Puncak Dialektika Cinta, Mengemuka Yang Tiada

Ketika saya menuliskan dialektika, maksudnya adalah hubungan imbal balik, dua arah. Ketika frasa setelah dialektika adalah ‘cinta’, maka maksudnya adalah saling. Saling mencintai tentu saja.

Ah, cinta….

Mendadak saya termenung ketika mendengar khutbah dalam rangkaian sholat Idul Adha, ketika Khotib menyampaikan bahwa cinta membutuhkan pembuktian.

— Cinta selalu membutuhkan bukti —, begitu beliau menyampaikan.

Misalnya saja, beliau meneruskan :
“Bukti cinta seorang laki-laki, suami, terhadap keluarganya, adalah dengan bekerja. Ketika ia bekerja, mendapatkan uang dan kemudian memberikannya kepada istri dan anak-anaknya, itu adalah bukti cinta.”

Dus….saya semakin termenung.

Semakin termenung, karena beliau kemudian menyampaikan, bahwa begitu juga jika seorang hamba mencintai Tuhannya. Harus ada bukti.

Sholat adalah bukti, berkurban ketika hari raya Idul Adha juga adalah bukti.

Benarkah…???

Benarkah Tuhan mensyaratkan bukti dalam dialetika cinta dengan hamba-hambaNya?

Bukankah, Tuhan tetap adalah Tuhan, tetap Maha Kuasa dan Maha Segalanya, meski hamba-hamba-Nya tak memberikan bukti, atas cinta mereka.

Bukankah, demikian pula cinta Tuhan terhadap makhluk, terhadap hamba-hamba-Nya?
Tuhan tetap memberikan yang terbaik, dan tak mengharap imbal balik.

Tuhan tetap menerbitkan matahari, meski banyak hamba tak memberikan bukti.
Tuhan tetap menggratiskan udara, meski cinta para hamba hanya sebatas kata-kata.

Tak lantas Tuhan mencabut semua fasilitas gratis untuk manusia, meski banyak manusia ingkar padanya.

Lantas, apakah masih relevan membandingkan dialetika cinta antar manusia, dengan dialektika cinta Tuhan dan hamba-hamba-Nya?

Ah, cinta….selalu rumit dan menimbulkan banyak kosa kata serta frasa tak berguna.

Beliau khatib melanjutkan :
“Namun apakah semua kurban diterima? Tidak!”

Lhah….

“Kurban yang diterima adalah kurban yang dilandasi ketakwaan dari hamba-hamba-Nya.” Beliau melanjutkan.

“Bahkan, sebagian ulama menyebutkan, bahwa esensi kurban adalah menyembelih hawa nafsu dan godaan setan.” Beliau masih melanjutkan.

Saya tak lagi termenung, melainkan bingung. Sumpah, saya bingung.

Di depan, beliau menyampaikan pentingnya bukti, secara material. Di belakang, beliau menekankan esensi yang lebih kepada hal immaterial.

Baru sampai disini, kiranya ada yang perlu dikoreksi :
“Bahwa dialektika cinta, tak membutuhkan standarisasi.”

Masing-masing manusia, memiliki dan mempunyai pemahaman yang berbeda-beda, dalam melakoni kisah cintanya. Baik cinta pada sesama makhluk, atau cinta makhluk terhadap pencipta-Nya.

Demikian perihal buktinya, atas cinta yang menggelora.

Sholat bisa jadi adalah bukti, tetapi tak bisa kemudian dijadikan tolok ukur utama. Apalagi jika kemudian sholat menjadikan manusia untuk saling memberi nilai terhadap manusia lainnya, perihal kedalaman iman dan ketakwaan.

“Jika ada seseorang berkata bahwa ia beriman dan percaya kepada Tuhan, tetapi tidak sholat, maka kita akan kemudian memberikan penilaian bahwa keimanannya sekadar pura-pura.” Beliau khatib juga menyampaikannya di awal khutbah.

Sholat adalah satu hal, dan keimanan adalah hal lainnya. Tentu saja, meski berkaitan, tapi tak lantas keduanya saling menguatkan.

Wajarnya, sholat memang salah satu jalan yang wajib ditempuh seorang muslim, untuk mendekat pada Tuhannya. Tetapi, tak mesti juga muslim yang sholat, lantas tebal keimanannya. Bisa jadi, mereka yang (mengaku) tidak sholat, secara keimanan lebih dekat dengan Tuhannya [maaf jika saya sedikit menyinggung tentang tasawuf].

Begini, ada manusia atau muslim yang melakoni sholat hanya sekadar untuk menggugurkan kewajibannya. Ada manusia yang sholat untuk kebutuhan dirinya. Ada yang sholat untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Ada yang sholat karena ia memang membutuhkan sholat, bukan karena kewajiban dan tuntutan.

Rumit?
Tentu saja.

Maka ketika ada Khotib atau pemuka agama yang mengupas perihal keimanan, saya selalu termenung.

Perihal iman tak ada yang persis mengetahui, kecuali Tuhan. Tak ada yang berhak memberikan nilai, kecuali Tuhan. Dan tak ada yang berhak menghakimi kadarnya, kecuali hamba itu sendiri.

Begitu juga perihal cinta, my luv….
Tak ada yang berhak menghakimi perihal kesungguhannya, kecuali mereka yang merasakannya.
Tak ada yang berhak memberikan nilai, kecuali mereka yang merasakan geloranya.

Ah ya, terlalu pagi membicarakan keimanan dan cinta, sebenarnya.

Tetapi mau bagaimana lagi, banyak ceramah dan khotbah yang selalu membuat saya termenung, dan mengerutkan dahi. Dalam berbagai aspeknya, dalam perbandingan-perbandingan yang dipakainya.

Jika nilai atau esensi utama kurban adalah menyembelih hawa nafsu dan godaan setan, maka nilai atau esensi cinta laki-laki bukan pada pekerjaan dan uang yang dihasilkannya. Melainkan pada kesungguhannya, tanggung jawabnya, dan nilai-nilai lain yang tak bisa dilihat secara kasat mata. Dan tentu saja, sesama manusia tak bisa memberikan nilai atas kesungguhan manusia lainnya dalam mengupayakan nafkah terhadap keluarga.

Maka sampai disini, penting untuk disampaikan mengenai hubungan antara syariat-thariqat-hakikat-makrifat.

Ah, terlalu rumit berbicara semacam itu sepagi ini.

Ah, kenapa juga saya harus mendengarkan khutbahnya dengan terlalu serius?

Cinta yang kuat tak membutuhkan syarat. Cinta sejati tak membutuhkan bukti. Bahkan, cinta terbaik adalah yang tak mengharap cinta berbalik untuk dirinya. Murni, tanpa tendensi.

Cinta yang masih membutuhkan bukti, adalah cinta kanak-kanak terhadap dirinya sendiri.

Sebenarnya tadi, terkantuk-kantuk akan lebih menyenangkan daripada terlampau serius menyimak khutbah yang membuat dahi berkerut.

1 Comment

  1. Hello! anangaji.com

    We make offer for you

    Sending your commercial offer through the feedback form which can be found on the sites in the Communication partition. Contact form are filled in by our program and the captcha is solved. The advantage of this method is that messages sent through feedback forms are whitelisted. This method raise the chances that your message will be open.

    Our database contains more than 25 million sites around the world to which we can send your message.

    The cost of one million messages 49 USD

    FREE TEST mailing of 50,000 messages to any country of your choice.

    This message is automatically generated to use our contacts for communication.

    Contact us.
    Telegram – @FeedbackFormEU
    Skype FeedbackForm2019
    Email – FeedbackForm@make-success.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *