diskusi.

Semua orang ingin dihargai, semua orang ingin didengar, semua orang ingin benar, namun kesemuanya tak ingin menghargai, mendengar, atau menerima kebenaran lain.

Uasuog.

Entah sampai kapan saya masih tetap akan bertahan tidak menyentuh dan kembali masuk pada ranah pergaulan media sosial. Sementara ini, saya merasa nyaman. Tak harus melihat begitu banyak pertengkaran dan pertikaian, yang terkadan jauh lebih menggelikan daripada pertengkaran anak TK, tetapi dengan skala merusak yang lebih massif.

Oh ya bagi anda yang sementara ini masih ‘menikmati’ bermedia sosial, apakah anda punya resep untuk bertahan?
Silahkan tuliskan pada kolom komentar.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *