Renta, Kurang Olahraga

Beberapa waktu terakhir, selama lebih kurang enam bulan terakhir, saya merasa tubuh begitu ringkih. Gampang merasa pegal, dan gampang terasa sakit.

Sialnya, sakitnya luar dalam.

Kadang di otot, kadang di hidung. Paling banyak, saya seperti merasa flu.

Ketika kemudian saya ingat-ingat, selama enam bulan terakhir saya kurang berolahraga. Bukan hanya kurang, memang tak pernah berolahraga. Sebelumnya, saya rutin fitnes. Angkat beban, angkat-angkat masalah.

Tapi enam bulan terakhir ini, tak ada olahraga yang saya jalani secara rutin. Paling cuma push up, atau pull up. Dan ternyata, kurang.

Sepertinya setting tubuh saya sudah sedemikian rupa dimaksudkan untuk banyak bergerak, banyak mengolah raga. Bukan hanya duduk sembari nyengoh melamun.

Sebenarnya agak menyesal juga meninggalkan rutinitas fitnes yang sudah berjalan cukup baik, meski fitnesnya juga asal-asalan dan iseng saja. Gerakannya itu-itu saja, alat yang dipakai juga selalu sama. Semata agar badan bergerak, dan itung-itung pemanasan buat gelut sama McGregor. Eeee lha kok malah McGregor sudah gelut duluan sama Khabib.

Ya sudah, semangat fitnes jadi berkurang….

Semenjak jarang berolahraga itu, tubuh saya jadi terasa renta. Terasa kurang segar, jarang merasa bugar. Kena angin sedikit, nggregesi. Kena angin agak banyak, ambyar.

Dulu ketika rutin lari pagi, selepas sholat subuh dan sebelum sarapan, tubuh saya terasa anti-sakit. Jarang merasa sakit, dan jarang dihinggapi penyakit. Selama lebih dari empat tahun rutin berolahraga, tak sekalipun saya pernah sakit, apalagi kalau cuma flu. Bahkan terhitung cuma sekali sakit, tetapi demam berdarah, sampai opname, terkapar, pucat, kalau malam sering lihat penampakan di rumah sakit milik pemerintah itu….
Tetapi kan ya kalau demam berdarah hampir tak ada hubungannya sama jarang olahraga, dasar nyamuk aedes aegypti-nya saja yang keganjenan dan nyipok saya. Jadilah hampir mampus karena demam berdarah….

Tetapi kini, tubuh saya terasa ringkih. Gegara kurang berolahraga itu tadi.
Eh tapi, meski terasa ringkih, masih berani juga kalau cuma meladeni ulama abal-abal yang mukuli anak kecil itu. Di ring octagon juga boleh kalau perlu.

Padahal olahraga yang saya lakukan ya ringan-ringan saja. Lari itu tadi, atau sekadar jalan kaki. Yang penting bergerak, dan memakai sepatu biar terlihat sedikit gaya. Tetapi yang ringan-ringan itu, jelas saya rasakan manfaatnya ketika rutin dilakukan, dulu….

Menurut penelitian, kurang bergerak bisa meningkatkan berbagai resiko kesehatan yang berbahaya, bahkan juga kematian. Resiko kesehatan itu antara lain hipertensi, serangan jantung, dan bahkan serangan penyakit psikologis seperti resah, gelisah, dan stres. Setidaknya begitu hasil penelitian yang saya kutip dari beritagar.id

Baru sebulan yang lalu saya terserang flu. Hidung saya tak henti mengeluarkan lendir yang terkadang berwarna hijau kental, tetapi terkadang berwarna bening agak encer. Belum lagi kalau terkadang membuat tersedak. Sial betul.
Dan per hari ini ketika saya menulis ini, hidung saya sudah kebali terasa panas, gejala flu lagi. Apa-apaan ini, dasar manusia ringkih dan rimih. Lubang hidung sebelah kanan tersumpal lendir yang tak lancar keluar. Sial double, sedangkan awal bulan seperti ini pasti akan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Satu-satunya hal yang memang pantas untuk dijadikan kambing hitam atas ringkihnya raga saat ini, karena kurangnya bergerak dan berolahraga.

Jika dipersamakan dengan suatu benda, mungkin badan saya ini laiknya sepeda onthel tua. Terus menuntut untuk dipakai, agar tak berkarat dan tetap bisa berjalan serta berguna.
Dan ketika terlalu lama dibiarkan diam saja tanpa dipakai beraktifitas, akan banyak karat dan kerusakan.
Tentu saja, memperbaiki kerusakan sepeda onthel tua, jauh lebih sulit dan jauh lebih rumit.

Maka memang seharusnya raga yang hampir serupa dengan sepeda onthel tua seperti ini, harus sering dipakai. Tak usah dipakai beraktifitas terlampau berat, yang sedang saja, asal tetap terkayuh. Jangan juga coba dipakai untuk downhill, bisa ambyar dan hancur lebur.
Rangka sepeda tua seperti ini, harusnya dipakai untuk berkayuh santai, konstan, dalam jalan datar dengan pemandangan hijau pada kiri kanan jalan.
Tak usah terlampau jauh juga jarak yang harus ditempuh, asal rutin terkayuh.

Kurang bergerak, berolahraga, dan kemudian terserang flu dengan lendir yang membikin gatal di lubang hidung, jauh lebih membuat tak nyaman daripada dikejar banyak deadline pekerjaan.

Seharusnya resolusi paling tepat untuk menghadapi tahun 2019, adalah resolusi gerak, resolusi berolahraga, resolusi mengayuh tubuh agar tak lekas menjadi renta.

Tapi ya bagaimana, sebagai manusia, terkadang hanya besar di omongan saja. Sadar kurang bergerak dan berolahraga kalau sedang dihinggapi flu. Kalau pas sehat, sedang baik-baik saja, merasa kalau tak usah berolahraga pun….tubuh akan baik-baik saja.

Ah ya, dasar manusia. Hanya saya aja dink….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.