Rahwana, Si Dasamuka

Selain Gareng si penceng keparat yang tak tahu malu, saya juga mempunyai teman lain yang tak kalah unik. Tak kalah lucu, menyenangkan, namun sekaligus menyeramkan. Beneran, menyeramkan.

Namanya Rahwana. Ia mempunyai nama alias Dasamuka. Nama aliasnya diambil dari sifat dan juga penampakan fisiknya. Mukanya sepuluh. Sepuluh sodara-sodara dari Sabang sampai Merauke.

Jadi kalau anda mempunyai teman atau kawan yang bermuka dua, yang baik di depan tetapi bangsat di belakang, bersyukurlah. Itu baru dua. Lha ini saya punya kawan mukanya sepuluh.

Sepuluh mukanya itu nampak dalam berbagai ekspresi, pada satu waktu sekaligus. Marah, sedih, bahagia, takut, licik, goblog, kosong, polos. Eh belum sepuluh ya?

Ya pokoknya itu, sepuluh mukanya menampakkan ekspresi yang berbeda dalam satu waktu sekaligus.

Hanya saja, memang yang menjadi wajah utamanya adalah angkara murka, kemarahan. Wajahnya lebih sering bersemu merah. Bukan karena ‘khumairah‘ yang lucu bersemu kemerahan, bukan. Bukan karena merah malu. Tetapi benar-benar merah seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi. Itu adalah wajah utama Rahwana.

Oleh karena itu, banyak orang yang tidak menyukainya. Bahkan takut. Sebagian orang bahkan menganggapnya titisan hawa nafsu dan kejahatan. Titisan angkara murka dan kemarahan semesta.

Ah, kasihan Rahwana.

Maka saya bersedia menjadi temannya. Saya bersedia menemani Rahwana. Bagaimanapun juga, masih ada sisi lucu dari Rahwana. Beneran.

Semua makhluk masih mempunyai beragam kemungkinan sifat dan tindakan, kecuali bahwa Tuhan sudah menetapkannya dengan hanya satu sifat. Misalnya saja malaikat yang sudah ditetapkan untuk patuh dan tak mempunyai keinginan apapun selain yang diperintahkan oleh Tuhan.

Nah, Rahwana ini masih sama dengan manusia. Ia adalah makhluk kemungkinan. Bukan makhluk mutlak. Tak mutlak jahat dan bersifat angkara murka. Tidak. Rahwana juga bisa lucu.

Saya berikan contoh langsungnya atas apa yang pernah terjadi ketika kami dolan berdua.

Waktu itu kami makan bakmi berdua, berboncengan dengan sepeda motor. Rahwana keparat itu langsung saja keluar dari warung begitu selesai merokok setelah menandaskan sepiring bakmi Jawa goreng dan segelas teh panas. Terpaksa saya yang harus membayar makanan kami berdua.

Keparat betul, padahal waktu itu kondisi dompet saya juga sedang kritis-kritisnya. Tetapi dengan ekspresi wajah culas sekaligus berpadu dengan senyum polos cenderung dungu, ia melirik ke arah saya. Itulah sebab kenapa pada akhirnya saya ikhlas mentraktirnya. Sampai di parkiran sepeda motor, Rahwana berujar bahwa ia yang akan ganti membayar biaya. Maksudnya, karena saya sudah membayar bakmi, maka ia yang akan membayar parkir.

Sembari menghampiri tukang parkir Rahwana merogoh saku celananya, dan dengan senyum yang lebar, wajah yang tulus, serta sorot mata yang jujur ia mengulungkan selembar uang rupiah. Si tukang parkir terkejut, dan bertanya apakah Rahwana benar-benar ikhlas. Rahwana langsung mengarahkan wajah marahnya ke arah tukang parkir.

“Ikhlas nyet!!!” Nada suaranya terdengar tinggi dan agak serak. Tanda ia tersinggung.

Tukang parkir buru-buru berlalu sembari mengucapkan banyak terima kasih.

Saya bertanya kepada Rahwana apakah tidak aneh kalau tukang parkir sampai bertanya sedemikian rupa. Saya suruh cek kantongnya, salah ataukah tidak lembar rupiah yang diberikannya. Rahwana melotot ke arah saya.

“Kamu juga menyangka aku tidak ikhlas memberikan uang pada tukang parkir?” Suaranya semakin serak.

“Sik to ah. Aku yakin kamu ikhlas, tapi cek dulu berapa yang tadi kamu berikan.” Saya mengelak. Takut juga kalau ia sudah melotot seperti itu.

Rahwana urung mengambil helm, dan memasukkan satu tangannya ke saku. Dikeluarkannya perlahan selembar rupiah dari saku.

“Waahhhh….” Suaranya datar.

“Kenapa?” Saya sudah bisa sedikit menebaknya, tetapi lebih memilih untuk bertanya. Daripada matanya melotot kembali.

“Bajingan. Sik neng ngesak kari rongewu. Berarti kae mau seketewu.” [Bajingan. Yang disaku tinggal dua ribu. Berarti yang kuberikan tadi lima puluh ribu] Katanya datar, namun tanpa nada penyesalan.

“Bwahahaha….” Saya tertawa keras, tak mampu menahannya.

Rahwana bergegas pergi. Saya kebingungan.

“Wooi, mbonceng ora?” Saya setengah berteriak.

“Rak! Arep mlaku.” Katanya dengan ketus.

Saya kembali tertawa terpingkal, namun bergegas mengejarnya dengan sepeda motor. Saya berikan helmnya sembari pelan berkendara di samping langkah kakinya.

“Arep mlaku.” Suaranya masih ketus.

“Ya wis, sekarepmu.” Saya menahan tawa, “Rokok po? Nggo kanca mlaku, iseh adoh lho le mlaku.” Saya menggodanya.

“Prek! Minggat kono.” Suaranya keras, saya bergegas menguntir gas daripada kena tendang.

Rahwana itu lucu minta ampun. Begitu kok banyak yang tidak suka, bahkan tak kurang banyak yang mengutuknya. Bukankah Rahwana juga sama seperti kita ini, hanya menjalankan kodrat dan takdirnya di dunia, dari Yang Maha Kuasa? Wajah amarahnya tak kurang karena ia hanya menjalankan perintah dari Sang Pencipta. Karena memang sudah demikian itu kodrat penciptaannya.

Lain waktu, ia pernah bercerita. Bahwa ia sedang jatuh cinta.

Ia bercerita bahwa sedang jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Shinta. Menurutnya, Shinta adalah reinkarnasi dari kekasihnya terdahulu, Widawati. Bukan kekasih terdahulu dink, menurut Rahwana, Widawati pada kehidupan sebelumnya, pernah menolak cintanya. Maka kini ia mencari reinkarnasi Widawati, yang ternyata kini menjelma menjadi Shinta.

“Shinta yang istri dari Ramawijaya itu?” Saya bertanya hati-hati.

“Betul.” Rahwana menjawab yakin.

Bhadalah. Nekat, ya tidak boleh nyet, istri orang.” Saya mengingatkan.

“Peduli setan. Pokoknya dulu aku pernah mengenalnya. Berarti aku sudah kenal terlebih dahulu dengan Shinta daripada si Ramawijaya itu.” Ia mengelak.

“Lha goblog. Kan dulu? Sekarang kan sudah istrinya Ramawijaya. Lagian dulu kamu juga sudah ditolak.”

“Aku dulu ditolak karena belum sakti dan kaya raya. Kalau sekarang?”

“Ramawijaya kurang kaya gimana coba? Ganteng pula, sakti juga iya. Cakep, gagah. Lha kamu? Mau pergi aja bingung bagaimana menata wajah dan muka.” Saya tertawa.

Hasshhhprek. Ramawijaya itu goblog, tak kandhani.” Rahwana menampakkan ekspresi wajah serius.

“Kok bisa?” Penasaran juga.

“Punya istri cantik, idola, lembut, bisa diajak guyon, pintar menyenangkan hati, tapi disia-siakan. Tiap hari ditinggal mancing. Kalau ga mancing ya ditinggal mbedhil manuk. Kalau ga mbedhil manuk ya malah ditinggal genit sama cewek-cewek lain. Ramawijaya itu selain goblog, bajingan juga.” Rahwana bersungut-sungut.

“Sik-sik. Kok kamu tahu?”

“Shinta sendiri yang cerita kok.”

“Weh, kapan kamu ketemu Shinta?” Saya penasaran, jangan-jangan Rahwana hanya membual saja.

“Itu, kalau ketemu pas ada ndangdutan atau nonton jathilan. Shinta sering curhat.” Rahwana menjelaskan.

“Woalah, Shinta curhat?” Saya berusaha meyakinkan pernyataannya.

“Iyo, kowe mulai budheg po?” Rahwana mendelik matanya.

“Iyo, aku krungu. Terus?”

“Ya nek curhat gitu seringnya sambil makan cilok atau slondok. Tak belikan cilok atau slondok, sambil minum es degan hasil ngompas bakul di tontonan itu.” Rahwana cengengas-cengenges.

“Wooo lha asu. Lagi iso nukokne slondok karo es degan kompasan we kok wis wani naksir. Gek Shinta ki bojone Ramawijaya. Wong sugih mblegedhu.”

“Sugih nek ra nduwe rasa katresnan yo nggo ngopo Su?” Rahwana kembali mendelik.

“Haashhhh sak karepmu nyet.” Saya gantian yang pergi waktu itu.

Rahwana itu lucu ga pakai ukuran. Apa yang disampaikannya kepada saya pun demikian, perihal Shinta itu. Rahwana hanya menjalani takdirnya. Terlepas bahwa seharusnya ia bisa memilah dan memilih sikap, itu juga sudah menjadi kodrat akal dan pikirannya.

Namanya juga Rahwana, yang jelas ia lucu. Terkadang jauh lebih lucu dari Gareng si penceng keparat yang tiap kali ada masalah lebih memilih lari bersembunyi untuk bersemadi.

Hoalah…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *