REUNI SEKOLAH : JANGAN MENYERTAKAN KELUARGA

Dari asal kata saja, reuni berarti bersatu kembali. Dari dua kata, ‘re’ dan ‘uni’, bersatu kembali. Bersatu kembali dalam artian dan dengan maksud serta tujuan tertentu. Berkumpul kembali bersama teman, kawan, sahabat, sejawat, khususnya semasa sekolah. Berkumpul untuk mengenang, bercerita, mengulang guyonan serta canda semasa duduk di bangku sekolah. Berbagi pisuhan serta ejekan, atau juga berbagi kenangan. Bukan bersatu kembali dengan mantanmu, apalagi jika kamu sudah berkeluarga.

Dari paragraf diatas, jelas kiranya kalau keluarga bukanlah bagian untuk disertakan dalam acara reuni, bukan?
Kecuali tentu saja kalau pasangan, suami, atau istrimu berasal dari satu sekolah yang sama.

Reuni adalah tempat bertemunya keping-keping dari masa lalu, yang tersebar dan berserak dalam langkah waktu di masa kemudian. Jika kemudian bertemu, bersua, berjumpa kembali dan berkumpul, maka itu adalah bersatunya fragmen sejarah yang lebih serupa mitos. Dan keluarga, adalah bagian dari kita yang berasal dari masa depan, bukan dari masa ruang dan waktu yang sama dengan ‘dimensi’ reuni. Kita, tidak mungkin membawa keping dari masa depan untuk kemudian bersatu menjadi bagian dari fragmen sejarah di masa lampau. Apalagi untuk ikut larut, percaya, menikmati mitos-mitos yang tergambar di masa lalu.

Mungkin kekhawatiran terbesar untuk tidak menyertakan keluarga di dalam acara reuni, adalah adanya kecenderungan dari pelaku reuni untuk ‘berbelok’ dari tujuan awal. Salah satunya mengenai kecenderungan untuk mengulang kisah-kisah romansa semasa sekolah.

Tetapi sekali lagi, perlu ditegaskan mengenai tujuan awal dari dihelatnya suatu acara bertajuk reuni. Jika acara bertujuan untuk melepas penat berkangen ria dengan kawan-kawan lama, maka seharusnya tak ada keluarga, entah itu istri, suami, atau anak-anak. Tetapi jika reuni bertujuan untuk mengenalkan masing-masing anggota keluarga kepada kawan-kawan lama, maka sebaiknya memang menyertakan istri, suami, dan juga anak-anak, yang tentu saja kemudian tajuk acara diganti bukan lagi reuni, tetapi arisan keluarga.

Untuk anda yang merasa khawatir bahwa masing-masing pasangan akan berbelok dari tujuan awal reuni, misalnya saja khawatir Ci-LuK-Ba dengan mantannya, nanti di akhir tulisan saya berikan tips jitu mengatasinya.

Sekarang kita kemukakan dulu alasan mengapa reuni jangan sampai membawa keluarga.

Pertama, tentu ketika dua orang sahabat kental semasa sekolah bertemu, ada semacam keinginan untuk menyapa sahabatnya dengan panggilan karib masa itu ;
“Hoe asuuu, piye kabare? Tak kiro wis modyar???”

Dan, yaaa, tentu saja mereka tak ingin tiba-tiba ada suara yang menyahut ;
“Yah, mana asunya yang modyar?”
Dari anak-anak mereka, yang masih duduk di bangku SD, atau TK.

Jika keberanian untuk sejenak saja meyakinkan anggota keluarga bahwa reuni akan membawa dampak yang lebih baik bagi keadaan jiwa kita setelahnya, yaa ndak usah repot-repot reuni. Meyakinkan istri atau suami untuk reuni saja tidak berani, apalagi melawat pergi ke masa lalu, yang tentu saja tak mesti kenangan indah atau menyenangkan yang ada di dalamnya.

Kedua, masa sekolah bukan masa yang sepenuhnya indah dan menyenangkan, apalagi di dalam gudang ingatan yang perlahan melapuk tua. Beberapa ingatan dan kenangan semasa sekolah bahkan ingin dikubur dalam-dalam, dan dilupakan, bagi sebagian orang. Entah itu kenangan dan benturan ingatan dengan dirinya sendiri, lingkungan, atau bahkan ingatannya dengan kawan-kawan. Tak semuanya berlalu dan berlangsung dengan indah serta menyenangkan.

Apalagi bagi beberapa orang yang semasa sekolah termasuk dalam kategori ‘anak cupu’, dan dahulu sering menjadi sasaran ejek serta bullying dari kawan-kawannya. Tentu saja reuni adalah ajang pertaruhan untuk kembali menyeimbangkan ingatan agar tak terlalu kelam, dan suatu cara untuk membuktikan diri bahwa ia bukanlah lagi ‘anak cupu’ yang layak untuk dibully.

Menghadapi ingatan serta kenangan yang cukup kelam perihal bullying, adalah pekerjaan yang tidak mudah. Saya sendiri sampai saat ini masih menghindari acara reuni SMP, karena pernah mendapat bullying yang cukup parah. Menghadapi kondisi dan situasi untuk menetralkan ingatan agar sedikit lebih cerah tak terlalu kelam, terkadang akan lebih sulit jika dengan membawa seseorang dari masa depan yang tidak tahu menahu mengenai masa lalu.

Situasi canggung dan serba tak mengenakkan akan tersaji ketika ;
“Dab, sorry ya mbiyen kowe tau tak antemi.”
Kata seorang kawan sekolah yang dulu cukup nggentho dan pernah memukuli kita.

Mendadak situasi akan semakin tidak menyenangkan ;
“Lhoh? Kok diantemi?”
Tanya istri, atau,

“Ayah diantemi?”
Kata si anak.

Po raa, modyar.

Apalagi jika kita, anda, termasuk orang yang rapat menyembunyikan masa lalu, dari sepengetahuan keluarga.
Alih-alih menyelesaikan persoalan, berdamai dengan ingatan, bersalaman dengan orang yang kita taburi dendam, situasi akan bertambah runyam dengan kehadiran pasangan.

Tak ada salahnya mengadakan acara reuni dengan membawa keluarga. Tetapi menjadi kurang tepat apabila hal itu membuat ziarah ke masa lalu, proses berdamai dengan kenangan, menjadi tidak lancar dan tertahan.

Reuni menjadi ajang untuk kembali berbagi serta bertukar pisuhan dengan kawan-kawan. Menjadi ajang untuk sekadar tertawa ketika mengingat pernah bersama-sama menaksir mas ganteng ketua OSIS, mengejar mbak cantik ketua kegiatan ekstrakurikuler, atau sama-sama pernah makan gorengan lima bayar dua.

Kiranya dua hal yang sedikit dijabarkan itu mampu menjadi sedikit alasan penguat untuk tak membawa keluarga, atau menyertakan keluarga, dalam acara reuni. Bukan lantas hal itu diartikan sebagai suatu alasan untuk menepikan keluarga, pasangan, atau menyembunyikan sesuatu daripadanya. Tetapi karena reuni bisa jadi adalah ruang privat yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang dari masa ruang dan waktu saat itu, bukan oleh orang dari masa ruang dan waktu kemudian.

Terkadang ada hal-hal yang tak bisa diterima, atau dimengerti, oleh keluarga atau orang-orang yang bukan merupakan bagian masa lalu kita dalam reuni. Hal tersebut akan membuat suasana menjadi canggung, dan lebih serupa seperti arisan keluarga.

Cukuplah itu saja yang menjadi suatu alasan, tak perlu alasan lain lagi karena pada garis besarnya, hal-hal mendasar sudah tersampaikan.

Oh iya ada yang hampir terlupa, perihal kekhawatiran terhadap pasangan anda jika mengikuti acara reuni.
Apakah ia akan berbelok jauh dan mengalami CLBK Dengan mantannya. Reuni berlanjut pada deret-deret pesan di WA, dan lain sebagainya. Jika anda temui pasangan anda berlanjut berbagi pesan dengan mantannya, mesra-mesraan, dan lain-lain lagi yang membuat anda gusar serta kecewa, simak saran berikut ini.

Baeklah :
1. Banting hape pasangan anda,
2. Bakar hapenya,
3. Bandem pasangan anda dengan piring, gelas, wajan atau panci,
4. Selesaikan di Pengadilan Agama,
5. Diamkan pasangan anda selama beberapa bulan atau beberapa tahun,
6. terakhir, kalau anda tak mampu melakukan lima hal diatas : Belilah paket kesabaran di counter-counter dan pengecer terdekat.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

  1. I’m just commenting to let you be aware of of the fabulous discovery my cousin’s daughter experienced going through your site. She even learned lots of issues, most notably how it is like to have a very effective giving mindset to have many others just gain knowledge of chosen complicated issues. You actually did more than my desires. I appreciate you for delivering such good, dependable, edifying and also cool guidance on that topic to Ethel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *