Rembang

Ini tulisan yang terlambat sebenarnya. Saya tulis justru setelah kembali tiba dirumah, dan tidak saya tuliskan ketika masih berada di Rembang.

Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan menuju dan kembali dari Rembang adalah perjalanan terjauh saya dengan menggunakan sepeda motor. Ketika berangkat, sekira empat jam saya habiskan untuk memanaskan pantat diatas jok sepeda motor. Ketika pulang, lebih lama satu jam daripada ketika berangkat saya harus memaksa pantat untuk tak lekas matang karena kepanasan.

Ketika membaca surat tugas dan mendapati diri saya harus berangkat ke Rembang, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka peta. Iya peta. Peta virtual tentu saja. Prediksi mengenai jarak tempuh menuju Rembang dari rumah saya yang disampaikan oleh peta virtual itu seketika membuat badan saya pegal-pegal. Sekira empat jam sampai dengan lima jam perjalanan menggunakan sepeda motor.

Yang membuat badan seketika terasa pegal adalah pertanyaan : Apakah raga yang mulai menua ini akan mampu menjalaninya?

Alhamdulillah, masih mampu. Meski tentu saja putaran gas tak lagi trengginas seperti sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Baeklah, yang terpenting bahwa badan saya masih mampu meski dengan pantat setengah matang.

Ketika membaca surat tugas ke Rembang, setelah membuka peta dan merasakan pegal-pegal di badan, yang selanjutnya terpikirkan membuat badan saya kembali terasa segar. Saya ingin menemui Kyai Haji Mustofa Bisri, lebih karib di media dengan panggilan Gus Mus. Nah.
Gus Mus adalah alasan saya bersemangat menuju Rembang. Saya ingin sowan dan mencium tangan beliau. Hal itu didasari bahwa dalam beberapa tahun terakhir, beberapa kali saya bermimpi bertemu beliau.

Bahkan dalam salah satu mimpi, saya berada disuatu kokpit pesawat bersama Gus Mus, dan kami menerbangkan pesawat bersama. Mimpi itu sangat berkesan, dan membuat saya begitu ingin bersua muka dengan beliau, bahkan jika sekadar untuk mencium tangan tanpa berbicara.

Lantas, apakah kesampaian untuk bertemu beliau?
Tidak!

Padahal selama enam hari saya selalu lewat jalan di dekat pondok pesantren beliau. Kenapa saya tidak sowan?

Jika anda mengikuti blog ini, mengikuti tulisan-tulisan saya, tentu anda paham kenapa pada akhirnya saya tidak berani sowan beliau. Beberapa kata saja untuk mempersingkat : saya merasa tidak pantas sowan beliau.

Untung saja rasa sungkan untuk sowan Gus Mus itu muncul ketika saya sudah berada di Rembang. Sehingga dalam perjalanan berangkat saya tetap sangat bersemangat.

Menggagalkan niat diri sendiri untuk sowan Gus Mus tentu menimbulkan percik kekecewaan, dan harus saya obati. Obat tentu saja bersifat sementara. Sampai saya membuat tulisan ini, masih ada rasa sesal kenapa tidak menepis rasa malu dan memberanikan diri sowan beliau. Ah ya sudahlah.

Obat pertama adalah ladang garam. Gambarnya secara sederhana saya tampilkan diatas. Seumur hidup, baru kali ini saya melihat ladang garam dari dekat, secara langsung tanpa perantara layar media. Dan, ladang garam itu terlampau mengesankan.

Bagaimana air laut itu dialirkan dalam kotak-kotak lahan, ‘digoreng’ menggunakan keahlian tertentu yang berpadu dengan sinar matahari dan kemudian mengkristal, membuat saya takjub. Dari lahan-lahan itulah masakan saya tidak terasa hambar.

Ketakjuban lain dari lahan garam itu adalah : bahwa pemerintah masih melakukan impor garam. Iya, impor!
Ditengah luasnya laut dan garis pantai.
Tentu saja dengan berbagai alasan. Karena hanya sebagian kecil dari garis pantai Indonesia bisa untuk bertani garam, dan juga karena metode pertanian garam di Indonesia masih tradisional sehingga kualitasnya tidak cukup baik untuk memenuhi standar industri.
Kenapa tidak difasilitasi?

Obat kedua adalah makanan. Beberapa makanan khas Rembang, dan daerah sekitarnya. Ada Lontong Tuyuhan, Soto Kemiri, Nasi Gandul, dan banyak lagi. Tak usah saya rinci dan sebutkan satu per satu. Yang jelas, enak. Sangat enak malah. Mungkin karena garamnya.

Obat ketiga adalah kejadian-kejadian mistis dan sedikit horor yang saya alami. Tak usah saya rinci satu per satu, nanti malah jadi cerpen misteri. Saya ceritakan secara singkat saja salah satunya. Bahwa pada suatu malam, resto tempat saya menginap menerima panggilan dari kamar saya yang menyatakan bahwa ‘saya’ memesan makan malam. Padahal, saya tak pernah memesan makan malam termaksud. ‘Bakmi goreng yang jangan terlalu asin’ katanya. Jadilah setelah itu saya tak pernah memesan bakmi goreng.

Kejadian misterius itu setidaknya menjadi juga semacam obat bagi saya. Mulut saya harus komat-kamit membaca doa dan mantra, serta pikiran saya memikirkan cara bagaimana agar supaya panggilan telepon misterius itu tak terulang kembali. Kasihan petugas dan pegawai pada tempat saya menginap. Bagaimana kalau suatu kali panggilan telepon misterius itu memesan makanan dalam jumlah banyak? Kan ya mubadzir kalau tidak termakan dan hanya terbuang sia-sia. Maka saya harus berpikir keras bagaimana agar tak ada lagi penggilan misterius. Saya temukan cara, doa, dan mantranya. Tetapi tidak untuk saya bagi disini, terlalu sufistik cara itu. Nanti saya dikira sombong?!

Obat keempat adalah, keramahan penduduk dan warga Rembang, terutama mereka yang bersentuhan dan berinteraksi secara langsung dengan saya. Khususnya guru di lingkungan Kemenag Kabupaten Rembang, dan juga para pegawai dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang. Luar biasa.
Sungguh luar biasa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari mereka semua, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Tentu saja saya belajar dari siapa saja, apa saja, dan dimana saja. Dan jujur, baru kali ini saya belajar sedemikian rupa mengenai beberapa hal berkait dengan kehidupan. Obat keempat menjadi cukup mujarab bagi saya. Setidaknya, saya menemukan pencerahan dalam suatu sisi kehidupan yang selama ini masih gelap adanya.

Meski saya menemukan dan menelan empat obat, dan mungkin beberapa obat lain yang saya alpa menuliskannya, tetap saja masih tebersit rasa kecewa karena gagal untuk sowan Gus Mus.

Tetapi bukankah demikian kehidupan? Tak mesti setiap rencana dan angan yang ada dalam pikiran kita harus terwujud, bukan?

Bukankah hidup dan kehidupan memang harus memercikkan kekecewaan-kekecewaan, entah dari diri kita sendiri ataupun sebab dari luar diri kita.

Kekecewaan itu datang dan ada bukan untuk membuat kita kecewa, melainkan agar kita banyak belajar dan berkontemplasi. Agar kita lebih banyak mempersiapkan diri untuk mengolah kekecewaan, daripada membuat banyak perencanaan.

Salah? Ya sudahlah…

Sampai jumpa lagi, Rembang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

31 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *