Rindu Sleman

Kamis [28/11/2019] kemarin saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang teman di Jogja Lantai Dua. Isi pesannya :

“Mbok menowo kowe kangen Sleman.” [Siapa tahu kamu kangen Sleman].

Dengan disertai sebuah gambar sederhana berupa tangkapan layar berisi tulisan. Gambarnya saya lampirkan di bawah ini.

Tentu saja pesannya saya balas dengan lugas, dan jujur. Saya selalu jujur tentang perasaan. Saya balas begini :

“Sleman e aku kangen, sik ra kangen ki karo …-sensor-…Sleman.” [Aku selalu kangen Sleman, yang tidak aku kangeni adalah….Sleman]

Kata yang saya sensor adalah sebuah perwujudan gedung. Sudah itu saja, ndak usah diperpanjang.

Kawan saya itu membalas dengan sebuah pisuhan, saya pun membalasnya lagi juga dengan pisuhan. Bagi kami [saya terutama], misuh adalah sebuah cara sederhana untuk menunjukkan bahwa kami bahagia. Untuk menunjukkan kebahagiaan dengan cara membangun rumah megah, membeli mobil baru, atau piknik ke tempat-tempat mahal, jelas saya tidak mampu. Maka guyon, bercanda, dengan bumbu misuh adalah cara sederhana bagi saya untuk menunjukkan sebuah ekspresi kebahagiaan.

Lebih jelasnya mengenai hal itu, akan saya tuliskan lain waktu. Sekarang saya akan menuliskan mengenai Sleman itu. Tentang rindu yang memburu.

Kawan saya itu memang tipikal kawan dengan senyum yang malu-malu asu, tipikal kawan yang apa adanya, meski terkadang pandangannya sangat subyektif, bahkan ketika menilai orang lain. Maka ketika ia mengirimkan gambar dan pesan itu, saya menjadi paham bahwa ia sedang menggoda. Ia tahu bahwa saya begitu mencintai Sleman, tanah kelahiran dan tanah tumpah air mata.

Bagi saya Sleman bukan tanah tumpah darah. Darah saya tak pernah tumpah di Sleman, dan saya juga belum pernah menumpahkan darah di Sleman. Kalau menumpahkan air mata, sebegitu seringnya. Maka Sleman adalah tanah tumpah air mata bagi saya.

Begitu dalamnya.

Saya selalu merindukan Sleman bahkan jika itu hanya semrawutnya baliho dan reklame iklan di seputar Jalan Kaliurang atau Condongcatur. Saya pun begitu merindukan Sleman bahkan jika itu hanya semrawutnya pembangunan hotel dan perumahan. Sungguh saya merindukannya, dan selalu merindukan itu.

Maka ketika dari Banteran menuju Piyungan sore tadi [29/11/2019], saya sengaja lewat perempatan Ringroad x Jalan Kaliurang. Yang sedang dibangun terowongan bawah tanah, yang pada sore atau pagi hari macetnya lebih keterlaluan daripada mimpi pipis ketika tidur.

Saya hanya ingin sekadar merasakan (kembali) macet di daerah itu. Setelah sekian lama tak melewatinya, dan saya tertinggal informasi sudah sampai sejauh mana pembangunannya.

Masih macet, namun tak separah macet di daerah Srondol-Banyumanik Semarang, atau macet sore hari di kawasan pabrik Bawen.

Memang masih macet, namun tetap saja saya merasakan degup jantung yang tak ruwet. Saya nyaman melewati kemacetan itu, hampir senyaman ketika saya menghabiskan waktu duduk di teras rumah Banteran.

Saya hampir selalu merindukan Sleman, pada tiap kenangan yang tergambar di dalam ingatan.

Untuk itulah sebenarnya saya pergi, untuk bekerja di Semarang. Agar saya bisa merindukan Sleman, dalam tiap baik buruknya, atau kurang lebihnya.

Rindu akan menjadi semacam stalagtit atau stalagmit indah, yang hanya bisa terbentuk oleh terpisahnya jarak serta juga waktu.

Dengan mengambil jarak dari Sleman, membingkainya dengan waktu yang tipis, maka saya mempunyai semacam lukisan indah terhadapnya. Saya menjadi mempunyai alasan untuk mencintai Sleman dengan tanpa alasan.

Bukankah puncak dialektika cinta antar dua entitas atau lebih, adalah ketika sudah hilang berbagai alasan untuk saling mencinta? Ketika tak diperlukan lagi alasan-alasan, untuk tetap saling mencintai dan merindukan.

Bukankah mencintai dan menghormati sesama manusia adalah hanya karena seharusnya memang sesama manusia saling mencintai dan menghormati? Bukan karena harta, tahta, pangkat, kedudukan, atau juga berbagai status duniawi yang tersemat sementara?

Sleman adalah tempat yang akan selalu saya rindukan, baik udara maupun suasananya. Baik tanah maupun airnya. Tempat yang saya akan dengan rela mengusapkan tanahnya ke sekujur tubuh dan wajah.

Suatu saat, saya akan kembali ke Sleman. Saya sudah berjanji terhadap diri saya sendiri. Tetapi suatu saat itu kapan, tak jelas benar perjanjiannya. Ahahaha…

Yang jelas, saat ini saya sedang menikmati Sleman yang indah dari kejauhan. Seperti menikmati menatap gunung dari jauh. Menatap biru warnanya, serta lekuk indah yang memang hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Saya sedang menikmati Sleman seperti juga ketika saya menikmati memandang laut dari tepi pantai, atau dari atas tebing yang curam.

Gunung, seperti halnya laut, terkadang tak bisa kita nikmati keindahan warna dan segala misteri ketika kita berada di dekat atau didalamnya.

Saya saat ini sedang menikmati Sleman, dengan segala rindu yang memburu, dari sebuah kota yang membuat saya nyaman, Semarang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

  1. I’ve been surfing online more than 3 hours today,
    yet I never found any interesting article like yours.
    It is pretty worth enough for me. In my opinion, if all
    website owners and bloggers made good content as you did, the web will be much more useful than ever before.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *