Rute Bersepeda Favorit Seputar Jogja Tahun 2020

Kalau boleh sedikit hiperbola, maka bisa disebut bahwa tahun 2020 adalah tahun ‘neraka’. Neraka bagi yang merasa bahwa ini adalah neraka. Tetapi dalam konsep kehidupan dunia, perihal neraka-surga adalah tentang pemahaman dan penerimaan masing-masing manusia. Bisa jadi bagi satu manusia adalah neraka, tetapi bagi manusia lainnya adalah surga. Bisa jadi bagi satu manusia berasa seperti surga, bagi manusia lainnya berasa seperti neraka.

Contoh mudahnya adalah udara sejuk cenderung dingin. Bagi sebagian manusia, mungkin berasa seperti surga karena udara sejuk dingin cenderung menyegarkan. Tetapi bagi yang alergi dingin tentu saja terasa bagaikan neraka.

Tak ubahnya situasi pandemi Covid-19. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah situasi neraka, tetapi bagi yang lainnya bisa jadi ini adalah situasi surga. Tidak percaya? Tanyakan saja pada produsen masker dan alat-alat kesehatan atau produk medis lainnya termasuk produsen multivitamin. Ini adalah tahun surga. Tahun ini penjualan produk mereka melompat jauh dan menghasilkan margin keuntungan berlipat ganda. Ya to?

Nah, bagi saya, situasi tahun ini adalah situasi neraka yang saya nikmati sebagai surga. Jadi saya memang merasa berada ditengah neraka, namun dengan udara sejuk menyegarkan. Tetapi juga tak lantas mutlak saya merasakan kesejukan, karena sedang berada ditengah neraka. Bingung kan?

Begini mudahnya : meski sulit, saya tak mutlak menganggap situasi semacam ini sebagai kesulitan. Bahkan ada banyak hal positif saya dapatkan dari situasi pandemi ini.

Salah satunya adalah bersepeda.

Tanpa adanya pandemi ini, saya tidak akan bisa bersepeda. Tanpa bersepeda, saya tidak akan mendapatkan banyak manfaat dan banyak hal lain yang menyenangkan dalam aktifitas didalamnya. Selain secara fisik merasa lebih sehat, dengan bersepeda pikiran saya juga terasa lebih fresh. Tanpa situasi pandemi, tahun ini saya akan lebih banyak tenggelam diantara tumpukan kertas dan layar komputer atau laptop menyuntuki pekerjaan.

Situasi pandemi membuat saya mendapatkan jadwal bekerja secara Work From Home [WFH] selama tiga bulan penuh. Tiga bulan, dan bisa jadi saya akan mati gaya tanpa bersepeda.

Tiga bulan benar-benar saya gunakan sebaik-baiknya untuk aktifitas yang tidak bisa saya lakukan andai bekerja dikantor. Bersepeda adalah salah satunya dan tentu saja menjadi yang paling utama. Tetapi tentu saja saya hanya bersepeda di sekitar tempat tinggal saja. Dan meski hanya berada di sekitar tempat tinggal saja, ternyata jika dilalui dengan bersepeda, rute-rute itu cukup menyiksa.

Bagi anda yang suka bersepeda, atau sedang mencoba menyenangi aktifitas bersepeda, semoga rute favorit saya dibawah ini akan semakin membantu anda menyukai aktifitas bersepeda. Rute yang pas dan cukup ringan bagi pemula seperti saya yang hanya mengandalkan sepeda lipat seharga 900 ribu rupiah, dan masih mendapat bonus pemandangan indah sepanjang perjalanan.

Piyungan-Patuk-Nglanggeran

Tentu saja Piyungan yang saya maksud adalah dari rumah tempat tinggal saya. Bukan Piyungan sisi paling barat, atau titik terjauh dari Patuk. Rumah saya cukup dekat dengan titik awal naik ke Patuk. Naik ke Patuk dari arah kota Yogyakarta atau Prambanan dimulai dari pertigaan bangjo jalan Wonosari. Nah, ketika didepan anda mulai tersaji bukit panjang menjulang seperti benteng Takeshi, itulah bukit Patuk nan legendaris.

Kalau anda sering bepergian ke Gunungkidul dari arah kota Yogyakarta atau Prambanan melewati pertigaan bangjo jalan Wonosari, berarti Anda sudah sering melewati salah satu rute bersepeda favorit saya. Tanjakannya tak terlalu curam, kelokannya tak terlalu tajam, tetapi cukup untuk menguji panjangnya nafas dan otot kaki anda. Ditanjakan ini, kalau anda bisa mengatur nafas dengan cukup baik, jantung anda takkan bekerja terlampau keras.

Pada hari Sabtu atau Minggu banyak pesepeda dari seputaran Yogyakarta yang naik ke Patuk. Disitulah asyiknya. Karena ketika bertemu pesepeda asal-asalan, yang asal pancal pedal dan asal nekat, kita akan bisa melirik dan melemparkan senyum berhiaskan ejekan ketika menyalipnya ditanjakan. Jangan salah, saling ‘mengejek’ oleh sesama pesepeda ketika kewer ditanjakan adalah hal biasa, bahkan sangat lazim dan lumrah.

Kuatkanlah mental ketika suatu saat ganti kita yang mendapatkan senyum ejekan ditanjakan. Saya pun sering mendapat lirikan serta senyum ejekan itu ketika berada ditanjakan, hahaha…

Naik ke Patuk, diseputar Hargo Dumilah anda akan mendapatkan pemandangan legendaris yang kemudian lazim disebut sebagai Bukit Bintang. Bolehlah berhenti sejenak untuk mengambil foto bersama sepeda. Abaikan saja andai sebelum sampai disana sepeda hanya anda dorong karena sudah tak kuat mengayuh, yang penting fotonya kan? Hahaha

Sampai diperempatan puncak Patuk, ambil arah ke kiri menuju Nglanggeran. Jalanan tersaji dengan kualitas aspal sangat baik. Sepanjang Patuk-Nglanggeran, pemandangan yang disajikan oleh semesta tak kalah indahnya. Apalagi ketika sudah sampai di desa Ngoro-oro, tempat stasiun televisi nasional menancapkan menara pemancarnya untuk memberi sinyal siaran pada daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Pemandangannya sangat bagus, dan kalau anda beruntung ketika cuaca cerah, Gunung Merapi akan bisa dilihat dengan jarak yang tak terlampau jauh. Seperti hanya berjarak sepelemparan sandal. Disini, silahkan berhenti untuk banyak-banyak mengambil foto.

Dari Ngoro-oro sampai ke Nglanggeran, anda akan otomatis sampai bahkan jika sambil melamun, karena jaraknya yang memang sudah sangat dekat. Sampai Nglanggeran, silahkan sarapan dengan sepuas hati, banyak warung yang buka sedari pagi. Oh ya jangan lupa, pesan juga semangkuk atau sepiring es batu untuk mengompres kaki anda.

Piyungan-Makam Raja-raja Imogiri

Ini adalah rute yang sangat-sangat ringan, bahkan jika anda jarang bersepeda. Hanya jaraknya saja yang sedikit lebih jauh daripada Piyungan-Nglanggeran. Meski sedikit lebih jauh